Kebaikan Tuhan yang seharusnya membuat kita "kuat" dalam menghadapi masalah, bukan masalah membuat kita melupakan kasih-Nya.
(Rom 8:28).
______________
RenHar
Sabtu, 16/3.
Yer 11:18-20
Yoh 7:40-53
Dalam pesan Prapaskah 2013, Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa sebagai pengikut Yesus, hidup kita merupakan pendakian gunung terus menerus untuk berjumpa dengan Allah. Setelah itu, kita harus turun & dengan kasih Allah mau berbagi kasih pada sesama dalam lembah kehidupan nyata, tidak lagi seperti Bacaan KS hari ini yg sampai sekarang masih terjadi di sekitar kita, yaitu orang mudah mencari kesalahan orang lain, tanpa keadilan & tepaslira ...
Selamat pagi ..
Selamat berakhir pekan ..
Berkah Dalem...
⌣Jʧܧ♪ΒŁÊ§§♪Ů⌣☺
_______________
Bacaan dari kitab nabi Yeremia.
= Yer.11:18-20 =
TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku.
Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku:
"Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya!
Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!"
Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
_____________
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes.
= Yoh.7:40-53 =
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata:
"Dia ini benar-benar nabi yang akan datang."
Yang lain berkata:
"Ia ini Mesias."
Tetapi yang lain lagi berkata:
"Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!
Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.
Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
Jawab penjaga-penjaga itu:
"Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka:
"Adakah kamu juga disesatkan?
Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?
Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:
Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?
Jawab mereka:
"Apakah engkau juga orang Galilea?
Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."
Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
________________
Saya teringat pengalaman masa lalu ketika saya lulus kuliah dan mulai berwirausaha.
Dua tahun lebih berupaya mencari bentuk usaha namun dari beberapa usaha yang saya rintis tidak ada yang membuahkan hasil. Malah meninggalkan hutang dan menghancurkan kepercayaan diri.
Ketika saya punya usaha pabrik kerupuk, saya punya 4 tenaga penjual. Tiga hari mereka tidak setor hasil penjualannya, namun setiap hari mengambil kerupuk. Hari keempat mereka semua lari entah kemana. Tidak lama setelah itu perusahaan kerupuk saya sekarat karena kehabisan modal kerja.
Ketika menjadi agen jagung, membeli jagung dari petani dan membawanya ke pabrik, untuk mendapatkan selisih dari jasa perkilogramnya. Saya percayakan uang kepada teman saya untuk langsung membeli di tempat, ternyata uang tersebut dibawa lari dan tidak pernah kembali.
Ketika saya memelihara ikan tawar, menebar puluhan ribu bibit besoknya mati.
Singkat cerita dari pengalaman tersebut, saya ingin mengatakan betapa dunia ini kejam, padahal saya sudah kurang tulus dan gigih apa?
Bangun pagi, membuat rencana, bertanya pada ahli, tapi toh, gagal juga, musibah tetap saja datang.
Setelah mengalami begitu banyak musibah akhirnya saya bekerja untuk melunasi hutang dan mengumpulkan dana untuk menikah (hehehe .....)
Pembelajaran apa yang bisa saya tarik dari begitu banyak musibah yang terjadi pada hidup saya?
Satu pelajaran tersebut adalah tentang menjadi orang yang lebih rendah hati.
Kesombongan saya sebagai orang yang merasa hebat ditekuk habis.
Bahkan kalau diingat-ingat, angka kepercayaan diri saya nyaris NOL.
Saya ingat ketika undangan pernikahan sahabat, saya tidak punya uang untuk memberinya angpao (uang yang biasa diberikan). Saya begitu sedih dan malu untuk berangkat, karena memang tidak punya uang. Saya malu.
Refleksi saya sekarang, jika saya langsung berhasil ketika wirausaha, saya kira saya tidak akan menemukan panggilan dan passion saya yang sesungguhnya.
Bakat dan potensi saya tidak muncul.
Dan yang mengerikannya adalah kesombongan saya semakin menggurita dan mengerikan.
Jika saya jatuh ketika saya ada dipuncak bukankah saya bisa bunuh diri?
Tidak sukses saja bisa malu, apa lagi sukses kemudian jatuh, mungkin bisa bunuh diri (realitas dan harapan ada gap yang begitu besar).
