Google+ Followers

Wednesday, January 24, 2018

Bacaan Liturgi 24 Januari 2018 Hari Biasa, Pekan Biasa III PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja. KASIH SETIA. Burning embers.

Do not be afraid to take a chance on peace.

* Bacaan Liturgi 24 Januari 2018. Hari Biasa, Pekan Biasa III.

PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja

KASIH SETIA.

* Burning embers that will set alight each heart they come into contact with

#


_"Do not be afraid to take a chance on peace, to teach peace, to live peace... Peace will be the last word of history." - Pope John Paul II_

"Janganlah takut untuk mengambil kesempatan untuk berdamai, untuk mengajarkan perdamaian, untuk hidup damai... Perdamaian akan menjadi kata terakhir dalam sejarah." - Paus Yohanes Paulus II

_Have a peaceful Wednesday!_
Jan 24, 2018

#


Bacaan Liturgi 24 Januari 2018

Hari Biasa, Pekan Biasa III
PW S. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan Pertama
2Sam 7:4-17
Aku akan membangkitkan keturunanmu,
dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.

Pembacaan dari Kitab Kedua Samuel:


Waktu itu Raja Daud ingin mendirikan rumah bagi Tuhan.
Maka datanglah sabda Tuhan kepada Natan, demikian:
"Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud:
Beginilah firman Tuhan:
Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku?
Tidak pernah Aku diam dalam rumah
sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini,
tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.
Selama Aku mengembara bersama-sama seluruh orang Israel,
pernahkah kepada salah seorang hakim orang Israel,
yang Kuperintahkan menggembalakan umat-Ku,
Aku bersabda:
Mengapa kamu tidak mendirikan bagi-Ku rumah dari kayu aras?
Oleh sebab itu, katakanlah begini kepada hamba-Ku Daud:
Beginilah sabda Tuhan semesta alam:
Akulah yang mengambil engkau dari padang,
ketika menggiring kambing domba!
Engkau Kuambil untuk Kujadikan raja atas umat-Ku Israel.
Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani,
dan telah melenyapkan segala musuhmu dari hadapanmu.
Aku membuat besar namamu
seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi.
Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya,
sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri
dengan tidak lagi dikejutkan atau pun ditindas
oleh orang-orang lalim seperti dahulu,
sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel.
Aku mengaruniakan keamanan kepadamu
terhadap semua musuhmu.
Juga diberitahukan Tuhan kepadamu:
Tuhan akan memberikan keturunan kepadamu.
Apabila umurmu sudah genap
dan engkau telah mendapat perhentian
bersama dengan nenek moyangmu,
maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian,
anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya.
Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku
dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya
untuk selama-lamanya.
Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi Putra-Ku.

Apabila ia melakukan kesalahan,
maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang
dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia.
Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya,
seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul,
yang telah Kujauhkan dari hadapanmu.
Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh
untuk selama-lamanya di hadapan-Ku,
takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."


Tepat seperti perkataan ini dan tepat seperti penglihatan ini
Natan berbicara kepada Daud.


Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 89:4-5.27-28.29-30
R:29a
Bagi dia Aku akan memelihara kasih setia-Ku
untuk selama-lamanya.


*Engkau berkata,
"Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,
Aku hendak bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:
Aku hendak menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya
dan membangun takhtamu turun-temurun."

*Dia pun akan berseru kepada-Ku, "Bapakulah Engkau,
Allahku dan gunung batu keselamatanku."
Aku pun akan mengangkat dia menjadi anak sulung,
menjadi yang tertinggi di antara raja-raja bumi.

*Untuk selama-lamanya
Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia,
dan perjanjian-Ku dengannya akan Kupegang teguh.
Aku akan menjamin kelestarian anak cucunya sepanjang masa,
dan takhtanya seumur langit.

Bacaan Injil
Mrk 4:1-20
Seorang penabur keluar untuk menabur.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:


Pada suatu hari Yesus mengajar di tepi danau Galilea.
Maka datanglah orang yang sangat besar jumlahnya
mengerumuni Dia,
sehingga Ia terpaksa naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh,
lalu duduk di situ,
sedangkan semua orang banyak itu ada di darat,
di tepi danau itu.


Dan Yesus mengajarkan banyak hal kepada mereka
dalam bentuk perumpamaan.
Dalam ajaran-Nya itu Yesus berkata kepada mereka:
"Dengarlah! Ada seorang penabur keluar untuk menabur.
Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan,
lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu,
yang tidak banyak tanahnya,
lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
Tetapi sesudah matahari terbit,
layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri,
lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati,
sehingga benih itu tidak berbuah.
Dan sebagian jatuh di tanah yang baik,
lalu tumbuh dengan subur dan berbuah,
hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
ada yang seratus kali lipat."
Dan Yesus bersabda lagi,
"Siapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar!"


Ketika Yesus sendirian,
pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid
menanyakan arti perumpamaan itu.
Jawab-Nya, "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah,
tetapi kepada orang-orang luar
segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,
supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menangkap,
sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,
biar mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."


Lalu Yesus berkata kepada mereka,
"Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini?
Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami
semua perumpamaan yang lain?
Penabur itu menaburkan sabda.
Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat sabda itu ditaburkan,
ialah mereka yang mendengar sabda,
lalu datanglah Iblis dan mengambil sabda
yang baru ditaburkan di dalam mereka.
Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu,
ialah orang-orang yang mendengar sabda itu
dan segera menerimanya dengan gembira,
tetapi sabda itu tidak berakar dan tahan sebentar saja.
Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan
karena sabda itu, mereka segera murtad.
Dan yang lain, yang ditaburkan di tengah semak duri,
ialah yang mendengar sabda itu,
tetapi sabda itu lalu dihimpit oleh kekuatiran dunia,
tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain
sehingga sabda itu tidak berbuah.
Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik,
ialah orang yang mendengar dan menyambut sabda itu lalu berbuah,
ada yang tiga puluh kali lipat,
ada yang enam puluh kali lipat,
dan ada yang seratus kali lipat."

