Google+ Followers

Wednesday, September 20, 2017

Sukses adalah Hasil Sebuah Proses Perjuangan .


*Sukses adalah Hasil Sebuah Proses Perjuangan !!!*

Dulu ... Di Jepang, ada anak laki2, Pintar jg tidak .. sakit2an .. Tidak Ganteng .. di kelas duduknya paliiiiiing belakang karena takut disuruh maju ke depan oleh Guru .....

Tiap hari nemani Ayahnya di bengkel reparasi mesin pertanian didesa Kamyo distrik Shizuko ... Di usia 8 tahun dia mampu mengayuh sepeda sejauh 14 km hanya untuk melihat Pesawat Terbang ......

Usia 15 tahun putus sekolah dan bekerja di bengkel mesin di Hary Shokai Company ... Usia 21 tahun diserahi buka cabang .... Karena rajin.

Bengkelnya maju pesat. Tapi dia tak puas dan memutuskan jadi wirausaha dg buka bengkel sendiri .... Dan memproduksi Ring Piston .... Sayang ... TOYOTA menolak karyanya karena dianggap jauh dari Standar .... Dia di bully dan diejek teman2nya ..... Dia sedih dan jatuh sakit ....

Setelah sembuh, dia putuskan kuliah untuk cari ilmu ... Namun dia Drop out tdk bs meneruskan kuliah .... Dia berusaha dan mencoba dan selalu gagal berkali-kali .....

Tahun 1947, Jepang porak poranda .... Hidupnya makin parah ... Semua dijual untuk kebutuhan sehari hari termasuk mobil kesayangannya dia jual ....

Dari kondisi inilah Titik balik kehidupannya *berubah ....!!!*

Dia punya sepeda kayuh satu2nya ... Dia pasang motor kecil di sepeda nya .... Dan tanpa disangka ... " Sepeda yg ada Motor kecil nya itulah yg merubah hidupnya" .....
Banyak yg mau membeli, akhirnya dia memproduksi byk hasil karyanya itu ....

Usahanya berkembang pesat hingga merambah produksi Mobil ..... Dan menggurita di seluruh dunia ... Termasuk Indonesia ...... Dia menjadi Founding Father yg melegenda .... Dia ... *SOICHIRO HONDA* ....
*(Pemilik Perusahaan Honda dari Jepang)*

Apa yg dia ucapkan????

*....Tidak ada sukses tanpa perjuangan...!!!*

*Orang Hanya melihat Saat ini di saat aku berdiri dengan deretan Mobil dengan segala Kesuksesanku ....*


*Ketahuilah ... Itu cuma 1% keberhasilanku .... 99% adalah kegagalanku ....jarang org yg mau melihatnya.*

*Orang lebih silau dg hasil   kesuksesan...*

*Tanpa mau melihat bgmn kesuksesan itu dibentuk melalui sebuah proses yg berat, susah payah, jatuh bangun, dicaci, diejek, dibully, dikhianati, diremehkan....!!!*

*Sukses butuh semangat pantang menyerah,  perjuangan dan doa, bahkan darah dan  air mata.....!!!*

*Salam Sukses*
     🙏🙏🙏

Bacaan Liturgi 20 September 2017 Rabu Pekan Biasa XXIV . Berpikir Positif, Bersikap Rendah Hati, Melangkah Dalam Iman.

*Berpikir Positif, Bersikap Rendah Hati, Melangkah Dalam Iman*

ORANG Yahudi sulit menerima pesan pertobatan yang dibawa oleh Yohanes Pembaptis karena cara hidupnya yang bermati raga.

Namun mereka pun menolak kabar sukacita yang diwartakan Yesus, karena Ia makan dan minum dengan orang berdosa.

Mereka menutup telinga dan hati, keras kepala dan merasa diri paling benar sehingga mereka gagal melihat jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan.

Lewat SabdaNya pada hari ini, kita disadarkan bahwa:

* Kita bukan manusia sempurna, oleh sebab itu terimalah sesama dengan kelebihan dan kekurangannya. Jangan mudah berburuk prasangka terhadap orang yang penampilan lahiriahnya 'kurang sesuai' di mata kita. Sadari bahwa kita dipanggil untuk saling melengkapi, saling mendukung untuk bersama-sama melangkah menuju keselamatan.

* Dalam menghadapi permasalahan, hendaknya belajar untuk bersikap optimis dan berpikir positif. Pasti ada hal yang baik, yang dapat kita petik dan pelajari dari suatu kegagalan atau peristiwa yang pahit dan menyakitkan.

Mari ubah cara pandang dan berpikir kita, jangan membatasi karya Tuhan. Karena Ia dapat bekerja lewat siapa saja, lewat peristiwa apa pun.

Tumbuhkan semangat kerendahan hati, senantiasa berpikir positif dan melangkah dalam iman.

#


PEMIKIRAN negatif membuat kita tidak dapat menikmati hidup.

*John C. Maxwell*

#


Bacaan Liturgi 20 September 2017

Rabu Pekan Biasa XXIV


Bacaan Pertama
1Tim 3:14-16
Sungguh agunglah rahasia iman kita.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudara terkasih, semuanya ini kutulis kepadamu,
walaupun aku berharap segera dapat mengunjungi engkau.

Maka, jika aku terlambat, engkau sudah tahu
bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah,
artinya jemaat Allah yang hidup,
tiang penopang dan dasar kebenaran.

Sungguh agunglah rahasia iman kita:
Kristus, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia,
dibenarkan dalam Roh.
Ia menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat,
dan diberitakan di antara para bangsa yang tidak mengenal Allah.
Ia diimani di dunia dan diangkat dalam kemuliaan.


Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 111:1-6
R:2a
Agunglah karya Tuhan.


*Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati,
dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.
Besar perbuatan-perbuatan Tuhan,
layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

*Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya,
keadilan-Nya tetap untuk selama-lamanya.
Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan peringatan;
Tuhan itu pengasih dan penyayang.

*Kepada orang takwa diberikan-Nya rezeki,
selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya.
Kekuatan perbuatan-Nya Ia tujukan kepada umat-Nya,
dengan memberikan kepada mereka milik pusaka para bangsa.

Bait Pengantar Injil
Yoh 6:64b.69b
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.
Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.


Bacaan Injil
Luk 7:31-35
Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak,
"Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?
Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru,
'Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.
Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.'

Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,
dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur,
kalian berkata, 'Ia kerasukan setan.'

Kemudian Anak Manusia datang,
Ia makan dan minum, dan kalian berkata,
'Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,
sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.'
Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

Demikianlah Injil Tuhan.

#


Mutiara Iman

KELUARGA ALLAH
20 September 2017

" .. yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran"
(1 Tim 3:16)

Lectio
1 Tim 3:14-16; Mzm 111:1-2,3-4,5-6; Luk 7:31-35

Siang itu Susi sedang menunggu adiknya yang tengah pergi bersama teman-temannya hingga larut malam. Ketika pulang ke rumah dalam keadaan mabok, Susi membawa lap hangat dan mengkompresnya. Lalu dia pun berdoa di depan adiknya :
"Ya Tuhan kasihanilah adikku, supaya dia bisa seperti dulu sewaktu orangtua kami masih hidup. Mampukan aku setia memberikan KASIH dan KEBENARANMU kepadanya. Amin."


Lalu adiknya terbangun dan sambil meneteskan air mata dia berkata :
"Mba mengapa saya selalu kesepian ketika sedang mabuk bersama teman, tetapi merasakan KEHANGATAN ketika berada di rumah?
Namun mengapa saya tetap mencari yang membuat sepi tersebut?" 


Lalu Susi menjawab :
"Kita di sini sebagai satu KELUARGA Allah, harus selalu memberikan KASIH dan KEBENARAN, supaya kita semua HIDUP."

Paulus berkata dalam suratnya :
"hidup sebagai KELUARGA Allah, yakni JEMAAT dari Allah yang HIDUP, TIANG PENOPANG dan DASAR KEBENARAN"

Kita semua HIDUP sebagai KELUARGA ALLAH.

Oratio
Ya Bapa, datanglah KERAJAAN-Mu. Amin

Missio
Marilah kita hidup sebagai suatu KELUARGA dalam KEBENARAN.


Have a Blessed Wednesday.

#


*Rabu, 20 September 2017*
*Pekan Biasa XXIV*

¤ 1Tim 3:14-16;
¤ Mzm 111:1-2,3-4,5-6;
¤ Luk 7:31-35
*"Superbia"*
~ Kesombongan ~


   Banyak orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu keras hatinya sehingga menutup mata dan telinga hati terhadap rahmat Allah.

Inilah kesombongan kaum Farisi dan para ahli Taurat; dan bisa menjadi kesombongan kita juga.

  Mengacu pada bacaan Injil hari ini, menyadarkan kita bahwa dalam hidup pelayanan itu memang tidak mudah.
Ada saat di mana pelayanan kita diapresiasi, tetapi ada saat di mana kita mengalami penolakan.
Suka duka dalam pelayanan ini akan menjadi indah pada waktunya ketika kita tetap setia bersandar pada Tuhan.

