Tuesday, March 14, 2017

RenHar. 14 Maret 2017. INTEGRITAS    memberikan anda kebebasan sejati.

INTEGRITAS
  memberikan anda kebebasan sejati,
   tidak ada yang perlu ditakutkan
     karena tidak ada yang anda sembunyikan.

*Zig Ziglar*


#


Mutiara Iman

*JANGAN BERBUAT JAHAT*

14 Maret 2017


_"Basuhlah, bersihkanlah dirimu.."_ (Yes 1:16)

Lectio
Yes 1:10,16-20; Mzm 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat 23:1-12

Suatu pagi, Lala pulang dalam keadaan mabuk, setelah bekerja sebagai waitres di klub malam. 


Lalu bu Maria ibu kosnya membawakan handuk hangat dan teh manis hangat. 


Tidak lama kemudian Bu Maria berdoa sambil memegang pundak Lala yang sedang tertidur. 


Ketika terbangun, terdengar lagu rohani...Bapa sentuh hatiku ubah hidupku....


Lala pun tak kuasa menahan airmatanya dan menangis cukup lama.

 Lalu bu Maria berkata :
"Tuhan Yesus sedang menyentuhmu La."


"Iya Bu.. saya mau bertobat dan melakukan yang baik, dengan mencintai diri sendiri dan sesama." Kata Lala sambil memeluk bu Maria.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik, usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam, belalah hak anak-anak yatim, dan perjuangkanlah perkara janda-janda.

Pertobatan adalah berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik.

Oratio
Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Amin.

Missio
_Marilah kita mengisi masa Prapaskah dengan berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik._

*Have a Blessed Tuesday.*

Mutiara-iman.org

#

*YESUS INGIN AGAR KITA MEMILIKI KERENDAHAN HATI*

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 14 Maret 2017) 

*Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang 'Rabi.'  


Tetapi kamu, janganlah kamu disebut 'Rabi'; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 

Janganlah kamu menyebut siapa pun 'bapak' di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. 


Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 


Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) *

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Mengapa Yesus kelihatan sedemikian "sewot" dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang selalu saja menentangnya dan dengan menggunakan berbagai cara ingin menjebak serta menjatuhkan-Nya? 


Apakah kecemburuan dan iri hati mereka itu disebabkan karena Yesus ingin mengubah hal-hal yang "tidak pas" dalam masyarakat Yahudi, teristimewa yang berhubungan dengan adat-istiadat dan praktek keagamaan mereka?


 Atau, apakah karena mereka adalah contoh dari para religius ultra-konservatif, yang terus mau berpegang pada ide-ide "Perjanjian Lama" yang sudah "kuno"? 


Samasekali bukan! 


Justru karena orang-orang inilah yang memegang peranan penting dalam masyarakat, maka Yesus menegur mereka dengan keras sekali! Kepada mereka dipercayakan Hukum Musa, batu penjuru bagi Israel sebagai bangsa dan umat. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk itu, dan rakyat memandang mereka sebagai orang-orang yang sungguh memahami tradisi suci Israel.

Namun sungguh sayang sekali, para ahli Taurat dan Farisi ini telah salah jalan dalam mengemban tugas mereka.


Barangkali kekuasaan telah membutakan mata mereka sehingga berpikir bahwa mereka superior ketimbang orang-orang lain. 


Barangkali para ahli Taurat dan Farisi itu tidak melihat bahwa mereka sebenarnya telah mulai menempatkan posisi mereka yang terhormat sebagai "yang lebih utama" daripada tanggung jawab mereka untuk melayani umat Allah. 


Yesus tidak bermaksud memojokkan mereka karena mereka mengajar Hukum Taurat, melainkan karena kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan kerendahan hati yang justru coba diajarkan oleh Hukum Taurat.

Hampir semua yang diajarkan Yesus berkisar pada hal-ikhwal kerendahan hati. Dia ingin agar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) memahami betapa pentingnya menjadi jujur di hadapan Allah.


_ Seperti unta yang tidak dapat melewati pintu gerbang kota, kita juga tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya, kalau kita tidak menolak "kekayaan" berupa "kesombongan" atau "kebanggaan palsu" kita (lihat Mat 19:24). 


Kalau kita tidak mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita, maka kita pun akan berjalan dalam kegelapan rohani (Mat 6:23), dan kita tidak akan mampu menolong para saudari dan saudara kita yang patut ditolong (lihat Mat 7:5).

Alasan sesungguhnya mengapa Yesus sangat menginginkan kita menjadi rendah hati adalah karena kita juga penting! Ia mempunyai suatu pekerjaan penting untuk kita lakukan. 


