Wednesday, April 13, 2011

ADAKAH MAAF ATAS KESALAHANKU? (3/3)

Cerita yang lalu:
Lia mengira suaminya berselingkuh, maka dia pun berselingkuh dengan mantan pacarnya. Lia insyaf atas kesalahannya, maka dia memutuskan hubungan dengan mantan pacarnya.

     Lia tidak menyangka bahwa John mau melepaskan hubungan mereka dengan mudah. Lia bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dengan memberikan sumbangan yang cukup besar kepada suatu yayasan yatim piatu yang dekat dengan rumahnya. Sekarang Lia tinggal menghadapi masalah yang terbesar, berbicara penyesalan atas perselingkuhannya dengan suaminya, Hengky. 

     Dalam beberapa hari ini, Lia selalu berada di rumah, ada saja yang dirapikannya, sehingga anak-anak dan suaminya heran, ada apa dengan Lia, sehingga Lia rajin benar berada di rumah dan merubah suasana rumah dengan mengubah posisi meja dan kursi serta beberapa perabotan. Tentu saja, suami dan anak-anaknya senang, karena dalam beberapa hari ini, mereka di manjakan dengan berbagai makanan lezat buatan sang koki ahli, Lia. Kemampuan Lia dalam mengolah makanan, rupanya masih cukup bagus, walaupun sudah satu tahun ini, dia absen memasak.

     Kesempatan berbicara itu akhirnya datang pada suatu sabtu malam, mereka baru saja selesai makan malam bersama, suasana yang ada sungguh kekeluargaan dan menyenangkan. Setelah mereka kembali ke rumah dan menemani anak-anak tidur, Lia dan Hengky duduk berdua menikmati suasana tamannya di malam hari. Suasana yang tenang, cahaya bulan yang bersinar penuh, membuat mereka terkenang akan masa lalu, saat mereka masih berpacaran.

“Pa, aku ada hal penting yang ingin kubicarakan,” kata Lia dengan lirih.
“Eehm, pentingkah? Ada apa sayang ?” jawab Hengky dengan lembut.
Tiba-tiba, Lia sedikit menjauh dari duduknya dan menghadapkan badannya ke arah Hengky.
“Papa masih ingat saat aku cemburu akan hubungan papa dengan Dian, sahabat bisnis papa?”
“Oh,  itu. Lalu...?” Sesaat tangan kiri Hengky memegang tangan kanan Lia.

Namun Lia dengan perlahan menarik tangannya. Hatinya sedang galau.
“Beberapa hari setelah itu, aku bertemu dengan mantan pacarku, John, dan kemudian aku .... (terdengar isak tangis Lia sesaat, lalu dia melanjutkan) terlibat nostalgia dengannya. Dan aku terlibat affair dengannya.”
“Maaf, sayang. Apakah kisah kamu ini penting untukku?”
“Ya....” jawab Lia dalam isak tangisnya. “Aku mau papa mengetahui hal ini dari diriku, bukan dari orang lain.”
“Sayang, apakah kisah ini merupakan kisah yang baik?”
“No (Tidak).” Jawab Lia dengan perlahan namun tegas, setelah dia menghentikan isak tangisnya.
“Sayang, apakah kisah ini dapat merusak hubungan keluarga kita?”
“Ya.”

“Sayang, apakah perlu diceritakan hal yang merusak hubungan keluarga kita?”
“Aku mau, agar papa dapat memahami masalahnya dan berharap mendapat pengampunan darimu.” Jawab Lia dengan sedih.
“Sayang, apakah masalah ini, mungkin dengan mantan pacarmu, sudah kamu selesaikan ?”
“Sudah. Dan sejak beberapa hari yang lalu, kami sepakat untuk tidak bertemu lagi.”

“Sayang, jika kamu sudah menyelesaikan masalahmu dengan baik. Bagiku, sudah selesai. Sayang, aku mencintaimu, apa adanya. Memang aku berharap tidak banyak masalah dalam rumah tangga kita, karena aku berharap kamu dapat mengatur bisnismu dan keperluan keluarga. Adakah hal yang ingin kau bicarakan lagi, sayang ?” Jawab Hengky dengan lirih, pandangan matanya sungguh penuh kasih kepada Lia.
“Aku ingin menunjukkan beberapa foto kepadamu. Ini fotonya, kamu lihatlah.” Lia menyerahkan beberapa foto dirinya (yang diberikan John kepada pembantunya, untuk mengancam dia agar cepat bercerai dari Hengky).