  Adapun sikap dasar yang dibutuhkan agar kita tetap setia bersandar pada Tuhan, antara lain:
1. *Peka*
2. *Mendengarkan*
3. *Percaya*


1. *Peka*
   Kalau kita _peka_  terhadap sentuhan dan sapaan Allah, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan sesama.

Karena Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita dengan harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga dikenal oleh banyak orang.

   Disinilah kita diajak untuk menyadari akan makna panggilan kita masing-masing dalam upaya mempersembahkan diri bagi sesama.

2. *Mendengarkan*
   Siapa saja yang mendengarkan sabda Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuannya sendiri.
Ingatlah _"hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerima-Nya"_(Luk 7:35).
  
   Para ahli Taurat dan kaum Farisi telah menutup hati dan telinga mereka terhadap pesan Yohanes Pembaptis dan Yesus, karena _irihati dan kebutaan rohani_.

   Disinilah kita diajak untuk rendah hati mau mendengarkan Sabda Tuhan dengan iman, pengharapan dan kepatuhan.

3. *Percaya*
   Allah akan mencurahkan rahmat-Nya kepada _mereka yg percaya,_ karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita melainkan pada cinta kasih-Nya yang tanpa syarat.
Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri kita.

   Disinilah kita diajak untuk tetap percaya dan setia dalam melayani.

    Saudaraku, hendaknya kita selalu sediakan waktu untuk _mendengarkan Sabda Tuhan_ dengan iman, pengharapan dan kepatuhan serta percaya.
 
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin.

#


"CARA HIDUP BERIMAN YANG BENAR"

Bacaan Liturgi 20 September 2017

Rabu Pekan Biasa XXIV


Bacaan Pertama 1Tim 3:14-16 Mazmur 111:1-6
Bacaan Injil Luk 7:31-35.

Injil Lukas 7:35b, menulis.

Yesus berkata: "Hikmat Allah dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."

Pola hidup orang-orang Farisi dan ahli Taurat menjadi soal besar dimata Yesus. Kaum elite Yahudi ini sangat taat pada aturan agama, tetapi sebetulnya hidup tanpa jiwa. Bagi Yohanes, jiwa seorang beriman ialah upaya serius untuk meluruskan diri dari dosa. Cara hidup radikal di padang gurun, penuh puasa dan pantang, menjadi contohnya. 


Bagi Yesus jiwa seorang beriman ialah kesadaran akan Allah yang mengasihi. Yesus hidup ditengah masyarakat yang terluka dan menyembuhkan hati mereka. Maka, baik cara hidup Yohanes maupun cara hidup Yesus, sama-sama menggambarkan nilai iman yang benar dalam situasinya. 


Namun hal ini tidaklah menjadi perhatian kaum Farisi dan ahli Taurat, mereka sudah mempunyai standart pemikiran sendiri dan terus tanpa jiwa. Maka mereka itu seumpama anak kecil yang berada di pasar, keras seru-seru tetapi tidak memahami secara tepat apa makna seruannya sendiri. 


Iman tanpa semangat yang jelas semacam ini tidak lebih dari topeng untuk menutupi kejahatan.  Oleh karena itu kita perlu hadir dan berjuang bersama-sama. Model hidup Yesus menjadi contoh, yakni melayani dengan penuh cinta.

Tuhan mampukan aku menghayati imanku yang benar dan berikan aku daya RohMu untuk berjuang melayani dengan penuh cinta. Amin.


Met Hari Rabu.

#


SabdaNya Rabu 20 - 09 - 17

1 Tim 3 : 14-16

 Luk 7 : 31-35

Shalom,
Paulus dg cukup detail telah menuliskan hal2 apa yg perlu diperhatikan dari seseorang yg diharapkan untuk menjadi gembala didalam kelompok umat (1 Tim3: 1-7). Pada intinya, Paulus mengingatkan bahwa seorang gembala umat bukan dipilih karena penampilan phisik dan kepandaian ber kata2nya saja tetapi bagaimana dia dapat menghadirkan Kristus ditengah kelompoknya. Untuk itu perlu diperhatikan apa yg selama ini telah dilakukannya didalam keluarga,didalam pekerjaannya/ profesinya dan didalam kemasyarakatan. 


Seorang gembala umat harus dapat menjadi penggerak, penyemangat dan teladan bagi kelompoknya untuk semakin mengenal ajaran2 Kristus dan mempraktekkan ajaran2 itu didalam kehidupan se hari2. Dg demikian diharapkan semua umat dapat semakin memahami bagaimana hidup sebagai keluarga Allah, jemaat dari Allah yg hidup, tiang penopang (bagi orang2 disekelilingnya)  dan dasar kebenaran 
yg sejati (1 Tim 3:15).


Sebagai pengikut Kristus,kita pantas sangat bersyukur karena Allah yg kita sembah, Dia yg Maha Kudus, telah rela menjadi manusia seperti kita sehingga dapat mengajarkan dan memberi teladan kepada kita didalam bahasa manusia dan didalam segala keterbatasan manusia, suatu kepastian tentang apa yg sebenarnya harus kita lakukan untuk memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hidup didunia saat ini dan supaya pada saat kita mati, kita boleh dilayakkan masuk kedalam kemuliaan Bapa di Surga (1 Tim3 : 16)

Kristus menyamakan orang2 Yahudi pada saat itu seperti anak2 yg duduk2 dipasar. Mereka kemudian menilai orang2 yg dilihatnya berdasarkan penampilannya dan menurut selera mereka sendiri.
Mereka tidak mau membuka hati dan pikiran untuk menangkap kebenaran2 Firman Allah yg disampaikan Yohanes Pembaptis dan Kristus.
Ketika melihat cara berpakaian Yohanes dan bahwa dia sama sekali tidak makan roti dan minum anggur, mereka menyimpulkan dia kerasukan setan. Sebaliknya ketika melihat Kristus dan murid2Nya tidak berpuasa pada hari2 dimana mereka biasa berpuasa, mereka mengatakan Kristus adalah seorang yg rakus. Mereka mencela dan menganggapnya tidak lebih baik dari para pendosa ketika melihat Kristus bergaul dg para pemungut cukai. Tetapi ketika kemudian para pemungut cukai itu bertobat, mereka mengabaikannya begitu saja.

Apa yg dilakukan orang2 Yahudi saat itu, sejujurnya masih sering kita lakukan juga saat ini. Kita sering terpancing menilai orang lain dari penampilan phisiknya atau dari berita2 yg kita pernah dengar, meskipun tidak semua jelas sumber berita dan kebenarannya. Dg demikian penilaian kita tidak lagi berdasarkan apa yg dia perbuat dan katakan secara obyektif, tetapi lebih kepada apakah dia memenuhi selera  pikiran /opini kita sendiri. 


Paulus mengingatkan kita bahwa sebagai murid2 Kristus kita harus berusaha semakin menjadi seperti Kristus didalam segala perkara. Kita harus belajar untuk melihat semua orang seperti Kristus melihat kita, yg selalu dg tatapan penuh kasih, sekalipun  Dia tahu segala kelemahan dan dosa yg ber ulang2 kita lakukan. 


Untuk itu marilah kita terus bergiat untuk bertekun didalam FirmanNya, untuk merenungkan dan berusaha sungguh2 menjadi pelakunya, sehingga iman kita dapat terus bertumbuh dan tidak lagi berperi laku seperti anak2 yg sedang iseng duduk2 dipasar sambil menilai semua orang menurut selera mereka sendiri.


Gbu all n hv a blessed Wednesday.

#


Wednesday, 20th SEPTEMBER
Sts Andrew Kim, Paul Chong and companions

Luke 7:31-35

"To what then shall I compare the men of this generation, and what are they like? They are like children sitting in the market place and calling to one another, 'We piped to you, and you did not dance; we wailed, and you did not weep.' For John the Baptist has come eating no bread and drinking no wine; and you say, 'He has a demon.' The Son of man has come eating and drinking; and you say, 'Behold, a glutton and a drunkard, a friend of tax collectors and sinners!' Yet wisdom is justified by all her children."

That was a children's game in the time of Jesus. Some children would play music and others had to react appropriately. They had to adapt their dancing to the rhythm of the music that was played. This was Jesus' complaint against people who didn't react to His preaching. They didn't react to the teachings of St John the Baptist either. No one was good enough for such people. John the Baptist? 'Ah, well', they may have thought, 'too bizarre, dressed in camel skins and eating locusts and wild honey'. Jesus? 'Too rustic, just a carpenter, you know'…

They had a mental picture of the 'perfect prophet' they would follow, and no one could match that imaginary picture. Some live in that imaginary world where things and people never meet their expectations, and that serves them as an excuse not to listen to them. They don't want to complicate their lives by following Jesus. God sends everyone the help that they need, which maybe is not the help that they expect.

