RENUNGAN PAGI
Senin, 18 Febuari 2013
Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan
(Amsal 12:18)
Mulutmu harimaumu, begitu peribahasa yang sering kita dengar, yang berarti kita harus menjaga perkataan karena bisa merugikan diri kita sendiri dan orang lain
Ada begitu banyak kata-kata yang kita ucapkan setiap hari, apakah lebih banyak perkataan yang membangun atau memberkati orang lain atau malah sebaliknya?
Menjaga perkataan merupakan hal yang penting, alkitab berkata:
"Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum"
Seorang pemimpin wajib memotivasi anak buahnya dan bukan memojokkan atau merendahkan.
Suami dan isteri harus saling menguatkan, menghibur, bukan saling menghina atau merendahkan.
Orang tua dan anak seharusnya berada dalam hubungan yang harmonis, bukan saling menghujat, mengatai anaknya tolol atau menjelek-jelekkan mereka di depan orang lain.
Seorang pendidik lebih baik memberi kata-kata yang bersifat membangun daripada menghina kemampuan anak didiknya
Apa yang kita ucapkan bisa berdampak baik pada kemajuan atau sebaliknya kehancuran orang lain.
Amsal mengatakan, mulut orang yang lancang, tajam seperti pedang, sinis, memojokkan, meremehkan, menghina, membuat kecil hati, tetapi mulut orang bijak, yang mendorong, memberi semangat, memberkati, mendatangkan kesembuhan.
Menjaga perkataan dan lebih banyak mengeluarkan kata-kata positif akan membawa perubahan yang jauh lebih baik.
Apakah perkataan kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita atau banyak orang menjadi terluka akibat perkataan kita yang tajam?
Paulus mengatakan: "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia"
Tuhan Yesus memberkati.
______________
Bacaan dari kitab Imamat.
Im.19:1-2,11-18
TUHAN berfirman kepada Musa:
"Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah TUHAN.
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah TUHAN.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah TUHAN.
_______________
Inilah Injil Yesus Kristus menurut St. Matius.
= Matius 25:31-36 =
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
________________
Han dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin. Meskipun toko pakaian yang dijalankan oleh Ayahnya Han Weng tidaklah seberapa dibandingkan dengan usaha besar lainnya, dia tetap penuh semangat dalam membantu orang lain.
Pada suatu hari tidak lama sebelum malam Tahun Baru, Han Weng telah selesai bekerja dan bersiap untuk tidur.
Di luar, salju turun dengan lebat. Han Weng mendengar suara yang datang dari pintu depan di tengah malam, seolah-olah seseorang sedang bersandar dan mendesah.
Ketika ia membuka pintu, ia menemukan orang asing duduk membelakanginya dengan tas di tangan.
Han Weng berbicara kepada orang itu dan mengetahui bahwa ia adalah seorang petugas yang baru saja kembali dari menagih utang untuk majikannya. Ia tidak bisa naik perahu atau tinggal di penginapan karena hari sudah larut malam. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain duduk di sana sampai fajar.
Han Weng berkata kepadanya: "Anda dalam perjalanan pulang dari menagih utang, jadi Anda pasti sedang membawa banyak uang. Bagaimana bisa Anda tidur di luar? Bahkan jika itu aman, bagaimana Anda bisa menahan dingin? Rumah saya kecil dan sederhana, tapi cukup besar untuk memberikan Anda tempat berlindung dari badai salju."
Han mengantar orang itu ke rumahnya. Melihat pria itu basah kuyup sekujur tubuh, Han memberikan pakaian baru yang ia beli untuk dirinya sendiri menjelang Tahun Baru dan menjamunya dengan makanan hangat. Pria itu sangat menghargai kebaikan Han. Tak terbayangkan olehnya bahwa dia akan diperlakukan begitu baik oleh orang asing ketika menderita kedinginan dan kelaparan. Kemudian, Han menyiapkan tempat tidur untuk pria itu sebelum dia pergi tidur.
Setelah fajar, kapal penyeberangan tidak dapat melaut, karena salju turun semakin lebat. Han meminta orang itu tinggal dan menjamunya makan kembali tanpa mengeluh sedikit pun. Malam itu, pria tersebut berkata pada Han bahwa ia sangat berterima kasih atas kebaikan Han dan tidak tahu bagaimana membalasnya. Jadi ia menawarkan 300 tael uang perak agar Han bisa mengapalkan beras setempat dari Huating ke Shanghai untuk menghasilkan sedikit uang. Han dengan tegas menolak tawaran tersebut dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Keesokan harinya, langit menjadi cerah,Han menyewa sebuah kapal untuk pria itu, dan secara pribadi mengantar dia pergi. Sebelum jauh berlayar, pria itu mengatakan kepada Han uang 300 tail perak yang dia tawarkan tempo hari kini ada di bawah tempat tidur dan meminta Han untuk datang menemuinya di Shanghai pada Festival Lentera tahun berikutnya. Han terkejut dengan apa yang ia dengar, tapi sudah terlambat baginya untuk mengembalikan perak itu. Ketika kembali ke rumah, ia menemukan uang itu memang ada di bawah tempat tidur, dan ia memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan orang itu.
