Sunday, January 20, 2013

REN" Minggu, 20 Januari 2013. Empati. If you can dream it, then you can achieve it.

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya:
"Mereka kehabisan anggur."
______________
Renungan Minggu.
20 Januari 2013

Lectio:
Yes 62:1-5;
Mzm 96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ac;
1Kor 12:4-11;
Yoh 2:1-11

Saya dan istri saya, Eleanor, mengunjungi teman pada hari Sabtu ketika anak sembilan tahun mereka, Dana, pulang.
Dana hampir menangis, tak kuasa menahan air matanya.
"Oh sayang," kata ibunya. "Apa yang terjadi pada pertandingan renang?"

Dana adalah perenang hebat. Dia berlatih keras, biasanya tiba pada tempat latihan jam 6 tiap pagi dan sesekali berenang tiap sore juga. Dan upayanya berbuah, dia sering kali memenangi pertandingan, mencetak poin untuk tim renangnya. Jelas sekali dia sangat bangga dengan kemenangan-kemenangan ini.

"Saya didiskualifikasi," ujarnya kepada kami. Dia berenang dengan baik pada pertandingan, namun melakukan lompatan awal sepersekian detik sebelum pistol ditembakkan, jadi dianggap telah mencuri start.
Kami berada di serambi rumah dan dia duduk di tangga paling bawah, tas renangnya masih di bahunya, ia menatap ke angkasa, nyaris tanpa ekspresi.


"Sayang," ayahnya berkata, "masih ada banyak pertandingan renang musim ini. Kamu akan punya kesempatan lain untuk menang."

Saya mengatakan kepadanya, "Kenyataan bahwa kamu melompat lebih awal berarti kamu sedang berusaha semampunya. Kamu mencoba untuk tidak membuang sekian milidetik dalam keraguan. Itulah naluri yang tepat. Kamu meleset dalam memperhitungkan waktunya tapi itu tidak apa-apa. Semakin sering kamu latih, semakin baik kamu melakukannya."

"Setiap perenang dari setiap tim pada suatu saat pernah didiskualifikasi," kata Eleanor. "Itu bagian dari olahraga."

"Ibu yakin pelatih akan membantumu melatih lompatan awal sebelum pertandingan berikutnya," kata ibunya, "dan kamu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk meluncur ke kolam sehingga kamu tidak membuang waktu sedetik pun, sekaligus juga tidak melakukan start dini. Kamu akan menguasainya."

Semua yang kami katakan tampaknya tak berpengaruh padanya. Tak ada yang bisa mengubah tatapannya yang tanpa ekspresi. Tidak ada yang bisa membantu.

Kemudian neneknya, Mimi, berjalan mendekat.
Kami semua berdiri di dekat Dana, ketika Mimi melewati kami dan duduk di sampingnya. Dia memeluk Dana dengan lengannya dan hanya terdiam duduk di sana. Akhirnya, Dana menyandarkan kepalanya di bahu Mimi. Setelah beberapa saat dalam keheningan, Mimi mencium kepala Dana dan berkata,
"Aku tahu seberapa keras kamu berusaha untuk pertandingan ini, Sayang. Terasa sedih saat didiskualifikasi."

Pada saat itu, Dana mulai menangis. Mimi terus duduk di sana, dengan lengannya yang memeluk Dana, selama beberapa menit, tanpa berkata apa-apa.

Akhirnya Dana menatap Mimi, menyeka air matanya, dan berkata singkat,
"Terima kasih Mimi."

Semua dari kami kecuali Mimi melewatkan apa yang Dana butuhkan.
Kami mencoba untuk membuatnya merasa lebih baik dengan membantu dia melihat manfaat dari suatu kegagalan, menempatkan kekalahan dalam konteks, mengajarinya untuk menarik pelajaran dari hal itu, dan memotivasi dia untuk berusaha lebih keras dan lebih baik sehingga itu tidak terulang lagi.
Tapi dia tidak membutuhkan semua itu. Dia sudah tahu akan hal itu. Dan jika dia tidak tahu, dia akan menyadarinya sendiri.