Some don't pray because they don't feel anything special when they pray. They have a mental picture of what prayer should feel like but they don't feel it! So they quit. And they even blame God for it because He doesn't 'give' them prayer. The truth is that in our prayer God is the Master, and He plays the music He wants us to dance to. We need to ask God to teach us to pray as He wants us to pray and not as we would love to pray. I've no excuse for not reacting to God's promptings; no excuse for saying: 'I can't pray in these conditions'. Because I don't pray for my sake and my feelings, but for God's sake.

Mary, my Mother, Master of Prayer, teach me to pray.

#


 Commentary of the day :

Saint Basil (c.330-379), monk and Bishop of Caesarea in Cappadocia, Doctor of the Church
Prologue to the Great Rules

God is calling us unwearyingly to repentance

My brethren, don't let us remain in carelessness and ease or lightly put off for tomorrow, or even later, a start to our work. "Now is the favorable time," the apostle Paul says, "this is the day of salvation" (2Cor 6:2). 

The present moment is the time for repentance, later on will be that of reward; now is the time of perseverance, our day of comforting is yet to come. Now God is helping those who turn away from evil, later he will judge our deeds and words and thoughts. 

Today we are profiting from his patience; at the resurrection, when each of us receives according to our deeds, we shall know the justice of his judgments.

Oh, how much longer will we hold back from obeying Christ, who calls us into his heavenly Kingdom? Are we not going to purify ourselves? Won't we firmly decide to forsake our customary way of life so as to follow the Gospel.

#


Kasih itu murah hati.


Rabu, 20 September 2017

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ....... Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."


  Ameneh seorang wanita buta berdiri di depan pria yang berlutut di kakinya menangis dan memohon pengampunan. Pria itulah yang menyebabkan kebutaan dan kerusakan di wajahnya karena cintanya ditolak Ameneh. 


Seorang dokter sedang menanti jawaban Ameneh dalam melaksanakan perintah persidangan untuk meneteskan larutan acid ke mata pria itu sebagai hukuman setimpal. 


Di menit terakhir Ameneh berseru, "Saya mengampuninya."


 Dia meminta dokter melepaskannya dari hukuman itu dan mengampuni pria yang mengalami kebencian ketika cintanya ditolak Ameneh. Ameneh mengalami luka fisik dan hati, serta masa depan yang hancur karena pria itu, namun ia mampu mengampuninya. 


  Kebencian dan kasih memiliki daya ledak yang sama kuat. 

Kebencian membuat seseorang menjadi pembunuh, namun kasih memampukan seseorang mengorbankan nyawa.


Namun kasih melahirkan doa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." 


  Apabila kita terus menerus melepaskan pengampunan bagi orang yang selalu menyakiti kita, maka kita akan sampai pada kondisi di mana kita tidak lagi merasa terluka ketika disakiti. 


Mother Teresa memberikan suatu pernyataan, "Telah kutemukan kontradiksi, yaitu jika saya belajar mengasihi hingga menyakitkan, ternyata kemudian saya tidak lagi merasa terluka, yang ada hanyalah kasih yang melimpah." 


Bagaimana dengan kita? 

Mari, milikilah kasih yang mampu membalut dalamnya luka hati. 


Tuhan memberkati.

 (Dod).

Tuesday, September 19, 2017

Bacaan Liturgi 19 September 2017 Selasa Pekan Biasa XXIV PF S. Yanuarius, Uskup dan Martir. Kepedulian Dan Belas Kasih.

*Kepedulian Dan Belas Kasih*

DIKISAHKAN bahwa Yesus berpapasan dengan rombongan yang mengusung jenazah seorang anak laki, putra tunggal seorang janda.

Melihat sang ibu menangis, hatiNya tergerak oleh belas kasih, Ia ikut merasakan penderitaan sang ibu.

Kemudian Yesus menghampiri usungan tersebut dan menyentuhnya. Dengan kuasa SabdaNya, Ia membangkitkan sang anak. Sirnalah mendung dukacita dan sebagai gantinya, sukacita pun merekah.

Yesus adalah Allah yang hidup. PenyertaanNya tidak berkesudahan, Ia setia menemani kita baik di saat suka, terlebih di saat duka. Ia peduli dan sangat mengasihi kita. Pandangan mataNya senantiasa tertuju kepada kita, tak dibiarkanNya kita melangkah sendirian.

Oleh sebab itu, belajarlah untuk senantiasa percaya kepada pemeliharaan dan perlindunganNya. Undang dan libatkan Dia ke dalam hidup kita, bersamaNya kita akan dimampukan untuk memikul salib kehidupan.

Sebagai ungkapan terima kasih dan syukur atas kasihNya, marilah kita juga meneladani sikapNya.

Tumbuhkan kepekaan dan kepedulian terhadap keadaan orang di sekitar kita. Jadikan belas kasih sebagai penggerak utama dalam pelayanan kita.

Dengan senantiasa bersandar kepadaNya, semoga kita dapat menjadi pembawa sukacita dan pembangkit harapan bagi sesama.

#


KEBENCIAN
bukanlah dosa terburuk terhadap sesama mahluk ciptaan,
  melainkan ketidakpedulian:
   inilah inti dari ketidakmanusiawian.

*George Bernard Shaw*

#


Bacaan Liturgi 19 September 2017

Selasa Pekan Biasa XXIV
PF S. Yanuarius, Uskup dan Martir.


Bacaan Pertama

1Tim 3:1-13
Penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat;
diakon haruslah orang yang memelihara rahasia iman
dalam hati nurani yang suci.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudara terkasih, benarlah perkataan ini:
"Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat,
menginginkan pekerjaan yang indah."
Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat,
suami dari seorang isteri saja.
Ia harus dapat menahan diri,
bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan,
dan cakap mengajar orang;
bukan peminum, bukan pemarah, melainkan peramah dan pendamai,
bukan hamba uang;
seorang kepala keluarga yang baik,
disegani dan dihormati oleh anak-anaknya.


Jika seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri,
bagaimana mungkin ia mengurus Jemaat Allah?


Janganlah ia seorang yang baru saja bertobat,
agar jangan menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.
Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat,
agar jangan digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis.

Demikian juga diakon-diakon:
haruslah orang terhormat,
jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah,
melainkan orang yang memelihara rahasia iman
dalam hati nurani yang suci.
Mereka juga harus diuji dahulu,
dan baru ditetapkan dalam pelayanan ini

setelah ternyata mereka tak bercacat.


Demikian pula, para isteri mereka hendaklah orang terhormat,
jangan pemfitnah;
hendaklah dapat menahan diri dan dapat dipercaya dalam segala hal.


Diakon haruslah suami dari satu isteri
dan mengurus anak-anak serta keluarganya dengan baik.
Karena mereka yang melaksanakan tugas pelayanan dengan baik,
memperoleh kedudukan yang baik,
sehingga dalam iman akan Kristus Yesus
mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 101:1-3b.5-6
R:2b
Aku hendak hidup dalam ketulusan hati.


*Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum,
aku hendak bermazmur bagi-Mu, ya Tuhan.
Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela:
Bilakah Engkau datang kepadaku?

*Aku hendak hidup dalam ketulusan hati
di dalam rumahku.
Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila;
perbuatan murtad aku benci.

*Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya,
dia akan kubinasakan.
Orang yang sombong dan tinggi hati,
aku tidak suka.

*Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri,
supaya mereka diam bersama-sama aku.
Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela,
akan melayani aku.

Bait Pengantar Injil
Luk 7:16
Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,
dan Allah mengunjungi umat-Nya.


Bacaan Injil
Luk 7:11-17
Hai Pemuda, bangkitlah!


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain.
Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia.
Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar,
yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda.
Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut.

Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya, "Jangan menangis!"
Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya,
Maka para pengusung berhenti.
Tuhan berkata, "Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"
Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara.
Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya.

Semua orang itu ketakutan,
dan mereka memuliakan Allah sambil berkata,
"Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,"
dan "Allah telah mengunjungi umat-Nya."

Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea
dan ke seluruh daerah sekitarnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

#


Mutiara Iman

BARU BERTOBAT
19 September 2017

"Janganlah ia seorang yang baru bertobat.."
(1Tim 3:6)

Lectio
1 Tim 3:1-13; Mzm 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6; Luk 7:11-17

Setelah mengalami kebangkrutan karena judi, Roby bertobat dan bekerja sebagai driver ojek on line. Selain itu, ia pun mengikuti berbagai kegiatan gereja, mulai dari belajar pendalaman KS, mengikuti KEP dan sering hadir di seminar KS. 


Setiap bertemu orang, Roby kerap bercerita betapa ia bersyukur karena sekarang hidupnya LEBIH BAIK namun dia masih melihat banyak umat yang hidupnya TIDAK BAIK.


Ketika pemilihan ketua lingkungan, Roby masuk dalam 3 besar kandidat. Ketika ditanya Filbert ketua lingkungan yang menjabat mengapa Roby cocok menjadi ketua lingkungan, ia menjawab :
"Karena saya pernah mengalami hidup yang penuh dosa dan kemudian bertobat, serta sekarang saya ingin mewartakan Injil. Saya percaya 2 calon lain tidak memiliki KEMAMPUAN seperti saya." 


