Renungan Katolik
"Bahasa Kasih"
Senin, 17 Februari 2014.
Yak 1:1-11;
Mzm 119:67-68,71-72,75-76;
Mrk 8:11-13.
UKURAN BAHAGIA
..anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu megnhasilkan ketekunan.
- Yak 1:2.
Apa tidak salah?
Masak orang sedang susah diharapkan merasa bahagia?
Mana mungkin orang yang susah, apalagi kesulitan dan masalah datang bertubi-tubi dan silih berganti, diminta untuk memandang semua itu sebagai kebahagiaan?
Mungkin secara spontan kita setuju dengan ungkapan-ungkapan di atas.
Namun bila kita renungkan lebih dalam, sebenarnya kebahagiaan kita tidak seharusnya terletak pada suatu situasi atau kondisi tertentu.
Kalau saya tidak punya masalah, saya bahagia.
Kalau saya punya banyak uang, saya bahagia.
Kalau saya mendapat hadiah mobil mewah, saya bahagia.
Kalau saya tidak sakit, saya bahagia.
Semua itu tidak benar.
Karena, setiap hari kita pasti menghadapi berbagai kejadian yang tidak nyaman dan bertemu dengan orang yang mungkin membuat kita kesal.
Sangat kecil kemungkinannya hari kita bisa berjalan mulus tanpa adanya kerikil-kerikil yang mengganjal di bawah sandal kita.
Ketika kita bisa meletakkan kebahagiaan kita pada sesuatu yang lebih besar dari semua itu, yaitu Tuhan, maka kita akan selalu bisa merasa bahagia.
Karena kita tahu kita pasti menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, tapi kita tidak berjalan sendiri.
Ada Tuhan yang berjalan bersama kita dan kita akan selalu menemukan jalan keluar atas setiap kesulitan dan permasalah yang kita hadapi.
Percayalah, pencobaan yang kita hadapi akan memberikan buah yang manis, yaitu ketekunan dan kesetiaan di dalam Tuhan. (Jc)
Masihkah saya berkeluh-kesah saat menghadapi kesulitan dan tantangan?
No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.