Anak itu sangat terkejut ketika bola sepak yang ditendangnya mengenai pot bunga ibunya. Pot bunga itu adalah kesayangan ibunya, ibunya merawat bunga itu setiap pagi, sore dengan sangat teliti. Semua anggota keluarga sangat tahu betapa ibunya sangat memperhatikan bunga langka yang dirawatnya selama beberapa tahun.
"Sekarang bunga itu rusak, pastilah ibu sangat marah kepada aku," kata anak itu dalam hatinya. Belum sempat dia memikirkan tindakan yang harus diambilnya, ibunya sudah ada di depannya. Anak itu mau menyangkal perbuatannya, tapi tangannya yang kotor dan bukti bola sepaknya, membuat dia tidak dapat mengelak. Dia diam saja, menunduk, melirik ke arah ibunya yang sedang mengangkat pot itu dan mencoba memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
Tiba-tiba ibunya datang mendekat ke arah dirinya, dia sangat cemas, akan kata-kata kemarahan sang Ibu. Sang Ibu melihat dirinya.
"Maafkan aku, mama,. Aku tidak sengaja." kata sang Anak.
"Lain kali hati-hati selagi bermain. Bermainlah pada tempat yang benar," kata sang Ibu.
Mendengar kata-kata ibunya, anak itu, merasa lega luar biasa. Kejujurannya dan permintaan maafnya telah meredakan kemarahan sang Ibu. Kejujurannya mengubah ketakutan menjadi kelegaan.
====================================
Sabtu, 09 Juli 2011
Hari Biasa Pekan XIV
P.fak.S.Agustinus Zhao Rong, dkk Imam Martir Cina
P.fak.B.Yohanna Scopelli, Perawan (O.Carm)
Kej.49:29-32;50:15-26a + Mzm.105:1-4,6-7 + Mat.10:24-33
--------------------------------------------------
Song: http://www.youtube.com/watch?v=10a2GdlCZWE&feature=related

No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.