Tiga minggu kemudian, ketika keputusan pemilihan ketua dilakukan, ternyata yang dipilih adalah Budi. Lalu Roby menghampiri Filbert dan bertanya :
"Mengapa bukan saya ya Pak Filbert?"

 
Lalu dengan tenang Filbert berkata :
"Mungkin Tuhan ingin memberi waktu lagi kepada Pak Roby untuk memahami Firman-Nya."
Dan Roby pun terdiam, menghampiri Budi dan menyelamatinya.

Paulus berkata dalam suratnya :
".. janganlah ia seorang yang baru BERTOBAT, agar jangan ia menjadi SOMBONG dan kena HUKUMAN iblis."

KESOMBONGAN Rohani adalah Hukuman Iblis.

Oratio
Ya Tuhan, mampukan kami selalu rendah hati dalam melayani Sabda-Mu. Amin

Missio
Marilah selalu jadikan hidup kita suatu PERTOBATAN sehingga kita hanya mengandalkan KEKUATAN TUHAN.
Have a Blessed Tuesday.

#


"KEMURAHAN HATI"

Bacaan Liturgi 19 September 2017

Selasa Pekan Biasa XXIV.


Bacaan Pertama 1Tim 3:1-13

Mazmur 101:1-3b.5-6 

Bacaan Injil Luk 7:11-17

Injil Lukas 7:13-14, menulis.
Lalu tergeraklah hati Tuhan, lalu Yesus berkata kepadanya:"Jangan menangis" dihampiriNya usungan jenasah itu dan disentuhNya. Maka para pengusung berhenti . Yesus berkata:" Hai pemuda, Aku berkata kepadamum bangkitlah!" Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara. Yesus lalu menyerahkan kepada ibunya.

Kisah dihidupkannya pemuda Nain ini menggambarkan satu belas kasih Tuhan yang sangat dalam. Janda itu pasti sangat terluka, dan tak terhiburkan. Anak tunggal, mungkin diharapkan menjadi tempat gantungan dihari tua, tahu-tahunya meninggal. Ternyata kehadiran Yesus menjadi penghiburan sempurna. Belas kasih Tuhan tercurah keatas manusia yang malang dan membutuhkan. Rahmat Tuhan datang dengan berbagai macam cara. Ada yang dicurahkan sesudah manusia sungguh-sungguh memohon dalam doa puasa dan mati raga, ziarah dan aneka tapa lainnya. Namun banyak juga yang terjadi semata-mata karena kemurahan Tuhan.


Banyak diantara kita yang seringkali tidak menyadari hal ini. Kemurahan Tuhan yang dialami lupa di syukuri. Disini kita dituntut untuk peka membaca pengalaman hidup setiap hari, mana peristiwa hidup yang menggambarkan kemurahan Tuhan. Jika ada, jangan lupa bersyukur.

Tuhan Yesus, terima kasih atas penghiburan dan kemurahanMu yang kuterima dalam sepanjang hidupku. Semoga karena berkat dan kemurahanMu kami selalu mengucap syukur dan memujiMu sebagai si Janda Nain dan rombongannya. Amin.
Met Hari Selasa.

#


 Rehar : Selasa ; 190917.
1Tim.3:1-13; Mzm 101:1-2ab,2cd-3ab,5,6
Luk.7:11-17.

Injil hari ini mengisahkan:" Suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain    
Para murid dan banyak orang pergi bersama Dia. ketika Ia mendekati  pintu gerbang kota, ada orang mati diusung keluar yaitu  anak laki laki seorang ibu yg sudah janda. 

Banyak orang kota itu menyertai janda itu.
melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasih lalu Tuhan berkata kepadanya.
Jangan menangis,  dihampiriNya pengusung Jenazah itu dan disentuhnya. maka para pengusung berhenti, Tuhan berkata:"Hai pemuda, Aku berkata kepadamu,bangkitlah.
maka bangunlah pemuda itu, duduk dan mulai berbicara. 

Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya.  semua orang ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata. seorang nabi besar telah muncul di tengah tengah kita. dan Allah telah mengunjungi umatNya. maka tersiarlah kabar tentang Yesus keseluruh Yudea dan daerah daerah disekitarnya.  (Luk 7:11-17 ).

Yesus adalah Pribadi yang berempati kepada siapa saja yang menderita. Dia yang adalah Tuhan dan Penyelamat kita begitu mudahnya tersentuh bila menjumpai orang yang dirundung malang. 

Sikap Yesus ini sebenarnya teladan pengajaran bagi kita para muridnya.
Perjumpaan dengan Yesus mendatangkan pengiburan dan kehidupan sebab bila Ia menghendaki dia hidup maka ia hidup' seperti yang dialami seorang janda di Naim.


Status sosial seorang janda di masyarakat Yahudi sangat rendah  dan malang hidupnya
kehilangan putera satu satunya adalah suatu kemalangan besar. 

Itu sebabnya Yesus sangat  perhatian.


Disekitar kita juga banyak orang yang mati dalam hal : Iman , harapan dan Kasih sebab mereka terbujuk untuk bersikap individualis me yang sempit yang tidak mau perduli kepada sesamanya. 


Mari kita menghadirkan dan membawa Yesus bagi sesama kita supaya iman, harapan dan kasih tumbuh dalam diri mereka semua.
mari kita belajar dari sikap hidup Yesus. yang selalu berempati kepada penderitaan orang lain. 


Bagaimana dengan anda ?

Masuklah dalam keheningan .
Mari kita belajar berempati kepada Tuhan.
H e n i n g .

Marilah kita berdoa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur Engkau selalu mengajar kami dengan teladan dan contoh. 

Mampukan aku ya Tuhan agar mampu mengikuti teladan yang Engkau berikan, sbb Engkaulah Tuhan dan penyalamat kami.
Bapa kami. kemuliaan. Amin. (ht).

#


*Selasa, 19 September 2017*
*Pekan Biasa XXIV*

¤ 1Tim 3:1-13
¤ Mzm 101:1-2ab,2cd-3ab, 5-6
¤ Luk 7:11-17
*"Misericordia Dei"*
~ Belas kasih Allah
~


    Pada prinsipnya _'belas kasih'_ berarti suatu rasa simpati terhadap penderitaan sesama dan ada hasrat kuat untuk menolong.

   Mengacu pada bacaan Injil hari ini, _'belas kasih'-Nya_ kepada janda di Nain itu menjadi _dasar_ Yesus membangkitkan anak muda tersebut, dan itulah keselamatan.

   Adapun keselamatan itu terlaksana dalam beberapa sikap Yesus, antara lain:
1. *Berinisiatif*
2. *Berbelaskasih*
3. *Berharap*


1. *Berinisiatif*
   Yesus _berinisiatif_ terlebih dahulu untuk _menolong_ janda yang berduka karena anak laki-lakinya yang tunggal telah meninggal.

Kehilangan anak laki-laki satu-satunya merupakan pukulan terbesar dalam kehidupan seorang janda; yang artinya ia kehilangan segala-galanya.

   Disinilah kita belajar 'peka' dan berani mengambil inisiatif terhadap sesama di sekitar kita.

2. *Berbelaskasih*
   Yesus _'tergerak oleh belas kasihan'_ yang menjadi tanda kasih Allah kepada manusia, Ia turut merasakan pedihnya perpisahan antara anak dan ibunya karena kematian.

   Melalui diri Yesus dengan kuasa mukjizat-Nya yang membangkitkan orang mati, Allah menyatakan bahwa di dalam iman kepada-Nya tersedia kehidupan.

   Disinilah kita diajak menyadari belas kasih-Nya kepada kita, dan dengan kuasa-Nya Ia dapat menolong kita memberikan jalan keluar dari setiap masalah yg kita hadapi.

3. *Berharap*
    Yesus berharap dan menghendaki agar kita semua menjadi pelayan-pelayanNya yang handal dan berbelas kasih.
Tentu saja syarat utamanya adalah _kualitas diri_ kita sebagai orang beriman yang siap untuk melayani semua orang, karena inilah wujud kasih kita kepada Allah dan sesama.

   Saudaraku, marilah berupaya menjadi seorang pribadi yang menghadirkan keselamatan Allah dan kehidupan yang berkualitas, sehingga kita dapat memperkaya setiap orang yang kita jumpai dengan anugerah dan belas kasih Allah.
  
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga. Amin

#


📖  Ayat *HIDUP* hari ini (19/9/17)

_Melihat  janda itu, tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasih. Lalu Tuhan berkata kepadanya, "Jangan menangis!"_ (Ayat 13 dari bacaan Peringatan *St. Emilia de Rodat, St. Fransiskus Maria Camporosso, St. Januarius dari Naples, St. Theodorus*; Luk. 7: 11-17)

*Kesabaran dan ketabahan adalah senjata jiwa yang Tuhan ciptakan untuk mengatasi penderitaan. Maka giatlah gunakan saat diperlukan. Setelah itu Istirahatlah sambil bersyukur mengingat betapa kreatifnya Tuhan*.