Ketika ia berhasil sampai di Shanghai pada tanggal yang ditentukan, Han dipuji oleh orang tersebut karena Ia telah menepati janji. Han mengatakan kepadanya pengiriman beras telah ia lakukan ke Shanghai. Ketika diperkenalkan kepada majikan orang tersebut, majikan menunjukkan penghargaan yang tulus kepada Han, seraya memuji dia:
"Pada tahun lalu sangat beresiko bagi pelayan saya untuk tidur di luar dengan perak dalam jumlah besar. Jika bukan karena kebaikan besar Anda, ia mungkin telah dirampok di sana. Hari ini, Anda berada di sini seperti yang dijanjikan. Perbuatan tidak mementingkan diri sendiri yang Anda lakukan tak ternilai."
Majikan memperlakukan Han sebagai tamu kehormatan.
Setelah mengantar Han melihat berbagai tempat, majikan berkata kepada Han:
"Sekarang Anda telah membantu saya menghasilkan banyak uang dengan mengirim beras ke Shanghai, saya harus membagi setengah laba dengan Anda."
Han mencoba untuk menolak tawaran itu, tetapi majikan bersikeras agar Han menerimanya. Jadi Han bertanya kepada Majikan apakah ia boleh menyumbangkan sebagian dari perak kepada mereka yang membutuhkan. Majikan meminta pelayannya untuk memberi Han 2000 tail uang perak.
Sejak saat itu, Han mengabdikan dirinya lebih banyak untuk kegiatan amal. Ia melihat bahwa ia selalu bisa menghasilkan banyak uang dalam setiap hal yang ia lakukan.
Setelah Han menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses, dia masih sangat rendah hati dan terus melakukan lebih banyak pekerjaan amal.
Ketika anaknya Han Shusan mewarisi bisnis keluarga, ia sepenuhnya menjalani moto keluarga yaitu benar-benar mengabdikan diri untuk amal.
Kemudian, putra Han Shusan yaitu Han Luoqing lulus ujian kekaisaran dan sebagian besar keturunan mereka sangat sukses dan terkenal di masyarakat. Seluruh keluarga diberkati oleh keberuntungan tak berujung dan kemakmuran.
[Melani Tjia / Yogyakarta]
________________
God Bless All of You.
Senin, 18 Febuari 2013
Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan
(Amsal 12:18)
Mulutmu harimaumu, begitu peribahasa yang sering kita dengar, yang berarti kita harus menjaga perkataan karena bisa merugikan diri kita sendiri dan orang lain
Ada begitu banyak kata-kata yang kita ucapkan setiap hari, apakah lebih banyak perkataan yang membangun atau memberkati orang lain atau malah sebaliknya?
Menjaga perkataan merupakan hal yang penting, alkitab berkata:
"Tetapi Aku berkata kepadamu, setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggung jawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum"
Seorang pemimpin wajib memotivasi anak buahnya dan bukan memojokkan atau merendahkan.
Suami dan isteri harus saling menguatkan, menghibur, bukan saling menghina atau merendahkan.
Orang tua dan anak seharusnya berada dalam hubungan yang harmonis, bukan saling menghujat, mengatai anaknya tolol atau menjelek-jelekkan mereka di depan orang lain.
Seorang pendidik lebih baik memberi kata-kata yang bersifat membangun daripada menghina kemampuan anak didiknya
Apa yang kita ucapkan bisa berdampak baik pada kemajuan atau sebaliknya kehancuran orang lain.
Amsal mengatakan, mulut orang yang lancang, tajam seperti pedang, sinis, memojokkan, meremehkan, menghina, membuat kecil hati, tetapi mulut orang bijak, yang mendorong, memberi semangat, memberkati, mendatangkan kesembuhan.
Menjaga perkataan dan lebih banyak mengeluarkan kata-kata positif akan membawa perubahan yang jauh lebih baik.
Apakah perkataan kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita atau banyak orang menjadi terluka akibat perkataan kita yang tajam?
Paulus mengatakan: "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia"
Tuhan Yesus memberkati.
______________
Bacaan dari kitab Imamat.
Im.19:1-2,11-18
TUHAN berfirman kepada Musa:
"Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka:
Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus.
Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.
Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.
Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya.
Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu;
Akulah TUHAN.
Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.
Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia;
Akulah TUHAN.
Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah TUHAN.
_______________
Inilah Injil Yesus Kristus menurut St. Matius.
= Matius 25:31-36 =
"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.
Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya.
Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan;
ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;
ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
________________
Han dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin. Meskipun toko pakaian yang dijalankan oleh Ayahnya Han Weng tidaklah seberapa dibandingkan dengan usaha besar lainnya, dia tetap penuh semangat dalam membantu orang lain.
Pada suatu hari tidak lama sebelum malam Tahun Baru, Han Weng telah selesai bekerja dan bersiap untuk tidur.
