Saturday, November 24, 2018

1811242. Perkawinan Levirat (RD Josep Susanto).

Perkawinan Levirat
(RD Josep Susanto)



Dengan adanya fakta bahwa orang-orang Saduki yang tidak percaya akan adanya kebangkitan, memberikan kita gambaran bahwa ide tentang kebangkitan dari orang mati ternyata masih menjadi sebuah perdebatan atau kontroversi bahkan sampai jaman Yesus sendiri.

Terbukti, di samping kaum Saduki, ternyata ahli Taurat, kaum Farisi, kaum Eseni, percaya akan sebuah kebangkitan dari orang mati.

Sedikit informasi ini memberikan kita sebuah gambaran umum betapa sulitnya orang-orang pada jaman itu untuk mempercayai berita tentang kebangkitan Yesus dari kematian, termasuk para rasul sendiri.

Orang Saduki mengungkapkan alasan ketidakpercayaan mereka tentang kebangkitan dengan sebuah cerita klasik yaitu 7 orang bersaudara yang menikah dengan satu orang perempuan.

Latar belakang kisah ini adalah adanya budaya Perkawinan Levirat, di mana bila seorang laki-laki menikahi seorang perempuan, dan mati sebelum meninggalkan keturunan, maka istrinya itu harus menikah dengan adik/saudara suaminya, untuk membangkitkan keturunan bagi kakaknya.

Budaya ini tidak asing bagi para pembaca Kitab Suci sebab kita sudah familiar dengan kisah Tamar yang harus menikah dengan anak-anak Yehuda (Er, Onan dan Shela, bdk. Kej 38).

Dalam kesempatan ini marilah kita masuk ke dalam diskusi budaya perkawinan Levirat yang sering terjadi di kalangan para ahli, terutama para kaum feminist Kitab Suci.

Perkawinan Levirat sebenarnya bisa dilihat sebagai usaha masyarakat untuk melindungi kaum perempuan dari keadaan yang sangat terpuruk, yaitu menjadi janda tanpa keturunan.

Kisah ini bisa kita lihat dari Kisah Naomi setelah kematian Mahlon dan Kilyon, anak-anaknya, yang mati tanpa meninggalkan keturunan.

Naomi bahkan menyebut dirinya dengan sebutan "Mara" yang artinya "pahit".

Hidupnya penuh dengan kepahitan setelah tidak ada lagi laki-laki dalam hidupnya.

Janda seperti Naomi, Ruth dan Orpha ini harus hidup tanpa penopang, pelindung dan penjamin hidup.

Biasanya di Israel, para janda ini harus berakhir menjadi pengemis di sekitar rumah-rumah ibadat, menanti kebaikan dan sedekah dari orang-orang yang lewat.

Namun terkadang perkawinan Levirat seperti ini bukan membantu kaum perempuan, tetapi malah menambah penderitaan bagi janda tersebut.

Contoh paling kelihatan bisa kita lihat dalam kisah Tamar di Kej 38. Janda tanpa anak ini harus menikah tanpa cinta, dipermainkan, hanya dimanfaatkan oleh kaum laki-laki, dan haknya tidak pernah diberikan.

Onan, anak kedua Yehuda, tidak rela membangkitkan keturunan bagi Er kakaknya.

Onan hanya memanfaatkan Tamar sebagai alat pemuas nafsunya, tetapi tidak membiarkan Tamar hamil.

Sebab kalau Tamar hamil, hak anak sulung beserta warisannya akan turun kepada anaknya Tamar, meski itu dari benihnya Onan.

Dari kisah Tamar di Kej 38 menunjukkan bahwa perkawinan Levirat tidak 100% membantu kaum perempuan dari situasinya yang sulit dan pahit.

Menjawab pertanyaan orang Saduki, Yesus menegaskan bahwa kelak di surga orang tidak kawin atau pun dikawinkan, tetapi mereka hidup sebagai anak-anak Allah, dalam situasi yang sama sekali baru dari keadaan di dunia.

Jawaban Yesus ini bagaikan jawaban jenius bagi kebuntuan pikiran orang Saduki.

Maka tidak heran para ahli Taurat yang mendengar jawaban Yesus itu berkata: Guru, jawabanMu itu tepat sekali.

Penginjil Lukas menggambarkan setelah jawaban pamungkas Yesus ini, tidak ada satupun dari para lawan Yesus yang berani menanyakan apa-apa lagi kepada Yesus.

Selamat pagi
Tuhan memberkati weekend kita.


No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.