Semoga aku semakin menyadari bahwa kekuatanku menghadapi penderitaan adalah tanda kehadiran dan belas kasih-Mu, ya Tuhan. Amin🙏

_*(RM ALOYSIUS SUSILO WIJOYO.,* SELASA ini di program *"Oase Rohani Katolik":* Siaran *RADIO:* Mandarin Station 98.3 FM pk.05.30 WIB; klik www.radio.kaj.or.id pk.06.00; 12.00; 18.00 WIB. Siaran *TELEVISI*:  www.hidup.tv; www.kaj.or.id; www.hidupkatolik.com pk 05.00; 08.00; 11.00, 14.00 WIB, dst)._
_Silakan share_👍

#


RenHar.

https://2belife.blogspot.com

Monday, September 18, 2017

Bacaan Liturgi 18 September 2017 Senin Pekan Biasa XXIV. Iman dan Kebaikan.

*Iman dan Kebaikan*

INJIL hari ini mengisahkan seorang perwira Romawi yang memiliki iman dan kerendahan hati yang luar biasa.

Lewat utusannya, ia memohon agar Yesus menyembuhkan hambanya, cukup dengan bersabda saja, tanpa perlu Ia berkunjung ke rumahnya. Sang perwira percaya bahwa SabdaNya berkuasa untuk mendatangkan pemulihan bagi hambanya.

Yesus adalah Putra Allah, Juru Selamat kita. Sebagai pengikutNya, seharusnya kita percaya penuh kepadaNya.

Namun kita cenderung untuk mendikteNya agar Ia memenuhi seluruh permohonan kita. Saat doa kita tidak dikabulkanNya, kita kehilangan kepercayaan kepadaNya dan meninggalkan Dia.

Lewat Injil hari ini, Yesus memanggil kita untuk meneladani sikap seorang perwira Romawi. Meskipun ia dianggap kafir, namun imannya sungguh membuat Yesus kagum.

Marilah kita datang ke hadapanNya dengan rendah hati. Bina relasi yang akrab denganNya agar kita bertumbuh dalam iman sejati, senantiasa percaya bahwa di balik setiap peristiwa kehidupan yang pahit dan menyakitkan, terdapat rencanaNya yang terbaik dan terindah.

Tidak cukup hanya menumbuhkembangkan iman, namun kita juga harus mewujudkan iman ke dalam tindakan nyata, dengan menebarkan kasih dan kebaikan kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan status dan latar belakang.

#


IMAN adalah tentang tindakan.

Siapa anda ditentukan dari bagaimana anda bertindak, 

  bukan hanya dari bagaimana anda beriman.

*Mitch Albom*

#


Bacaan Liturgi 18 September 2017

Senin Pekan Biasa XXIV


Bacaan Pertama
1Tim 2:1-8
Kita harus berdoa untuk semua orang,
karena Allah ingin semua orang diselamatkan.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudara terkasih,
Pertama-tama aku menasihatkan,
agar dipanjatkan doa-doa dan permohonan serta ucapan syukur kepada Allah
bagi semua orang, bagi pemerintah dan penguasa,
agar kita dapat hidup aman dan tenteram
dalam segala kesalehan dan kehormatan.
Itulah yang baik dan berkenan di hati Tuhan, penyelamat kita.
Ia menghendaki agar semua orang diselamatkan
dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Allah itu esa,
dan esa pula Dia yang menjadi pengantara Allah dan manusia,
yaitu manusia Kristus Yesus.
Ia telah menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua orang,
suatu kesaksian pada waktu yang tepat.
Untuk kesaksian itulah
aku telah ditetapkan sebagai pewarta dan rasul.
Yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta.
Aku ditetapkan sebagai pengajar bangsa-bangsa
dalam iman dan kebenaran.

Oleh karena itu aku ingin
agar di mana pun
kaum lelaki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci,
tanpa kemarahan dan perselisihan.

Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur
Mzm 28:2.7.8-9
R:6
Terpujilah Tuhan,
sebab Ia telah mendengarkan doa permohonanku.


*Dengarkanlah suara permohonanku,
apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong,
dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.

*Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku;
kepada-Nya hatiku percaya.
Aku tertolong, sebab itu beria-rialah hatiku,
dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.

*Tuhan adalah kekuatan umat-Nya
dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya!
Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri,
gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka
untuk selama-lamanya.

Bait Pengantar Injil
Yoh 3:16
Begitu besar kasih Allah kepada dunia,
sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.
Setiap orang yang percaya akan Dia, memiliki hidup abadi.


Bacaan Injil
Luk 7:1-10
Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:


Pada suatu ketika,
setelah mengakhiri pengajaran-Nya kepada orang banyak,
masuklah Yesus ke Kapernaum.
Di situ ada seorang perwira
yang mempunyai seorang hamba yang amat ia hargai,
Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.


Ketika mendengar tentang Yesus,
ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya
untuk meminta agar Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
Mereka datang kepada Yesus,
dan dengan sangat mohon pertolongan-Nya, katanya,
"Sudah selayaknya Engkau menolong dia,
sebab ia mengasihi bangsa kita,
dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
Maka pergilah Yesus bersama mereka.

Ketika Yesus tidak jauh lagi dari rumahnya,
perwira itu menyuruh beberapa sahabatnya untuk mengatakan kepada Yesus,
"Tuan, janganlah bersusah-susah,
sebab aku merasa tidak layak menerima Tuan dalam rumahku.
sebab itu aku juga merasa tidak pantas
datang sendiri mendapatkan Tuan.
Tetapi katakanlah sepatah kata saja, maka hambaku itu akan sembuh.
Sebab aku pun seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit.
Jika aku berkata kepada salah seorang, 'Pergi' maka ia pergi;
atau kepada yang lain, 'Datanglah!' maka ia datang;
dan jika aku berkata kepada hambaku, 'Kerjakanlah ini!'
maka ia pun mengerjakannya."

Mendengar itu, heranlah Yesus akan dia.
Sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti-Nya,
Ia berkata,
"Aku berkata kepadamu:
Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai."


Setelah orang-orang suruhan itu kembali ke rumah,
mereka mendapati hamba yang sakit itu sudah sehat kembali.

Demikianlah Injil Tuhan.

#


Mutiara Iman

*TANPA MARAH DAN TANPA PERSELISIHAN*

18 September 2017


_"Dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan"_
(1Tim 2:8)

Lectio
1 Tim 2:1-8; Mzm 28:2,7,8-9; Luk 7:1-10

Di suatu pagi, seorang Ibu terdiam di depan altar gereja. Lalu seorang Bapak mendekatinya dan berkata :
"Ibu tidak berdoa?"
Lalu Ibu itu menundukkan kepalanya dan berkata :
"Saya tiba-tiba tidak bisa berdoa, karena sedang ribut dengan kedua anak saya. Saya merasa bersalah karena selalu ingin diperhatikan, padahal mereka bekerja keras untuk keluarganya." 


Lalu Bapak itu berkata :
"Ibu datangilah kedua anak Ibu dan BERDAMAI-lah dengan mereka." 


Keesokan harinya di pagi hari, Ibu itu berdoa dengan kedua anak perempuannya. Setelah selesai berdoa, ia memperkenalkan Bapak yang kemarin kepada kedua anaknya. 


Lalu Bapak itu berkata :
"Ibu kalian bangga mempunyai anak seperti kalian. Dia sangat menyayangi kalian dan dia tahu bahwa kalian juga sangat menyayanginya."
Lalu kedua anaknya memeluk Ibunya, disaksikan oleh Bapak yang tersenyum PENUH SUKACITA.

Paulus berkata dalam suratnya :
"Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan TANGAN yang SUCI, TANPA marah dan TANPA perselisihan."

Dalam KEDAMAIAN, DOA kita berkenan kepada Allah.

Oratio
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Amin

Missio
_Marilah kita hidup dalam DAMAI dan REKONSILIASI agar DOA kita berkenan kepada Allah._


*Have a Blessed Monday.*

Mutiara-Iman.org

#


SabdaNya Senin  18 - 09 -17

1 Tim 2 :1-8                

Luk 7 : 1-10

Shalom,
Hukum Taurat melarang orang Yahudi untuk bergaul dg bangsa2 lain yg belum menyembah Yahwe. Hukum ini dibuat untuk melindungi iman orang2 Yahudi yg baru saja bertumbuh, agar tidak goyah lagi dan kembali menjadi penyembah2 berhala. Karena itu orang Yahudi juga tidak diperbolehkan masuk kedalam rumah orang bangsa lain, termasuk orang2 Roma yg sedang menguasai negara mereka.


Sebaliknya, sebagai bangsa yg sedang berkuasa di mana2, orang2 Roma mempunyai kebanggaan diri atas bangsanya dan menganggap bangsa2 lain, khususnya yg telah mereka kalahkan, dg sikap merendahkan.