Saya percaya hidup ini tidak ada yang kebetulan, hidup ini sebetulnya teratur walau nampak tidak teratur. Hidup bahkan lebih persisi dari alat yang sangat persisi sekalipun. Alam semesta memberi musibah bertubi tubi di awal perjalanan karir saya adalah peringatan dariNya agar saya menjadi lebih rendah hati dan waspada.
Musibah apa pun dalam hidup, bagi kita yang masih hidup adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Agar kita menjadi pribadi yang lebih bermoral.
Menjadi pribadi yang lebih sejati, baik dan sabar.
Dalam buku Li Hongzhi, dikatakan jika manusia mengalami bencana pada dasarnya manusia tersebut mengalami degradasi moral, berperilaku buruk.
Oleh karena itu alam semesta hendak mengingatkan agar kita berpaling dan masuk ke dalam diri membuat evaluasi, apakah saya selama ini sudah berjalan di jalan yang benar? Apakah saya sudah melakukan yang benar ? Apakah saya sudah berkata kata dengan benar?
Apakah saya jujur?
Apakah saya mementingkan orang lain dari kepentingan saya sendiri?
Apakah saya sudah bertanggung jawab dan melakukan peran saya dengan baik?
Apakah saya sabar menanggung penderitaan?
Kita sebagai manusia seringkali lalai, sehingga peringatan yang menyakitkan terkadang hadir di dalam hidup kita.
Musibah pun sepertinya sengaja datang.
Seandainya kita rajin masuk ke dalam diri, waspada, dan mematut diri dengan karakter alam semesta, alam semesta juga pastilah akan melindungi kita.
Semakin kita menjadi orang yang sejati, baik dan sabar, niscaya hidup kita akan selamat, musibah pun menjauh.
Sekarang musibah yang pernah saya alami saya anggap itu anugerah, dulu pastilah kesialan.
Namun jika kita percaya bahwa hidup ini adalah proses menyempurnakan diri, maka setiap peristiwa adalah proses belajar dan menumbuhkan diri.
Kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.
Semoga anda dan saya semakin kuat menghadapi tantangan hidup yang semakin hebat ini.
Ketika kita menghadapi musibah semoga kita tetap berpikir tenang.
Musibah ini datang adalah kesempatan alam semesta untuk membawa kita ke jalan yang benar.
[Zhang Mei Ling / Jakarta]
________________
God Bless All of You.
(Rom 8:28).
______________
RenHar
Sabtu, 16/3.
Yer 11:18-20
Yoh 7:40-53
Dalam pesan Prapaskah 2013, Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa sebagai pengikut Yesus, hidup kita merupakan pendakian gunung terus menerus untuk berjumpa dengan Allah. Setelah itu, kita harus turun & dengan kasih Allah mau berbagi kasih pada sesama dalam lembah kehidupan nyata, tidak lagi seperti Bacaan KS hari ini yg sampai sekarang masih terjadi di sekitar kita, yaitu orang mudah mencari kesalahan orang lain, tanpa keadilan & tepaslira ...
Selamat pagi ..
Selamat berakhir pekan ..
Berkah Dalem...
⌣Jʧܧ♪ΒŁÊ§§♪Ů⌣☺
_______________
Bacaan dari kitab nabi Yeremia.
= Yer.11:18-20 =
TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku.
Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku:
"Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya!
Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!"
Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.
_____________
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes.
= Yoh.7:40-53 =
Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkata itu, berkata:
"Dia ini benar-benar nabi yang akan datang."
Yang lain berkata:
"Ia ini Mesias."
Tetapi yang lain lagi berkata:
"Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!
Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal."
Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.
Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang berani menyentuh-Nya.
Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?"
Jawab penjaga-penjaga itu:
"Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"
Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka:
"Adakah kamu juga disesatkan?
Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?
Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"
Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:
Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?
Jawab mereka:
"Apakah engkau juga orang Galilea?
Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea."
Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya, tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
________________
Saya teringat pengalaman masa lalu ketika saya lulus kuliah dan mulai berwirausaha.
Dua tahun lebih berupaya mencari bentuk usaha namun dari beberapa usaha yang saya rintis tidak ada yang membuahkan hasil. Malah meninggalkan hutang dan menghancurkan kepercayaan diri.
Ketika saya punya usaha pabrik kerupuk, saya punya 4 tenaga penjual. Tiga hari mereka tidak setor hasil penjualannya, namun setiap hari mengambil kerupuk. Hari keempat mereka semua lari entah kemana. Tidak lama setelah itu perusahaan kerupuk saya sekarat karena kehabisan modal kerja.
