Ahab dan Izebel:
Bad Combination In The Bible
(RD Josep Susanto)
Berbahagialah Anda bila Anda punya pasangan hidup / sahabat yang punya kualitas hidup, kematangan rohani, kematangan emosi yang baik.
Apalagi orang itu bisa membimbing Anda ke arah yang baik dan lebih baik lagi dari hari ke hari.
Salah satu kriteria bahwa pasangan yang sehat adalah Anda berdua memiliki kualitas komunikasi yang baik.
Kualitas komunikasi yang baik ini bukan berarti tidak pernah ribut atau tidak pernah silang pendapat.
Masalah akan selalu ada, tetapi tinggal bagaimana Anda berdua mengatasinya dengan baik.
Komunikasi yang baik itu perlu dan bisa dilatih dengan semangat pantang menyerah.
Bacaan pertama dalam misa hari ini memberikan kita CONTOH bagaimana pentingnya
1. Kedewasaan pribadi.
2. Komunikasi yang terbuka.
3. Kematangan rohani.
Tanpa 3 hal di atas, kualitas hubungan Anda semakin memburuk.
Gak percaya, yuk kita lihat bagaimana relasi Raja Ahab dab istrinya Izebel.
Raja Ahab tampak sekali tidak memiliki kedewasaan yang matang. Ia mudah iri, tidak pernah puas dengan apa yang ia miliki, otomatis ia menjadi pribadi yang tidak pernah bersyukur.
Ahab punya segala galanya, karena ia raja. Tapi ia masih mau kebun anggur Nabot, tetangganya yang miskin, yang hartanya cuma kebun anggur itu.
Ahab adalah pribadi yang materialistis. Ia mencoba menukar milik pusaka Nabot dengan uang. Dia pikir uang bisa membeli segalanya.
Ketika maksudnya tidak kesampaian, Ahab marah tetapi tidak berani, karena dia tahu dia salah.
Maka tindakannya yang berikut adalah mutung, ngambek, diem-dieman, menarik diri, tidak mau makan, dan sejenisnya. Ini tanda ketidakdewasaan Nabot dalam mengatasi masalah.
Selain tabiatnya buruk, nasib Ahab juga kurang beruntung, karena ia memiliki istri yang tidak lebih baik kualitasnya dari dirinya, bahkan lebih jelek lagi.
Izebel, istrinya adalah pribadi yang suka ambil jalan pintas. Komunikasi antara Ahab dan Izebel bukan komunikasi, tetapi sekedar pemenuhan ambisi pribadi masing-masing.
Izebel mencari jalan keluar seenaknya sendiri, main kuasa, menghasut yang sangat kejam dengan fitnah sampai Nabot mati dilempari batu.
Di balik semua sifat buruk Raja Ahab dan Izabel istrinya, sebenarnya ada satu akar yang paling penting, yaitu: tidak adanya rasa takut akan Tuhan.
Mereka berdua tidak mengenal Tuhan dengan cukup. Semuanya seolah dirasa cukup dengan uang dan kekuasaan yang mereka miliki.
Kemajuan teknologi, kenyamanan dan kenikmatan dunia jaman sekarang kalau tidak hati-hati bisa membuat kita mempunyai sifat seperti Raja Ahab dan Izebel, malah bisa jauh lebih buruk.
Sifat-sifat warisan mereka seperti: serakah, fitnah, main kuasa, melenyapkan nyawa orang demi ambisi pribadi.... sementara doa, agama, dan Tuhan nomor sekian dari hidup manusia jaman sekarang.
Salam,
Rm Jo
#

No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.