Akan tetapi ada seorang perwira di Kapernaum yg mempunyai sikap yg sama sekali lain dg sikap bangsanya terhadap orang Yahudi. Dia mau bergaul dan memberi banyak pertolongan  orang2 Yahudi dan dia juga ikut membantu dalam pembangunan sinagoga mereka. Sikapnya yg penuh kasih juga dia tujukan kepada hambanya yg orang Yahudi, yg sedang sakit keras. Dia amat prihatin dan sungguh2 berusaha mencari cara untuk kesembuhannya.
Ketika perwira ini mendengar Kristus datang kekotanya, dan dari pergaulannya dia sudah mendengar tentang Yesus dari Nazaret, maka dia meminta tolong pemuka2 agama Yahudi untuk memohon kesediaan Kristus untuk menyembuhkan hambanya tsb.
Kristus tergerak hatiNya mendengar sikap perwira yg penuh kasih itu dan Dia berkenan
datang kerumah perwira itu.


Hal ini diluar perkiraan perwira itu sehingga dia cepat2 meminta sahabat2nya (orang Yahudi) untuk mencegah Kristus datang kerumahnya. Dia mengirim pesan, bahwa dia tidak berani untuk menemui Kristus sendiri karena tahu bahwa dia tidak layak / najis dihadapan Allahnya orang Yahudi dan dia tidak ingin Kristus mendapat kerepotan dan persoalan dari orang2 Farisi kalau sampai masuk kerumahnya. Yg dia kehendaki, Kristus cukup memberi perintah kepada sakit penyakit hambanya itu dan dia percaya sakit penyakit itu akan lenyap. Dia percaya sebagai Mesias, Kristus punya kuasa untuk memerintahkan apa saja dan siapa saja untuk mengikuti kehendakNya.


Kristus terpesona mendengar iman perwira itu. Selama ini Dia berkeliling Galilea untuk mengajar dan menunjukkan kuasa ilahiNya kepada banyak orang, supaya mereka percaya bahwa Dialah Mesias yg telah dinubuatkan para nabi. Tetapi bagi orang2 Yahudi, Dia tidak lebih dari seorang nabi yg punya kuasa menyembuhkan sakit penyakit dan mengusir setan saja.
Perwira yg bukan Yahudi ini justru percaya bahwa Dia adalah  Mesias. Dialah Allah, Penguasa segenap alam sentosa dan semua makhluk didalamnya.


Kristus kemudian menyuruh utusan2 perwira itu untuk kembali dan ternyata ketika mereka sampai dirumah perwira itu, mereka mendapati hamba yg sakit keras itu sudah sembuh.
Inilah mujizat jarak jauh. Untuk mengabulkan suatu permohonan, tidak perlu Kristus harus hadir secara phisik.

Kepada Timotius, Paulus meminta dia dan seluruh jemaat untuk senantiasa berdoa, baik untuk kepentingan diri mereka masing2 maupun untuk semua orang (berdoa syafaat).
Paulus memberi pesan ini karena dia ingin meyakinkan mereka bahwa ada kuasa Allah yg luar biasa didalam doa, apalagi bila didoakan dg penuh syukur akan kasih Allah kepada kita dan didalam kasih yg tulus kepada sesama.


'Naikkanlah permohonan,doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang. Aku ingin supaya di mana2 orang laki2 berdoa dg menadahkan tangan yg suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan' (1 Tim 2:1,8)

Bagaimana dg kehidupan doa kita saat ini? Apakah kita menyediakan waktu2 terbaik untuk dapat ber komunikasi dg Allah, untuk selalu meminta bimbinganNya sebelum melakukan suatu pekerjaan dan sebelum mengambil keputusan2?
Atau selama ini kini hanya berdoa sebagai suatu rutinitas saja yg mungkin dilakukan disaat masih mengantuk dipagi hari dan waktu sudah mengantuk dimalam hari? 


Apakah kita sungguh meyakini bahwa doa adalah sarana komunikasi yg terpenting untuk terus meningkatkan iman kepercayaan kita ?


Ada kuasa yg dahsyat didalam doa, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk orang2 yg kita doakan bila dilakukan dg penuh iman.


Karena itu, mari berdoa sesering mungkin dg kerendahan hati dan dg penuh kepercayaan akan kasih dan kuasa Allah, agar kita dapat hidup dg tenang dan tentram dalam segala situasi kehidupan yg dibiarkan Allah terjadi.


Gbu all n hv a blessed Monday.

#


Monday, 18th SEPTEMBER
Luke 7:1-10

A centurion had a slave who was dear to him, who was sick and at the point of death. When he heard of Jesus, he sent to him elders of the Jews, asking him to come and heal his slave...And Jesus went with them. When he was not far from the house, the centurion sent friends to him, saying to him, "Lord, do not trouble yourself, for I am not worthy to have you come under my roof; therefore I did not presume to come to you. But say the word, and let my servant be healed."

We use these words during the Holy Mass before we receive Holy Communion. "Lord, I am not worthy"


St John Vianney explained that if Jesus had taken into account our 'worthiness', He would never have instituted the Eucharist. But He took into account only His love for us. He loves to be received by us. He loves to be united to us in Holy Communion. Ordinarily we can only receive Him once a day but our desire would be to receive Him many times. 


According to St. Thomas Aquinas and St. Alphonsus Liguori, the value of a spiritual communion can be as great as Holy Communion itself. It depends, obviously, on the internal dispositions. If God can unite Himself to souls with a piece of bread, would it not be possible for Him to do the same with a strong desire? 


St. Teresa of Jesus wrote: "When you do not receive communion and you do not attend Mass, you can make a spiritual communion, which is a most beneficial practice; by it the love of God will be greatly impressed on you." 


St. John Vianney taught "If we are deprived of Sacramental Communion, let us replace it by spiritual communion, which we can make every moment ... when we cannot go to the church, let us turn towards the tabernacle; no wall can shut us out from the good God."

In 1975 the Communist Army took control of Vietnam and sent many bishops and priests to prison. Many disappeared leaving no trace. 


A prisoner described what he found once in a cell he was moved to. It had been used by a priest who disappeared. On the wall, with a loose stone, the priest had drawn a huge Host and Chalice. Presumably, unable to say Mass, he had spent a long time there in 'adoration', longing for the Eucharist. 


Lord, I know I'm not worthy, but _"I wish to receive you with the purity, humility and devotion with which your most holy Mother - my Mother -, received you, with the spirit and fervour of the saints"._

#



Commentary of the day :

Saint Augustine (354-430), Bishop of Hippo (North Africa) and Doctor of the Church
Sermon 62 (©1991 Augustinian Heritage Institute)

"Lord, I am not worthy"

When the gospel was read, we heard Jesus praise our faith in an act of humility. When the Lord Jesus, you remember, promised he would go to the centurion's house to heal his servant, the man replied, "I am not worthy that you should enter under my roof, but only say the word, and he will be healed". By calling himself unworthy, he showed he was worthy to have Christ enter, not within his walls, but within his heart...

There would, after all, have been no great benefit if the Lord Jesus had entered within his walls, and had not been in his bosom. Christ, the teacher of humility by both word and example had, you may remember, sat down in the house of a certain proud Pharisee called Simon (Lc 7,36f.). And though he was sitting in his house, there wasn't anywhere in his heart where the Son of man might lay his head (Lk 9,58)... But into this centurion's house he never entered, yet he took possession of his heart...

So this man's faith is discerned and praised in an act of humility. He said, "I am not worthy that you should enter under my roof" and the Lord said, "Amen I tell you, I have not found such great faith in Israel"... The Lord had come to Israel according to the flesh, that is to the Jews, there first to seek the sheep that were lost (Lk 15,4)... We, as human beings, can assess the faith of human beings - from the outside; he, who could look inside, whom no one could deceive, bore witness to the faith of this man, and on hearing his humble words, he gave him a clean bill of health.

#


Saturday, September 16, 2017

Bacaan Liturgi 16 September 2017 Sabtu Pekan Biasa XXIII PW S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uksup; Martir . Hidup Berpusat Pada Kristus, Senantiasa Berbuah Kasih Dan Kebaikan.

*Hidup Berpusat Pada Kristus, Senantiasa Berbuah Kasih Dan Kebaikan*

DALAM Injil hari ini, Yesus menggunakan metafora tentang pohon untuk melukiskan kehidupan orang Kristiani. DikatakanNya bahwa sebuah pohon yang baik pasti akan menghasilkan buah yang baik.

Sebagai murid Kristus, hendaknya iman kita terhadapNya berbuah kasih dan kebaikan di dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, dibutuhkan ketekunan dalam mengolah hati agar menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan iman kita.

Pupuklah dengan firman dan doa, dan pangkaslah dari segala hal yang jahat. Dengan demikian hidup kita akan memberikan dampak positif bagi orang di sekitar kita dan menjadi saluran berkat bagi yang membutuhkannya.

Kehidupan di dunia tidak selalu merupakan sebuah perjalanan yang mulus dan nyaman. Banyak sekali rintangan dan hambatan yang harus dilalui.