Apa yang dia butuhkan? Hal yang tidak bisa ia berikan kepada dirinya sendiri, hal yang Mimi sentuh dan Mimi berikan kepadanya?
Empati.
_______________

Inilah Injil Yesus Kristus menurut St. Yohanes.
Yoh 2:1-11.

Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya:
"Mereka kehabisan anggur."

Kata Yesus kepadanya:
"Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu?
Saat-Ku belum tiba."

Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan:
"Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"

Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.
Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu:
"Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air."
Dan merekapun mengisinya sampai penuh.

Lalu kata Yesus kepada mereka:
"Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta."

Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya:
"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.
________________

" If you can dream it,
then you can achieve it.
You will get all you want in life if you help enough other people get what they want (Zig Ziglar)
Almarhum Senator Edward Kennedy dari Amerika Serikat, adik mantan Presiden J.F. Kennedy, pernah bilang,
"Kongres adalah sebuah lembaga yang membutuhkan kerja sama para anggotanya untuk dapat melahirkan produk legislatif. 

It takes compromise to make real progress."
Kompromi ternyata tidak cuma dibutuhkan di level kongres. Kompromi dan kesabaran ternyata dibutuhkan juga di lingkungan kerja mana pun.

Suatu hari lima anak OSIS janjian ketemu untuk rapat pesta perpisahan sekolah. Tiba pada jam yang sudah ditentukan, hanya ada satu anak yang hadir di kelas sesuai kesepakatan.  Adit namanya. Ia telepon teman no. 1, yang bilang, "Oh, gue lagi bikin pe-er, tanggung nih, bentar gue brangkat." Teman no. 2 bilang, "Aku lupa, sori, kukira sudah ketinggalan." Atas desakan Adit, ia mau datang. Teman no. 3 bilang, "Abis kemaren ga ada yang nelepon, gue pikir jadi gak sih? Kalo gue ga dibutuhin ya uda … 'Kan janjinya si Anu nelepon dulu."  Dia pun akhirnya mau datang meski bersungut-sungut. Teman no. 4 mengatakan, "Kukira kemarin janji itu main-main saja. Ya aku nyantai aja." Adit, meski heran kenapa si kawan begitu pasif dan cuek, tetap membujuk agar si teman datang. 

Akhirnya kelima anak itu berkumpul meski terlambat satu jam. Rapat jadi dilaksanakan, dan akhirnya pestanya berlangsung sukses. Berkat masih ada satu orang bernama Adit yang mempunyai kesabaran dan persistensi untuk mengajak teman-temannya berkumpul.
Ada satu hal lagi yang dimiliki Adit yang kurang dimiliki teman-temannya. Ia memiliki kemurahan hati, tak hanya terkait dengan pulsa hape-nya yang pasti banyak berkurang, tapi juga untuk tidak hitung-menghitung kesalahan teman.

Pembawaannya itu membuatnya nyaman diajak kerja sama. Ia disukai teman-teman, jadi narasumber untuk banyak hal sehingga makin lebih terlatih dalam pemecahan masalah.
Adit get things done.

Semakin dewasa, ia aktif di organisasi, dan ketika masuk bursa kerja tak mendapat masalah dalam kariernya. Orang mengatakan, Adit itu orang yang beruntung.

Kata-kata Zig Ziglar di atas menyimpulkan apa yang terjadi pada Adit, 
"be generous then life will be generous to you".

Ibarat bermain bulu tangkis, dalam hidup kita perlu siap mengembalikan bola, memukul bola, berlari mengejar bola, sehingga permainan mengalir. Hidup pun mengalir, saling memberi, dan dapat dinikmati bersama.
[Linda Li / Surabaya]
________________


God Bless All of You.























































No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.