Saturday, June 15, 2013

REN" Sabtu, 15 Juni 2013. Bersumpah.1.

[KOMSOS_KAJ] 15 Juni


 "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak"


(2Kor 5:14-21; Mat 5:33-37)


" Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita:

Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik

demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi,

karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena

Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi

kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan

sehelai rambut pun.


Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak,

hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal

dari si jahat" (Mat 5:33-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan

sederhana sebagai berikut;


· Proses pengadilan terjadi dimana-mana, di setiap ibu kota

kabupaten, provinsi, dan lebih-lebih di ibu kota Negara seperti

Jakarta, setiap hari terjadi proses pengadilan, mengingat semakin

maraknya tidak kejahatan dan korupsi. Kiranya semakin banyak orang

juga terlibat dalam pengadilan, entah sebagai tersangka atau saksi.


Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar sebagai

tersangka maupun saksi berkata jujur, benar, apa adanya.


"Jujur adalah

sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang,

berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela

berkorban demi kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman

Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17).


Hidup dan bertindak jujur pada masa kini memang berat, sarat dengan

tantangan, mengingat dan mempertimbangkan kebohongan dan kepalsuan

telah mulai tertanam dalam diri anak-anak sejak mereka belajar di

Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi, yaitu berupa pembiaran

tindakan menyontek dalam ulangan maupun ujian, serta `mark-up' nilai

yang dilakukan oleh para guru atau pelaksana pendidikan. Maka kiranya

perlu dua gerakan serentak untuk masa kini:


memberantas kebohongan dan

ketidak-jujuran di kalangan pegawai dan pejabat serta memberlakukan

dengan ketat ketentuan "dilarang menyontek dalam ulangan dan ujian" di

sekolah-sekolah, gerakan kuratif dan preventif.


Kami berharap kepada

mereka yang bekerja atau berkarya di lingkungan Departemen Pendidikan

serta Departemen Agama dapat menjadi teladan hidup dan bertindak

jujur, jangan sampai terjadi pembinaan korupsi melalui dua departemen

ini.

· "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak

memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita

pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan

Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami;

dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan

dengan Allah.


Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi

dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2Kor

5:19-21).


Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk senantiasa

berdamai dengan Allah, yang kita imani.


Berdamai dengan Allah berarti

tidak pernah melawan atau melanggar perintah dan kehendakNya sekecil

apapun dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

Meskipun

sendirian, entah di dalam kamar atau perjalanan, hendaknya kita tetap

setia berdamai dengan Allah; apapun yang kita lakukan senantiasa

diketahui oleh Allah, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah.


Di

Indonesia ini kita setiap hari dapat mendengar, dan semoga juga dapat

mendengarkan, seruan melalui surau atau masjid: ajakan untuk mengimani

Allah yang Maha Besar, Maha Segalanya. Tentu saja hanya orang yang

memiliki keterbukaan hati, jiwa dan akal budi merasa terbantu dengan

seruan tersebut agar tetap setia berdamai dengan Allah. Maka secara

pribadi saya berterima kasih kepada rekan-rekan Muslim yang mengangkat

seruan tersebut.


Di jalanan kita sering juga melihat iklan ajakan

untuk hidup dalam damai, persaudaraan atau persahabatan sejati.


Memang

berdamai dengan Allah harus menjadi nyata atau terwujud dalam berdamai

dengan sesama manusia maupun ciptaan-ciptaan Allah lainnya yang ada di

permukaan bumi ini. Jika kita dengan mudah juga dapat berdamai dengan

situasi dan kondisi dimana kita berada, juga terkait dan iklim atau

cuaca, kiranya kita dengan mudah berdamai dengan saudara-saudari kita,

dengan siapapun tanpa pandang bulu. Tentu saja diri kita sendiri

diharapkan senantiasa berada dalam damai dan tenteram, karena dengan

demikian kita juga akan memiliki kemampuan untuk berdamai dengan Allah

maupun ciptaan-ciptaanNya.


"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah

perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi -Nya,

bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!

Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati

orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya,

carilah wajah-Nya selalu!" (Mzm 105:1-4)


Ign 15 Juni 2013


God Bless All of You.

No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.