Agar hidup kita senantiasa menghasilkan buah yang baik di dalam segala kondisi, maka kita harus selalu melekat kepadaNya. 

Bangunlah kehidupan kita dengan Kristus sebagai pusatNya. Perkenankan Ia membentuk kita, jadilah pelaksana SabdaNya walaupun terasa pahit dan menyakitkan.

Hanya dengan demikian kita akan mampu berdiri tegak, tetap setia kepadaNya dan menjadi pribadi yang berintegritas, meski didera berbagai badai dan gelombang kehidupan.

#


HIDUP anda adalah buah dari tindakan anda sendiri.

Anda tidak dapat menyalahkan siapa pun kecuali diri anda sendiri.

*Joseph Campbell*

#


Bacaan Liturgi 16 September 2017

Sabtu Pekan Biasa XXIII
PW S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uksup; Martir.


Bacaan Pertama

1Tim 1:15-17
Kristus datang di dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa.


Pembacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Timotius:

Saudaraku terkasih,
sabda ini benar dan patut diterima sepenuhnya,
yaitu bahwa Kristus Yesus telah datang ke dunia
untuk menyelamatkan orang-orang berdosa.

Dari antara mereka itu akulah yang paling berdosa.
Tetapi justru karena itu aku dikasihani,
agar dalam diriku sebagai orang paling berdosa ini
Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.
Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka
yang kemudian percaya kepada-Nya
dan memperoleh hidup yang kekal.

Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya
bagi Raja segala zaman,
Allah yang kekal,
yang tak nampak, yang esa. Amin.

Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
mzm 113:1-5a.6-7
R:2
Terberkatilah nama Tuhan untuk selama-lamanya.


*Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan,
pujilah nama Tuhan!
Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan,
sekarang dan selama-lamanya.

*Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya
terpujilah nama Tuhan.
Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa,
kemuliaan-Nya mengatasi langit.

*Siapakah seperti Tuhan, Allah kita,
yang diam di tempat yang tinggi,
yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?
Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu
dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.

Bait Pengantar Injil
Yoh 14:23
Orang yang mengasihi Aku akan mentaati sabd-Ku.
Bapa-Ku akan mengasihi Dia, dan Kami akan datang kepadanya.


Bacaan Injil
Luk 6:43-49
Mengapa kalian berseru kepada-Ku, "Tuhan, Tuhan!"
padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Yesus menyampaikan wejangan ini kepada murid-murid-Nya,
"Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik.
Dan tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.

Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya.
Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara
dan dari duri-duri orang tidak memetik buah anggur.
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik
dari perbendaharaan hatinya yang baik.

Tetapi orang jahat mengeluarkan barang yang jahat
dari perbendaharaan hatinya yang jahat.
Sebab yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Mengapa kalian berseru kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan!'
padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan?
Setiap orang yang datang kepada-Ku
dan mendengarkan sabda-Ku serta melakukannya,

-- Aku menyatakan dengan siapa ia dapat disamakan --

Dia itu sama dengan orang yang mendirikan rumah.
Ia menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu.
Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu,
rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena dibangun dengan kokoh.

Sebaliknya barangsiapa mendengar perkataan-Ku,
tetapi tidak melakukannya,
ia sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar.
Ketika dilanda banjir, rumah itu segera roboh,
dan hebatlah kerusakannya."

Demikianlah Injil Tuhan.

#


Mutiara Iman

*AKULAH YANG PALING BERDOSA*

16 September 2017

_"Di antara mereka akulah yang paling berdosa"_

(1 Tim 1:18)

Lectio
1 Tim 1:15-17; Mzm 113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk 6:43-49

Di suatu Sabtu pagi, Jeffry membawa beberapa umat untuk pelayanan di penjara. Tiba di LP, dia bertemu dengan Robert yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato, yang membawa makanan dan celana serta sandal pesanannya.
"Pak Jeffry, ini semua ada 130 untuk saudara kita di penjara." kata Robert.
Lalu Jeffry bertanya :
"Terimakasih pak. Sudah berapa lama melayani di penjara?"
Jawab Robert :
"Oh sudah hampir 13 tahun. Saya keliling dari satu penjara ke penjara lainnya."


Di dalam LP, Robert sudah sangat dikenal dan banyak napi yang antri untuk didoakannya. Lalu setelah pujian dan doa, Robert memberikan kesaksian :
"Saya masih ingat di tempat ini selama 3 tahun, saya mengalami KASIH TUHAN melalui SABDA-NYA. Dalam KEDOSAAN saya yang rasanya tak mungkin terampuni, saya justru mengalami KERAHIMAN-NYA. Hampir tiap malam saya menangis ketika TUHAN membentukku. Dan sekarang saya ingin membagikannya kepada saudara-saudaraku, bahwa KASIH TUHAN tampak nyata dalam setiap DOSA dan KELEMAHAN kita."

Paulus berkata dalam suratnya :
"Tetapi justru karena itu aku DIKASIHANI, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang PALING BERDOSA, Yesus Kristus menunjukkan seluruh KESABARAN-Nya."

Dalam KEDOSAAN, kita merasakan KASIH TUHAN.

Oratio
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Amin

Missio
_Marilah kita mewartakan KRISTUS Sang Juru Selamat._


*Have a Blessed Saturday.*

Mutiara-Iman.org

#


*Sabtu, 16 September 2017*
*Pekan Biasa XXIII*
*Peringatan Wajib*
*St.Kornelius, Paus* dan
*St.Siprianus, Uskup - Martir*

¤ 1Tim. 1:15-17
¤ Mzm 113:1-2,3-4,5a,6-7
¤ Luk 6:43-49
*"Sic omnis arbor bona fructus bonos facit"*
~ Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik ~


   Inilah ungkapan  tentang _kualitas,_ artinya tak ada pohon baik berbuah jelek dan tak ada pohon jelek berbuah baik, demikian pula dengan manusia.

   Mengacu pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan tentang _kualitas dan teladan hidup_ yang membuahkan kebaikan, bahkan keselamatan.
Adapun kualitas hidup itu dapat bertumbuh dan berbuah kebaikan karena *PHK*:
1. *Pikiran*
2. *Hati*
3. *Karakter*

Ketiga poin inilah yang menentukan _kualitas hidup_ sebagai orang beriman.

1. *Pikiran*
   Pikiran yang baik dan sehat akan menghasilkan buah-buah kebaikan pula; yang membentuk karakter kita sebagai orang kristiani yang baik; yang selalu membawa buah-buah kebaikan bagi banyak orang.

    Sebagai murid Tuhan, buah-buah yang baik adalah iman, harapan, kasih, keadilan, kebijaksanaan, kekuatan dan keugaharian.
  
2. *Hati*
   Hati dan jiwa akan memberikan warna pada tindakan dan seluruh sikap hidup. Jika hati dan jiwa itu baik akan menghasilkan tutur kata dan tindakan yang baik; sedangkan jika hati dan jiwa yang jelek akan menghasilkan tutur kata dan tingkah laku yang jahat dalam hidup.

    Hidup yang baik adalah hidup yang terpancar dari hati yang jujur, tulus dan ikhlas; hidup itu pun akan terarah kepada sesama yang penuh cinta dan perhatian.

   Disinilah kita diajak untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya, jadi buah perbuatan yang baik mesti lahir dari iman yang baik.

3. *Karakter*
   Karakter pribadi lahir dari pilihan hidup kita, karakter orang dikenal dari tingkah lakunya.

Banyak orang suka memberi nasihat yang bagus-bagus, meskipun terkadang tidak sesuai dengan kehidupan pribadinya.

   Tuhan selalu melihat hati kita, terutama menyangkut motivasi, intensi, keinginan dan pilihan-pilihan hidup kita.
Hal-hal teoritis tidak memiliki kekuatan yang besar dibandingkan dengan hidup yang nyata di hadapan Tuhan dan sesama.

Yesus berkata: _"Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."_ (Luk 6:45).

   Saudaraku, marilah menjadi orang beriman yang berkualitas.
  
Salam Kasih dan Damai Sejahtera Kristus senantiasa menyertai kita sekeluarga dalam upaya membina hidup iman yang berkualitas. Amin.

#


Renungan lain: 

2belife.blogspot.com

Friday, September 15, 2017

Bacaan Liturgi 15 September 2017 Jumat Pekan Biasa XXIII PW S.P. Maria Berdukacita. Meneladan Bunda Maria.

*Meneladan Bunda Maria*

PADA perayaan Maria Berdukacita, kita diajak untuk mengenang kembali kehidupan Bunda Maria. Bunda Maria percaya sepenuhnya terhadap kehendak dan rencana Allah meskipun jalan kehidupannya penuh dengan duka dan derita.

Bunda juga selalu setia menemani Yesus, bahkan mengikuti perjalananNya sampai di kaki salib, sementara para murid melarikan diri. Bunda tetap berdiri tegak walaupun hatinya hancur, kehadirannya memberikan kekuatan bagi Yesus untuk menuntaskan tugas perutusanNya di dunia.

