*Selalu Bersikap Waspada Dan Setia Berelasi DenganNya*
SABDA pada hari ini memberi nasihat kepada kita semua untuk selalu bersikap waspada dalam menjalani peziarahan hidup, agar tidak terlena dan terbuai oleh kesenangan yang ditawarkan oleh dunia.
Yesus tidak melarang kita untuk menikmati hal-hal duniawi, namun kita harus memiliki pengendalian diri agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, ambisi dan keserakahan yang menyebabkan kita terseret oleh arus dosa yang membawa kita kepada kebinasaan kekal.
Selalu setia menyediakan waktu untuk menarik diri dari kesibukan duniawi, dan masuk ke dalam keheningan untuk berelasi denganNya.
Dengan semakin menyadari kehadiranNya di dalam hati, kita akan terdorong untuk menjaga setiap pikiran, perkataan dan perbuatan kita agar tidak mendukakan hatiNya dan mencemari kekudusanNya.
Mari dengan rendah hati, mohon rahmat dan pertolonganNya agar kita dimampukan untuk menapaki jalan kebenaranNya dan bertumbuh di dalam kekudusan.
#
Bacaan Liturgi 26 November 2016
Sabtu Pekan Biasa XXXIV
Bacaan Pertama
Why 22:1-7
Malam takkan ada lagi, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka.
Pembacaan dari Kitab Wahyu:
Aku, Yohanes, mendapat penglihatan sebagai berikut:
Malaikat Tuhan menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan.
Airnya jernih bagaikan kristal,
dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba.
Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu seberang-menyeberang sungai itu,
ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali,
tiap-tiap bulan sekali.
Dedaunan pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.
Maka takkan ada lagi laknat.
Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya
dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya.
Mereka akan melihat wajah-Nya,
dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.
Malam takkan ada lagi di sana,
dan mereka takkan memerlukan lagi cahaya lampu dan cahaya matahari,
sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka,
dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
Lalu Ia berkata kepadaku,
"Semua perkataan ini tepat dan benar.
Tuhan Allahlah yang memberi roh kepada para nabi
dan telah mengutus malaikat-Nya
untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya
apa yang harus segera terjadi.
Sungguh Aku datang segera.
Berbahagialah orang yang menuruti perkataan nubuat kitab ini!"
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur
Mzm 95:1-7
R:Why 21:20b
Maranatha!
Datanglah, ya Tuhan Yesus!
*Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorak bagi Gunung Batu keselamatan kita.
Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur,
bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.
*Sebab Tuhan adalah Allah yang besar,
Raja Agung yang mengatasi segala dewata.
Lembah dan palung bumi ada di tangan-Nya,
puncak-puncak gunung pun kepunyaan-Nya.
Milik-Nyalah laut, Dia yang menjadikannya,
milik-Nyalah daratan, tangan-Nyalah yang membentuknya.
*Masuklah, marilah kita sujud menyembah,
berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita.
Sebab Dialah Allah kita;
kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.
Bait Pengantar Injil
Luk 21:36
Berjaga-jaga dan berdoalah selalu,
agar kalian layak berdiri di hadapan Anak Manusia.
Bacaan Injil
Luk 21:34-36
Berjaga-jagalah,
agar kalian terluput dari malapetaka yang akan terjadi.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:
Pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
"Jagalah dirimu,
jangan sampai hatimu sarat oleh pesta pora dan kemabukan
serta kepentingan-kepentingan duniawi,
dan jangan sampai hari Tuhan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.
Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.
Berjaga-jagalah senantiasa, sambil berdoa,
agar kalian mendapat kekuatan
untuk luput dari semua yang akan terjadi itu,
dan agar kalian tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."
Demikianlah Injil Tuhan.
#
Yohanes Berchmans.
Imam. Pelindung para pelajar.
Yohanes Berchmans lahir di kota Diest, Belgia Tengah pada tanggal 13 Maret 1599. Ayahnya yang tukang kayu itu bercita-cita agar Berchmans kelak menjadi orang yang berpangkat tinggi dan masyhur namanya.
Dalam sikapnya yang tenang laksana air jernih tak beriak, Berchmans bercita-cita menuntut ilmu setinggi-tingginya. Ia mendapat pelajaran bahasa Latin dari Peter Emerich. Imam ini sering mengajaknya ke biara dan pastoran.
Pengalaman inilah yang mempengaruhi cita-citanya di kemudian hari yaitu menjadi seorang imam. Tetapi karena perusahaan ayahnya, mengalami kemunduran hebat dan ibunya sakit keras, ia dipanggil pulang ke rumah agar bisa membantu ayahnya dalam memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Ayahnya memutuskan untuk menghentikan studinya.
Mendengar keputusan ayahnya, ia diam tertegun sambil merenungkan nasibnya di kemudian hari. Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan studinya atas tanggungan pribadi dan berjanji untuk makan roti kering saja dan hidup sederhana, asal cita-citanya tercapai. Ayahnya mengalah.
Sambil mengikuti pelajaran di sebuah kolese umum, ia bekerja sebagai pelayan di gereja Katedral untuk memperoleh nafkahnya. Berkat kecerdasan serta kemauannya yang keras, ia selalu lulus dalam ujian dengan nilai yang gemilang. Ia bahkan selalu menjadi juara kelas. Teman-temannya sangat baik dan sayang padanya karena tabiatnya yang tenang dan periang.
Kegemarannya adalah menjadi pelakon dalam setiap drama yang di pertunjukkan sekolah. Ketika menginjak tahun terakhir studinya yaitu tahun retorika, ia pindah ke Kolese Yesuit di Malines pada tahun 1615. Hal yang menarik dia ke sana ialah semangat perjuangan dan kemartiran para misionaris Yesuit di Inggris.
Tahun 1616, setelah mengalahkan ketegaran hati ayahnya, ia masuk novisiat Yesuit dan setahun kemudian ia dikirim ke Roma untuk melanjutkan studinya di sana.
Dari sana ia mengirim surat kepada orang-tuanya: "Dengan rendah hati, aku berdoa untuk ayah dan ibu. Dan dengan segenap kasih-sayangku dan cintaku . . . saya ucapkan 'selamat datang dan selamat tinggal' kepada kalian, karena kalian mempersembahkan kembali aku puteramu, kepada Tuhan. Dia yang telah memberikan aku kepada kalian."
Sebagai novis, Berchmans sangat mengagumkan. Hidup asketik dan tulisan-tulisan rohaninya sangat mendalam, sempurna, seperti tampak di dalam kalimat:
"Menabung banyak harta dalam bejana yang kecil."
Sekali peristiwa ia membaca riwayat hidup Santo Aloysius. Pedoman yang diambilnya dari Aloysius ialah: "Jika saya tidak jadi orang suci di masa mudaku, maka tak pernah saya akan menjadi demikian."
Tuhan memberinya waktu tiga tahun untuk mencapai apa yang diidamkannya. Dua hari sebelum pesta Santa Maria diangkat ke Surga, yaitu tanggal15 Agustus 1621, ia meninggal dunia dalam usia 22 tahun. Meskipun dia meninggal dalam usia yang begitu muda, namun ia dinyatakan 'kudus' oleh Gereja karena ia menyempurnakan diri dengan melaksanakan tugas-tugas hariannya dengan sangat baik.
Ia berhasil mencapai cita-citanya: menjadi seorang biarawan yang tekun melaksanakan tugas-tugas yang sederhana dengan sempurna penuh tanggung jawab, riang dan senang hati demi cinta akan Tuhan.
Berchmans menjadi contoh teladan dan pelindung para pelajar.
No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.