Di luar, salju turun dengan lebat. Han Weng mendengar suara yang datang dari pintu depan di tengah malam, seolah-olah seseorang sedang bersandar dan mendesah.
Ketika ia membuka pintu, ia menemukan orang asing duduk membelakanginya dengan tas di tangan.
Han Weng berbicara kepada orang itu dan mengetahui bahwa ia adalah seorang petugas yang baru saja kembali dari menagih utang untuk majikannya. Ia tidak bisa naik perahu atau tinggal di penginapan karena hari sudah larut malam. Jadi dia tidak punya pilihan lain selain duduk di sana sampai fajar.
Han Weng berkata kepadanya: "Anda dalam perjalanan pulang dari menagih utang, jadi Anda pasti sedang membawa banyak uang. Bagaimana bisa Anda tidur di luar? Bahkan jika itu aman, bagaimana Anda bisa menahan dingin? Rumah saya kecil dan sederhana, tapi cukup besar untuk memberikan Anda tempat berlindung dari badai salju."
Han mengantar orang itu ke rumahnya. Melihat pria itu basah kuyup sekujur tubuh, Han memberikan pakaian baru yang ia beli untuk dirinya sendiri menjelang Tahun Baru dan menjamunya dengan makanan hangat. Pria itu sangat menghargai kebaikan Han. Tak terbayangkan olehnya bahwa dia akan diperlakukan begitu baik oleh orang asing ketika menderita kedinginan dan kelaparan. Kemudian, Han menyiapkan tempat tidur untuk pria itu sebelum dia pergi tidur.
Setelah fajar, kapal penyeberangan tidak dapat melaut, karena salju turun semakin lebat. Han meminta orang itu tinggal dan menjamunya makan kembali tanpa mengeluh sedikit pun. Malam itu, pria tersebut berkata pada Han bahwa ia sangat berterima kasih atas kebaikan Han dan tidak tahu bagaimana membalasnya. Jadi ia menawarkan 300 tael uang perak agar Han bisa mengapalkan beras setempat dari Huating ke Shanghai untuk menghasilkan sedikit uang. Han dengan tegas menolak tawaran tersebut dan pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Keesokan harinya, langit menjadi cerah,Han menyewa sebuah kapal untuk pria itu, dan secara pribadi mengantar dia pergi. Sebelum jauh berlayar, pria itu mengatakan kepada Han uang 300 tail perak yang dia tawarkan tempo hari kini ada di bawah tempat tidur dan meminta Han untuk datang menemuinya di Shanghai pada Festival Lentera tahun berikutnya. Han terkejut dengan apa yang ia dengar, tapi sudah terlambat baginya untuk mengembalikan perak itu. Ketika kembali ke rumah, ia menemukan uang itu memang ada di bawah tempat tidur, dan ia memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan orang itu.
Ketika ia berhasil sampai di Shanghai pada tanggal yang ditentukan, Han dipuji oleh orang tersebut karena Ia telah menepati janji. Han mengatakan kepadanya pengiriman beras telah ia lakukan ke Shanghai. Ketika diperkenalkan kepada majikan orang tersebut, majikan menunjukkan penghargaan yang tulus kepada Han, seraya memuji dia:
"Pada tahun lalu sangat beresiko bagi pelayan saya untuk tidur di luar dengan perak dalam jumlah besar. Jika bukan karena kebaikan besar Anda, ia mungkin telah dirampok di sana. Hari ini, Anda berada di sini seperti yang dijanjikan. Perbuatan tidak mementingkan diri sendiri yang Anda lakukan tak ternilai."
Majikan memperlakukan Han sebagai tamu kehormatan.
Setelah mengantar Han melihat berbagai tempat, majikan berkata kepada Han:
"Sekarang Anda telah membantu saya menghasilkan banyak uang dengan mengirim beras ke Shanghai, saya harus membagi setengah laba dengan Anda."
Han mencoba untuk menolak tawaran itu, tetapi majikan bersikeras agar Han menerimanya. Jadi Han bertanya kepada Majikan apakah ia boleh menyumbangkan sebagian dari perak kepada mereka yang membutuhkan. Majikan meminta pelayannya untuk memberi Han 2000 tail uang perak.
Sejak saat itu, Han mengabdikan dirinya lebih banyak untuk kegiatan amal. Ia melihat bahwa ia selalu bisa menghasilkan banyak uang dalam setiap hal yang ia lakukan.
Setelah Han menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses, dia masih sangat rendah hati dan terus melakukan lebih banyak pekerjaan amal.
Ketika anaknya Han Shusan mewarisi bisnis keluarga, ia sepenuhnya menjalani moto keluarga yaitu benar-benar mengabdikan diri untuk amal.
Kemudian, putra Han Shusan yaitu Han Luoqing lulus ujian kekaisaran dan sebagian besar keturunan mereka sangat sukses dan terkenal di masyarakat. Seluruh keluarga diberkati oleh keberuntungan tak berujung dan kemakmuran.
[Melani Tjia / Yogyakarta]
________________
God Bless All of You.
No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.