Hidup di dunia tidak pernah terlepas dari kesulitan dan penderitaan. Setiap orang pasti mengalaminya, begitu pula sebagai bunda dari Yesus, Maria tidak terbebas dari penderitaan.

Penderitaan yang menderanya sungguh luar biasa, dimulai sejak dari Betlehem sampai ke Golgota. Sekalipun demikian, Bunda Maria menghadapinya dengan tabah, penuh iman dan tidak pernah kehilangan harapan.

Manusia memiliki kecenderungan untuk hidup nyaman dan menghindari kesulitan. Namun sebagai umat beriman hendaknya kita jangan pernah melarikan diri dari permasalahan, penderitaan, atau pun kesengsaraan yang akan kita temui di sepanjang jalan kehidupan.

Mari meneladani sikap Bunda Maria, pikullah salib kehidupan dengan taat dan setia, percaya dan berserah diri kepada Tuhan.

Mohon pertolongan kepada Bunda untuk mendoakan kita, agar tetap setia mengikuti Yesus dan menerima kehendak Allah sepahit apa pun. Semoga kelak kita layak menerima mahkota kehidupan abadi di dalam kerajaanNya.

#

DI tengah kedukaan, 

  iman mencabut rasa sakit dari setiap permasalahan.

*Richard Cecil*

#


Bacaan Liturgi 15 September 2017

Jumat Pekan Biasa XXIII
PW S.P. Maria Berdukacita

Bacaan Pertama
Ibr 5:7-9
Kristus telah belajar menjadi taat,
dan Ia menjadi pokok keselamatan abadi.


Pembacaan dari Surat kepada Orang Ibrani:

Saudara-saudara,
dalam hidup-Nya sebagai manusia,
Kristus telah mempersembahkan doa dan permohonan
dengan ratap tangis dan keluhan
kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.
Dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
Akan tetapi, sekalipun Anak Allah, Yesus telah belajar menjadi taat;
dan ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya.
Dan sesudah mencapai kesempurnaan,
Ia menjadi pokok keselamatan abadi
bagi semua orang yang taat kepada-Nya.


Demikianlah sabda Tuhan.

Mazmur
Mzm 31:2-3a.3b-4.5-6.15-16.20
R:17b
Selamatkanlah aku, ya Tuhan,
oleh kasih setia-Mu.


*Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung,
janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku,
bersegeralah melepaskan daku.

*Jadilah bagiku gunung batu tempat berlindung,
dan kubu pertahanan untuk menyelamatkan daku!
Sebab Engkaulah bukit batu dan pertahananku;
oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun
dan membimbing aku.

*Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring
yang dipasang orang terhadap aku,
sebab Engkaulah tempat perlindunganku.
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku;
sudilah membebaskan aku, ya Tuhan, Allah yang setia.

*Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya,
aku berkata "Engkaulah Allahku!"
Masa hidupku ada dalam tangan-Mu,
lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku
dan bebaskanlah aku dari tangan orang-orang yang mengejarku.

*Alangkah limpahnya kebaikan-Mu
yang telah Kausimpan bagi orang yang takwa kepada-Mu,
yang telah Kaulakukan di hadapan manusia
bagi orang yang berlindung pada-Mu!

Bait Pengantar Injil
Yoh 17:17b.a
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.
Kuduskanlah kami dalam kebenaran.


Bacaan Injil
Yoh 19:25-27
Inilah anakmu! - Inilah ibumu!


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes:

Waktu Yesus bergantung di salib,
didekat salib itu berdirilah ibu Yesus
dan saudara ibu Yesus,
Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya
dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,
berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
"Ibu, inilah, anakmu!"
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya,
"Inilah ibumu!"

Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Demikianlah Injil Tuhan.

#


Mutiara Iman

*INILAH IBU-MU*

15 September 2017

_"Ibu, inilah anakmu!...Inilah Ibumu"_

(Yoh 19:26-27)

Lectio
Ibr 5:7-9; Mzm 31:2-3a,3b-4,5-6,15-16,20; Yoh 19:25-27

Sejak datang ke kota Jakarta, Sandi bekerja keras membanting tulang dan setelah 5 tahun ia pun bisa membeli rumah di pinggiran jakarta. 


Lima tahun kemudian setiap pulang ke rumah, dia sering berjumpa seorang anak kecil di pinggir jalan yang diajaknya ke rumahnya untuk diberi makanan. Lama-kelamaan datang beberapa anak lagi sehingga tanpa terasa dalam satu tahun, ada 7 anak yang diasuhnya.


Ketika ada pertemuan BKSN di rumahnya, seorang pewarta berkata :
"Apa yang dilakukan Pak Sandi sudah melebihi apa yang saya wartakan. Pak Sandi sudah mau memberikan HARTA UTAMAnya bagi anak-anak ini, sehingga mereka tidak menjadi Yatim Piatu, sama dengan Yesus yang memberikan Bunda-Nya Bunda Maria kepada kita, supaya kita tidak menjadi anak yatim piatu."

Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya :
"Inilah ibumu!"

KESUCIAN diperoleh ketika kita MENYERAHKAN yang kita miliki kepada sesama.

Oratio
Ya Tuhan, tambahkanlah iman kami. Amin

Missio
_Marilah kita mau melepaskan apa yang kita miliki termasuk yang paling kita sayangi._


*Have a Blessed Our Lady of Sorrows Day.*

Mutiara-Iman.org

#


Friday, 15th SEPTEMBER
Our Lady of Sorrows

John 19:25-27

Standing by the cross of Jesus were his mother, and his mother's sister, Mary the wife of Cleophas, and Mary Magdalene. When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother, "Woman, behold, your son!" Then he said to the disciple, "Behold, your mother!" And from that hour the disciple took her to his own home.

After the Feast of the Holy Cross we look at Our Lady at the foot of Jesus Crucified. If we hold our Mother close to us and stand by her Son's Cross, we will learn something great from her. 


Consider that Mary wasn't hysterical in her grief or shouting back at those who tortured her Son. The Gospel does not mention whether she spoke encouraging words to Jesus as He was dying. It only says that she 'was standing by the Cross'. She was in a place where she could be seen by Jesus. And there she contemplated her Son in agony. What great comfort she gave to Jesus just by being there with Him!

Bear in mind that Our Lady was not there out of a sense of duty. Rather, she knew that for Jesus it was important to look down and find the lovely face of His Mother; to let Him know that He wasn't left alone. Until the end of time that is the place of Our Lady: at the foot of the Cross, close to her Son, co-redeeming with Him. That's where we find her constantly. 


Every Christian who suffers finds Mary always beside him or her. Because this Mother cannot ever abandon her children, and even less in time of suffering. 


By the bed of a sick child you find the mother. She may not say anything, but her presence comforts the child. 


Since that day on Calvary, it's impossible for a Christian to suffer alone. If we suffer, we are with Jesus on the Cross. And if we are there we will see Mary at our side.

As we try to learn from Mary how to pray, we see that prayer does not always imply words. We can pray as Our Lady does, by looking at Jesus and contemplating Him on the Cross. Love doesn't always need words. In fact, many times it needs no words. 


Mary, Mother of Sorrows, may I be a comfort for Jesus as He looks down from the Cross and finds you, His Mother, and me, holding your hand, "standing by the Cross".

#


Commentary of the day :

Blessed Guerric of Igny (c.1080-1157), Cistercian abbot
4th Sermon for the Assumption (©Cistercian Fathers series)

"From that hour the disciple took her into his home"

When Jesus was going round towns and villages preaching the Gospel, Mary was his inseparable companion, clinging to his footsteps and hanging upon his words as he taught, so much so that neither the storm of persecution nor dread of punishment could deter her from following her Son and Master. "By the Lord's cross there stood Mary, his Mother". Truly a Mother, who did not abandon her Son even in the face of death. How could she be frightened of death, when "her love was as strong as death," (Sg 8,6) or rather stronger than death? Truly she stood by Jesus' cross, when at the same time the pain of the cross crucified her mind and as manifold a sword pierced her own soul (Lk 2,35) as she beheld the body of her Son pierced with wounds. Rightly therefore was she recognized as his Mother there and by his care entrusted to a suitable protector, in which both the mother's unalloyed love for her Son and the Son's kindness toward his Mother were proved to the utmost...

Loving her as he did Jesus "Loved her to the end" (Jn 13,1), so as not only to bring his life to an end for her but also to speak almost his last words for her benefit. As his last will and testament he committed to his beloved heir the care of his mother... 


The Church fell to peter, Mary to John. This bequest belonged to John not only by right of kinship but also because of the privilege love had bestowed and the witness his chastity bore... It was fitting that none other than the beloved of her Son should minister to the mother of the Lord... Providence also arranged very conveniently that he who was to write a Gospel should have intimate conferences with her who knew about them all, for she had taken note from the beginning of everything that happened to her Son and "treasured up all the words concerning him, pondering them in her heart" (Lk 2,19).

#