Perlahan Hengky melihat foto-foto istrinya, dari duduk dengan santai, dia lalu duduk dengan tegak, wajahnya tegang, matanya memandang dengan tajam kepada Lia. Hengky diam, otot tangannya menegang. Hati Lia, sangat sakit, dia menyesal akan perbuatannya, namun dia ingin masalahnya cepat selesai, apapun resikonya.  Baginya, lebih baik saling terbuka dan jujur apa adanya, sehingga mereka, dapat saling mempercayai satu sama lain. Lia memang berharap dalam suasana yang tenang, Hengky dapat memaafkan dirinya. Lia tahu, hati Hengky terluka akan penghianatan dirinya.

Lama Hengky terdiam. Lalu perlahan-lahan dia duduk dengan lemas dan terdengar nafas panjang dari hidungnya. Melihat hal itu, Lia menangis dengan lirih, andaikata waktu dapat diulang, tak akan dia lakukan hal yang bodoh itu. Sungguh bodoh cemburu untuk hal yang tidak benar dan kemudian melakukan kebodohan lainnya. Lia mengingatkan dirinya, agar semua kejadian harus dihadapi dengan tenang. Dalam hatinya, Lia berulang-ulang berdoa,”Tuhan Yesus, kasihanilah aku. Tolonglah aku, suamiku dan keluargaku agar masalahku dapat selesai. Aku percaya akan Kasih-Mu dan kuasa-Mu.”

“Lia, apa yang kamu kehendaki dari kejadian ini?” Terdengar suara Hengky dengan tegas.
“Maukah engkau memaafkan diriku? Aku berjanji ini adalah hal bodoh yang kubuat untuk terakhir kalinya. Maafkanlah aku, biarkanlah aku hidup bersama anak-anak kita. Aku berjanji akan melayani kamu dan anak-anak lebih baik.” Jawaban Lia terdengar perlahan namun jelas disela-sela suara tangisnya.

Hengky terdiam, tak pernah terlintas di benaknya bahwa isterinya yang cantik dan baik ini, dapat berselingkuh. Suasana saat itu, terasa menegangkan. Gerakan kepala dan mata Hengky dan suara tangis Lia yang lirih,  membuat suasana malam itu terasa panas, seolah-olah akan ada suatu ledakan. Lia tidak berani memandang suaminya, dia hanya menundukkan kepalanya, menangis dengan pasrah, menunggu keputusan Hengky.

“Lia, apakah kamu masih mencintai aku ?” Tiba-tiba terdengar suara Hengky dalam keheningan.
“Ya.”
“Mana yang lebih kau cintai aku atau mantan pacarmu? Pikirlah dahulu dan jawablah dengan hati dan pikiranmu.”
“Aku telah berpikir dalam beberapa hari ini. Aku sungguh mencintaimu. Hal itu terjadi karena aku khilaf, terbawa emosi, rasa cemburu, rasa ingin membalas perbuatanmu yang kupikir kau berhianat kepadaku. Kebetulan dia (John,mantan pacar Lia) ada dan aku terbawa suasana masa lalu. Namun itu semua telah berlalu. Aku tidak ada hubungan lagi dengan dia. Aku hanya berharap masih dapat menemanimu dan anak-anak sampai aku tiada.” Lia dengan perlahan, mengatakan semua hal itu.

“Ok, Lia. Bakar semua foto ini dan semua yang menyangkut hal itu. Hapuskan air matamu. Kejadian ini telah berlalu, semoga ini menjadikan pelajaran buat kita semua,” kata Hengky dengan suara tegas. Namun suaranya semakin lama, semakin tenang. Sesaat kemudian, dengan lembut Hengky merangkul pundak Lia.

“Lia, aku memaafkan dirimu, karena aku tahu bahwa engkau sudah ke gereja untuk minta pengampunan dosa. Jika Tuhan saja memaafkan engkau, masa aku tidak dapat memaafkanmu. Marilah mulai sekarang, kita lebih sering berkomunikasi dan lebih sering berkumpul. Aku akan mengatur jadwalku, agar setiap minggu, kita mempunyai waktu untuk bersama anak-anak melakukan suatu aktivitas. Aku berharap engkau melakukan hal yang sama.”

“Terima kasih, papa. Aku akan mengatur waktuku. Bagaimana kalau kita mulai aktif di Gereja atau ikut kegiatan lingkungan, agar kita selalu diingatkan?” Lia nampak sangat bersyukur dan berterima kasih atas pengertian suaminya. Lia sungguh merasa, semua ini kuasa Tuhan. Hal yang mustahil, telah selesai dengan sangat baik. Dalam hatinya, berulang-ulang, Lia berkata,”Tuhan Yesus, terima kasih.”


Rabu, 13 April 2011 : ADAKAH MAAF ATAS KESALAHANKU? (3/3)
Dan.3:14-20,24-25,28   +   MT.Dan.3:52-56   +   Yoh.8:31-42  (Kebenaran yang memerdekakan)

No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.