Demikianlah sabda Tuhan.

#


Mutiara Iman

*KASIH SETIA*

24 Januari 2018

_"Tapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya.."_
(2 Sam 7:15)


Lectio
2 Sam 7:4-17; Mzm 89:4-5,27-28,29-30; Mrk 4:1-20

Seorang nenek baru keluar dari gereja dengan berjalan agak susah dan miring. Terkadang dia seperti mau jatuh ke belakang, lalu berhenti sejenak. Setelah badannya seimbang, dia berjalan lagi. 


Melihat hal itu, seorang anak muda mendekati nenek itu, menuntunnya dan bertanya :
"Oma.. jalan saja sudah susah, masih ikut misa pagi. Apakah anak oma tidak ada yang menemani?"


Oma itu tersenyum ceria dan berkata :
"Terima kasih Nak. Tuhan sudah SETIA melindungi dan memberkati saya sejak saya harus MEMBESARKAN sendiri keenam anak saya karena ayahnya telah berpulang. Sekarang semuanya sudah memiliki keluarga sendiri dan sudah ada 20 cucu. Sudah selayaknya sayapun setia hari mengucap SYUKUR kepada-Nya. Walaupun jalan saya sudah agak pelan, namun saya percaya Tuhan mengirimkan banyak MALAIKAT yang menolong saya, seperti adik hari ini."

Allah bersabda:"Tetapi KASIH SETIA-KU tidak akan hilang daripadanya"

KASIH SETIA TUHAN kekal selamanya.

Oratio
Ya Tuhan, sungguh besar kasih setia-Mu. Amin

Missio
_Marilah kita hidup dengan setia kepada Tuhan karena sungguh besar kasih SETIA-NYA._


*Have a Blessed Wednesday.*

Mutiara-Iman.org

#


Wednesday, 24th JANUARY
St Francis de Sales.
Day 7 of the Unity Octave.

burning embers that will set alight each heart they come into contact with
Mark 4:1-20

"A sower went out to sow. And as he sowed, some seed fell along the path, and the birds came and devoured it. Other seed fell on rocky ground, where it had not much soil, and immediately it sprang up, since it had no depth of soil; and when the sun rose it was scorched, and since it had no root it withered away. Other seed fell among thorns and the thorns grew up and choked it, and it yielded no grain. And other seeds fell into good soil and brought forth grain, growing up and increasing and yielding thirtyfold and sixtyfold and a hundredfold."

The sower was scattering seed everywhere. He wasn't analysing the quality of the soil or avoiding particular patches of land: he was sowing all over the place. Because he knew that some seed may not work but some other will yield a hundredfold. The sower knew that the seed is a small thing in comparison with the harvest.


 It is the same with our apostolate: a nice word, a reference to God in our conversation, giving good example, an act of kindness are also little things but they can have great consequences in souls. We should try never to miss an opportunity to help people. Whenever we meet people, even if it is for a short instant, we should try to leave in them a divine seed that God could use to bring them to Him.

On one occasion St Josemaría was inspecting the building works in a new house when an Italian builder yelled a blasphemy. The same builder explained years later: 'Suddenly I saw that priest looking at me. Silent. I can't describe his sorrowful glance. All I can say is that I wanted to cry there and then. I imagine that those were the same features that St Peter saw in Jesus' face when he denied Our Lord. That glance changed my life as words could never do."

On another occasion St Josemaría went to buy new trousers with two other priests in Italy. As the other two were trying on the clothes he struck up a conversation with the shop assistant. When it was his turn to try on the trousers the shop assistant turned round and said to the others: "Il vostro compagno non perde il tempo, eh!" [Your friend wastes no time, eh!]. 


Let us ask Our Lady, with the words of St Josemaría, to help us become "burning embers that will set alight each heart they come into contact with" and 'that first spark' will turn one day "into a burning fire".

#


Commentary of the day :

Saint Josémaria Escriva de Balaguer (1902-1975), priest, founder
Homily for 28th. May 1964, the Feast of Corpus Christi (Es Cristo que pasa 15, 150)


Sowing throughout the world

"A sower went out to sow his seed." It is a vivid scene. The divine sower is also sowing his seed today. The work of salvation is still going on, and our Lord wants us to share that work. He wants Christians to open to his love all the paths of the earth. He invites us to spread the divine message, by both teaching and example, to the farthest corners of the earth. He asks us, as citizens of both ecclesial and civil society, to be other Christs by fulfilling our duties conscientiously, sanctifying our everyday work and the responsibilities of our particular walk of life.

If we look around, if we take a look at the world, which we love because it is God's handiwork, we will find that the parable holds true. The word of Jesus Christ is fruitful, it stirs many souls to dedication and fidelity. The life and conduct of those who serve God have changed history. Even many of those who do not know our Lord are motivated, perhaps unconsciously, by ideals which derive from Christianity.

We can also see that some of the seed falls on barren ground or among thorns and thistles; some hearts close themselves to the light of faith. Ideals of peace, reconciliation and brotherhood are widely accepted and proclaimed, but all too often the facts belie them. Some people are futilely bent on smothering God's voice. To drown it out they use brute force or a method which is more subtle but perhaps more cruel because it drugs the spirit: indifference.

#


No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.