Cerita yang lalu:
Lia mengira suaminya berselingkuh, maka dia pun berselingkuh dengan mantan pacarnya.
Penyesalan Lia membuat dirinya sulit tidur, saat dia menghadap dinding kamarnya, dia melihat salib Yesus yang disalibkan, yang membuat dia ingin ke gereja. Kebiasaan ikut misa telah lama ditinggalkannya karena kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan wanita karier. Maka di hari Sabtu dia pergi ke gereja, sendirian. Lia mau menerima sakramen pengakuan dosa. Pertamanya, Lia merasa berat mengungkapkan bebannya, namun kata-kata lembut dari romo,membuatnya lancar bercerita masalahnya. Setengah jam Lia di kamar pengakuan dosa, setelah keluar dari sana, wajahnya tampak lebih tenang, walaupun nampak bahwa dia baru saja menangis. Lia merasa bebannya terangkat dan kepercayaan dirinya meningkat, kepercayaannya bahwa Yesus akan bersamanya mengatasi masalah yang telah dia buat.
Lina merasa marah pada dirinya, menyesal mengapa dia harus mengikuti kemauan kakaknya untuk merayu kakak iparnya, sehingga kakak iparnya marah padanya. Lina sadar, dalam hati kecilnya bahwa dia cinta dan kagum kepada kakak iparnya, karena keluarga kakaknya selalu tampak damai dan bahagia. Bagi Lina, kakak iparnya Hengky adalah pria yang hampir sempurna. Kekagumannya semakin bertambah saat Hengky menolak penyerahan dirinya, padahal menurut Lina, dia satu tingkat lebih cantik dibandingkan kakaknya, wajahnya, tubuhnya dan penampilannya lebih baik dari Lia.
Lina juga merasa menyesal karena dia telah membuat kekacauan dalam keluarga Lia, dengan mengatakan bahwa kakak iparnya berselingkuh dengan rekan bisnisnya, Dian. Kebetulan kebohongannya merasa dibuktikan kakaknya dengan menelpon suaminya sewaktu dia ke luar kota, dan ternyata yang mengangkat teleponnya adalah Dian, rekan bisnis Hengky. Saat Lia menanyakan suaminya, Dian mengatakan bahwa kebetulan Hengky sedang sibuk membuat presentasi bersama dirinya dalam ruang tamu di kamar hotel. Kesempatan berbuat iseng, membuat Lina memanas hati kakaknya, sehingga untuk pertama kalinya Lina melihat kakaknya, Lia, sangat cemburu. Kesempatan lainnya, saat Lia bertemu dengan mantan pacarnya, John, Lina juga yang mengatakan kepada Lia, tidak ada salahnya membina kembali hubungan lama.
Tapi Lina merasa kesalahan kakaknya berselingkuh, bukan tanggung jawab dia. Lina menyesal dengan perbuatan isengnya, sehingga keluarga kakaknya dalam masalah besar dan dia berjanji akan membantu kakaknya menyelesaikan masalahnya, walaupun itu bisa berarti dia harus meninggalkan rumah kakak iparnya. Lina merasa sudah waktunya, dia membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Rasa cinta John kepada Lia memang tak pernah terlepas dari hatinya. Bagi John, Lia adalah wanita pertama dan selamanya di hatinya. Pernikahannya dengan Jenny, isterinya yang sekarang, adalah karena Jenny menggoda dirinya setiap hari, sehingga dalam keadaan mabuk, dia dan Jenny melakukan hubungan suami isteri. Bagi Jenny yang memang mencintai sepenuhnya, pengorbanannya adalah bukti cinta kasihnya yang besar. Jenny memang tidak mengatakan kepada keluarganya tentang kehamilannya berbulan-bulan, bahkan tidak meminta tanggung jawab John. John hanya merasa kasihan kepada Jenny dan rasa tanggung jawab kepada bayi dalam kandungan, anaknya yang pertama.
Maka setiap bulan, dia yang memaksa dan mengantar Jenny ke dokter kandungan, saat Jenny bersikeras tidak mau menggugurkan kandungannya. Dan pada kehamilan Jenny yang keenam, mereka menikah. John masih ingat betapa bahagianya Jenny, dia tersenyum terus sepanjang hari pernikahan, dia tidak memperdulikan pandangan mata para tamu yang memandang perutnya yang tampak agak besar. Pada saat itu, John sungguh merasa dia telah berbuat baik kepada Jenny. Dan saat kelahiran anaknya, John berada disana dan menunggui Jenny sepanjang malam di rumah sakit bersalin.
John sepakat dengan Jenny, memberi nama Jack kepada anaknya. John sangat sayang kepada Jack, baginya Jack selalu lucu dan membanggakan. Tingkah lakunya yang baik, hasil prestasi akademiknya yang baik walaupun tidak pernah dipaksa untuk belajar. Bagi John, Jack adalah anugerah. Saat kepindahan mereka kembali ke Indonesia, Jack bersekolah di asrama di luar kota. Mungkin hal ini yang kemudian memicu pertengkaran yang besar antara dirinya dan Jenny, karena sebelum ini pertengkaran mereka selalu berakhir dalam beberapa jam karena tingkah laku Jack yang membuat papa mamanya menjadi rukun kembali.
John segera meninggalkan pekerjaannya saat dia menerima telepon dari asrama sekolah bahwa Jack mendapat kecelakaan, karena Jack belajar sepeda motor dan menabrak pohon besar dengan keras. Selama beberapa jam, John menunggui Jack yang harus dioperasi karena mengalami patah tulang tangan, kaki, dan dua buah tulang rusuknya. John tak henti-hentinya berdoa agar Tuhan (yang lama tak disebut dalam hati dan bibirnya) mampu menyembuhkan Jack dan dia berjanji apapun akan dia lakukan jika Jack sembuh. Berbagai Doa dan janji, John ucapkan agar Jack mendapat kasih Tuhan, agar dapat melanjutkan hidup di masa mudanya.
Hari-hari selanjutnya, merupakan hari yang sibuk bagi John, karena dia harus mengatur pekerjaaan dan kunjungan ke rumah sakit menemani anaknya. Ketika Jack berangsur sembuh dan keluar dari rumah sakit, Jack meminta agar John mau tetap bersatu dengan Jenny dan membina keluarga yang bahagia. John mengangguk kepalanya. Baginya saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan putra tunggalnya, Jack. Yang lain, sudah tidak penting baginya. Maka John dengan mudah menyetujui permohonan Lia, untuk tidak bertemu lagi dan berbicara cinta lama mereka. (John masih ingat suara Lia yang merasa lega dan ucapan terima kasihnya, saat dia menyetujui keinginan Lia)
Selasa, 12 April 2011 : ADAKAH MAAF ATAS KESALAHANKU (2/3)
Bil.21:4-9 + Mzm.102:2-3,16-21 + Yoh.8:21-30 (Yesus bukan dari dunia ini)

No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.