Ketika menjadi agen jagung, membeli jagung dari petani dan membawanya ke pabrik, untuk mendapatkan selisih dari jasa perkilogramnya. Saya percayakan uang kepada teman saya untuk langsung membeli di tempat, ternyata uang tersebut dibawa lari dan tidak pernah kembali.
Ketika saya memelihara ikan tawar, menebar puluhan ribu bibit besoknya mati.
Singkat cerita dari pengalaman tersebut, saya ingin mengatakan betapa dunia ini kejam, padahal saya sudah kurang tulus dan gigih apa?
Bangun pagi, membuat rencana, bertanya pada ahli, tapi toh, gagal juga, musibah tetap saja datang.
Setelah mengalami begitu banyak musibah akhirnya saya bekerja untuk melunasi hutang dan mengumpulkan dana untuk menikah (hehehe .....)
Pembelajaran apa yang bisa saya tarik dari begitu banyak musibah yang terjadi pada hidup saya?
Satu pelajaran tersebut adalah tentang menjadi orang yang lebih rendah hati.
Kesombongan saya sebagai orang yang merasa hebat ditekuk habis.
Bahkan kalau diingat-ingat, angka kepercayaan diri saya nyaris NOL.
Saya ingat ketika undangan pernikahan sahabat, saya tidak punya uang untuk memberinya angpao (uang yang biasa diberikan). Saya begitu sedih dan malu untuk berangkat, karena memang tidak punya uang. Saya malu.
Refleksi saya sekarang, jika saya langsung berhasil ketika wirausaha, saya kira saya tidak akan menemukan panggilan dan passion saya yang sesungguhnya.
Bakat dan potensi saya tidak muncul.
Dan yang mengerikannya adalah kesombongan saya semakin menggurita dan mengerikan.
Jika saya jatuh ketika saya ada dipuncak bukankah saya bisa bunuh diri?
Tidak sukses saja bisa malu, apa lagi sukses kemudian jatuh, mungkin bisa bunuh diri (realitas dan harapan ada gap yang begitu besar).
Saya percaya hidup ini tidak ada yang kebetulan, hidup ini sebetulnya teratur walau nampak tidak teratur. Hidup bahkan lebih persisi dari alat yang sangat persisi sekalipun. Alam semesta memberi musibah bertubi tubi di awal perjalanan karir saya adalah peringatan dariNya agar saya menjadi lebih rendah hati dan waspada.
Musibah apa pun dalam hidup, bagi kita yang masih hidup adalah kesempatan untuk memperbaiki diri.
Agar kita menjadi pribadi yang lebih bermoral.
Menjadi pribadi yang lebih sejati, baik dan sabar.
Dalam buku Li Hongzhi, dikatakan jika manusia mengalami bencana pada dasarnya manusia tersebut mengalami degradasi moral, berperilaku buruk.
Oleh karena itu alam semesta hendak mengingatkan agar kita berpaling dan masuk ke dalam diri membuat evaluasi, apakah saya selama ini sudah berjalan di jalan yang benar? Apakah saya sudah melakukan yang benar ? Apakah saya sudah berkata kata dengan benar?
Apakah saya jujur?
Apakah saya mementingkan orang lain dari kepentingan saya sendiri?
Apakah saya sudah bertanggung jawab dan melakukan peran saya dengan baik?
Apakah saya sabar menanggung penderitaan?
Kita sebagai manusia seringkali lalai, sehingga peringatan yang menyakitkan terkadang hadir di dalam hidup kita.
Musibah pun sepertinya sengaja datang.
Seandainya kita rajin masuk ke dalam diri, waspada, dan mematut diri dengan karakter alam semesta, alam semesta juga pastilah akan melindungi kita.
Semakin kita menjadi orang yang sejati, baik dan sabar, niscaya hidup kita akan selamat, musibah pun menjauh.
Sekarang musibah yang pernah saya alami saya anggap itu anugerah, dulu pastilah kesialan.
Namun jika kita percaya bahwa hidup ini adalah proses menyempurnakan diri, maka setiap peristiwa adalah proses belajar dan menumbuhkan diri.
Kita dibentuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.
Semoga anda dan saya semakin kuat menghadapi tantangan hidup yang semakin hebat ini.
Ketika kita menghadapi musibah semoga kita tetap berpikir tenang.
Musibah ini datang adalah kesempatan alam semesta untuk membawa kita ke jalan yang benar.
[Zhang Mei Ling / Jakarta]
________________
God Bless All of You.
No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.