"DEKAPLAH AKU DALAM MANTELMU, BUNDA"
Kerasnya hidup tidak hanya memperlemah ragaku,
tapi telah membuat jiwaku merana dan terasing.
Tiba-tiba kudengar alunan suara yang bernyanyi:
"Ave...Ave...Ave MARIA......Ave...Ave...Ave MARIA."
Kuhampiri tempat di mana engkau berdiri kokoh
dengan senyum keibuanmu; tempat di mana engkau
dihormati oleh putra-putrimu atas amanat suci Putra Tunggalmu,
Yesus dari Salib; "Ibu, inilah anakmu."
Ketika mukaku kuangkat memandangmu,
aliran kasih nan lembut keibuanmu mengalir
melingkupi seluruh tubuhku, dan jiwaku pun
merasakan kedamaian yang tiada taranya.
Kerasnya hidup tidak hanya memperlemah ragaku,
tapi telah membuat jiwaku merana dan terasing.
Tiba-tiba kudengar alunan suara yang bernyanyi:
"Ave...Ave...Ave MARIA......Ave...Ave...Ave MARIA."
Kuhampiri tempat di mana engkau berdiri kokoh
dengan senyum keibuanmu; tempat di mana engkau
dihormati oleh putra-putrimu atas amanat suci Putra Tunggalmu,
Yesus dari Salib; "Ibu, inilah anakmu."
Ketika mukaku kuangkat memandangmu,
aliran kasih nan lembut keibuanmu mengalir
melingkupi seluruh tubuhku, dan jiwaku pun
merasakan kedamaian yang tiada taranya.