Rasul Paulus menulis, "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (Ef 1:5), sehingga ……"boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya" (Ef 1:12).


 Apabila kita merangkul kerendahan-hati Yesus, maka kita akan mencerminkan rahmat-Nya dan menjadi bejana-bejana kuasa-Nya. 


Apabila kita memuji-muji dan menyembah Yesus dengan ketulusan hati, maka Dia pun akan memenuhi diri kita dengan cintakasih-Nya dan akan menarik orang-orang kepada-Nya melalui diri kita. 


Ganjaran terbesar bagi kita bukanlah memperoleh pengakuan dunia, melainkan untuk "duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa" (Mzm 91:1), untuk mengenal dan mengalami cintakasih-Nya, serta mensyeringkan cintakasih-Nya itu dengan orang-orang lain.

*DOA: *Tuhan Yesus, aku datang ke hadapan hadirat-Mu sebagai apa adanya diriku, tidak sebagaimana orang-orang lain memandang diriku. Tolonglah aku untuk mengenali serta mengakui kebesaran-Mu, sehingga Engkau menjadi semakin besar, tetapi aku menjadi semakin kecil. Amin. 

#

"HANYA SATU PEMIMPINMU, KRISTUS."

Bacaan Liturgi 14 Maret 2017
Selasa Pekan Prapaskah II Bacaan Pertama Yes 1:10.16-20
Mazmur 50:8-9.16bc-17.21.23 

Bacaan Injil Mat 23:1-12

Matius 23: 10, menulis.

Yesus berkata:"Janganlah kamu disebut pemimpin karena hanya satu pemimpinmu yaitu Mesias."

Dalam Injil hari ini Yesus mengingatkan murid-muridNya agar tidak sombong dan tidak tergoda untuk menuntut penghormatan lebih dari sesama. Namun, namanya manusia, siapapun dia, kapanpun dia hidup, dulu atau sekarang senantiasa tergoda untuk menganggap dirinya lebih besar dan unggul di atas sesamanya. Dia cendrung meninggikan diri dan menguasai orang lain. Dorongan itu acapkali sedemikian kuat sehingga yang bersangkutan tidak dapat menguasai diri. Dia kehilangan pula  kebebasan dan kegembiraan hidup. Dia menjadi tawanan dan nafsu kuasa. 


Maka,bukan kebetulan Yesus mengingatkan murid-muridNya, "Hanya satu pemimpinmu, Kristus.

" Hanya Dialah pantas dihormati, kepadaNya saja manusia perlu taat dan mengabdi karena Kristuslah adalah Mesias, yang adalah pemimpin umat dan kita semua saudara.
Met Hari Selasa.

#

Tuesday, 14th MARCH
Matthew 23:1-12

Then Jesus said to the crowds and to his disciples, "The scribes and the Pharisees sit on Moses' seat; so practice and observe whatever they tell you, but not what they do; for they preach, but do not practice...They do all their deeds to be seen by men...He who is greatest among you shall be your servant; whoever exalts himself will be humbled, and whoever humbles himself will be exalted."

Humility is indispensable to follow Christ. The best example of humility is Jesus Himself: being God, He became Man for us; and later, He became a Host of Bread. Who could ever humble himself so much? The second best example of humility is His Mother: being the most perfect creature, she recognised that all the good in her was a gift from God. The third example of humility is St Joseph: being a man gifted beyond comparison, he never let himself become the centre of attention. Saints are humble souls who know how to remain in the background and let people see God instead.

The problem with the scribes and Pharisees was that they loved to be seen, recognised and praised for their deeds and talents. They wanted to be the centre of attention. A Spanish saying describes this kind of person well: 'They want to be the bride in all the weddings, the baby in all the baptisms and the dead in all the funerals.'

Holiness is just the opposite: you see? Holiness and humility are proportionate. In the words of St Josemaria, the passion of the saints is 'to hide and disappear. That only Jesus could be seen'. In the lifetime of the Holy Cure of Ars, St John Mary Vianney, people came from distant places to listen to his homilies. He did everything in his parish (Ars had about 350 inhabitants) that he very seldom left. He could be found in the confessional most of the time (16 hours a day!) Elsewhere in France at the same time was another famous preacher who also attracted many people with his brilliant sermons. One day someone asked this preacher which of them was the better preacher. 'Most certainly he is!', answered the man: 'For when people listen to my homilies they say: "How good is this preacher!", but when they listen to Vianney they say: "How good is God!"'

Mary, my Mother, help me to learn from you the virtue of humility, to hide and disappear, so that only Jesus might shine (St Josemaria)



#

No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.