Showing posts with label Apakah engkau mengasihi keluargamu?. Show all posts
Showing posts with label Apakah engkau mengasihi keluargamu?. Show all posts

Tuesday, July 3, 2012

Renungan Kisah Online Suami Istri.

COCOK DI DUNIA MAYA
BERBEDA DI DUNIA NYATA.

Suatu ketika ada berita menarik di satu koran berjudul 'Selingkuh Online'.

"Sepasang suami istri di Bosnia memilih berpisah. Adnan Zenica (32 tahun) dan Sana Klaric (27 tahun) tanpa sadar telah saling curhat melalui internet. Mereka merasa telah menemukan belahan jiwa sejati.

Sang suami on line di kantor, sedangkan si istri di kafe internet. Keduanya memakai nama samaran dan menyembunyikan identitas yang sebenarnya. Adnan memakai nama 'Prince of Joy', sedangkan Sana menggunakan 'Sweetie'.

Saturday, January 7, 2012

Apakah Anda mencintai anak-anak Anda betapapun nakalnya mereka?

Apakah Anda mencintai anak-anak Anda betapapun nakalnya mereka? Pasti semua menjawab, "Ya! Saya amat mencintai mereka. Saya akan melakukan apa saja asal hidup mereka bahagia nanti." Sekilas, tidak ada yang salah dari jawaban di atas. Tapi bagaimana dengan kisah di bawah ini?


Suatu hari sepasang suami-istri berkonsultasi dengan psikiater. Mereka mengeluh putus asa menghadapi kenakalan anaknya yang semata wayang.

Friday, December 30, 2011

KEKUDUSAN DIMULAI DARI DALAM KELUARGA SENDIRI.

(Pesta Keluarga Kudus,Yesus,Maria,Yusuf).
Luk 2:22-40.
Setiap keluarga dipanggil utk membangun & memperkuat cinta kasih serta saling membagi cinta kasih,krn hakekat keluarga adalah cinta kasih.Pada Pesta Keluarga Kudus Nasareth hari ini,kt diingatkan utk memperbesar iman anggota keluarga,agar tercipta pemenuhan cinta kasih di tengah keluarga, yg menghadirkan Tuhan selalu.

Friday, December 23, 2011

Berkorban untuk Cinta ?

Aku seorang istri dan belum dikarunia anak, usia pernikahan kami sudah berjalan selama lima tahun. Perkenalanku dengan Ationg (bukan nama sebenarnya) berlangsung dalam situasi yang sangat romantis, demikianpun ketika kami menjalani masa pacaran.

Masa-masa itu buatku adalah masa-masa paling indah dalam sejarah hidupku. Ationg adalah laki-laki yang menjadi damba aku, secara fisik maupun sifatnya yang alami. Dan alasan itu pulalah yang membuatku akhirnya menerima pinangannya.

Namun setelah menjalani pernikahan selama lima tahun, aku mulai merasakan kejenuhan. Alasan-alasanku mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Terus terang aku adalah tipe perempuan yang sangat sentimentil dan sensitif. Aku merindukan saat-saat romantis seperti waktu kami masih berpacaran. Suamiku saat ini sangat berbeda dari apa yang saya harapkan, dan aku mulai mencurigai perubahannya.

Hingga akhirnya aku mengajukan gugatan kepadanya. Saat itu ia sangat terkejut, karena sebelumnya kami memang tak bertengkar, "Mengapa, salahku apa Ling?" "aku lelah ko, kamu tak bisa lagi memberikan cinta yang saya inginkan," jawabku sekenanya. Ia memang langsung terdiam dan termenung. Sepanjang malam itu ia sepertinya sulit untuk memejamkan matanya.

Keesokan harinya ia kembali mempertanyakan alasan mengapa aku minta bercerai, "Ling, apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau merubah pikiranmu itu, aku merasa aku telah memenuhi kewajibanku sebagai suami, bisakah kamu menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya," ia bertanya dengan ekspresi wajah yang tak berubah. Kekecewaanku semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa aku harapkan darinya?

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Aku punya pertanyaan, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam perasaanku, aku akan mengubah pikiranku. Seandainya, aku menyukai jika aku menyukai sesuatu dan sesuatu itu amat sulit untuk diwujudkan kecuali dengan berkorban nyawa, apakah kamu mau mewujudkannya untukku?"

Aku memang tak mendapatkan jawabannya malam itu, bahkan aku tak bisa menemuinya keesokan harinya, ia menghilang dan pergi tanpa pamit. Yang bisa kutemui hanya sepucuk surat berwarna pink di atas bantal.
"Sayangku, harus aku katakan bahwa aku tak bisa mewujudkan apa yang kau sukai, karena itu akan membuatku mati, tapi aku ingin kau tau bahwa aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu kira," Sungguh kalimat pertama itu membuatku hampir frustasi, tapi aku terus membaca kalimat-demi kalimat selanjutnya.
"Sayangku, apa kamu tak pernah sadar, jika setiap hari aku harus pergi pagi dan pulang larut malam, mengorbankan semua kesukaanku akan kebebasan hanya untuk kamu, apakah kamu tak pernah mengerti ketika kamu sakit aku yang selalu menyentuh tubuhmu dengan lembut melalui tanganku, apakah kamu tak mengerti bahwa suara dari mulutku, selalu kuberikan untuk menghibur kamu saat kamu mengalami kejenuhan akan hari-harimu."

"Sayangku, apakah kamu sadar, setiap hari aku harus berjuang memalingkan wajah dan mataku dari perempuan-perempuan lain yang mungkin saja bisa menggodaku, aku harus menyegarkan mataku dengan tidak terlalu sering menonton televisi seperti yang kamu lakukan, agar kelak mataku masih bisa menatap kecantikanmu saat kita tua."

"Tetapi Sayang, aku tidak akan bisa mewujudkan keinginanmu yang hanya akan mengorbankan nyawaku. Karena, aku tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian aku. Sayang, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih daripada aku mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup buat kamu, aku tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Setetes demi setetes air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi pudar, tetapi aku tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan aku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu. Tetapi jika kamu tidak puas dengan jawabanku ini, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku  tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagiaku adalah bila kamu bahagia."

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan roti kesukaanku. Kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih daripada dia mencintai aku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus mengorbankan nyawa.
[Suzanna Lao / Jakarta / Tionghoanews]

Tuesday, December 20, 2011

Dokter Angkuh

Seorg dokter yang sedang bergegas masuk ke dalam ruang operasi..
Ayah dr anak yg akan dioperasi menghampirinya "Knp lama sekali anda sampai ke sini? Apa anda tidak tau,nyawa anak sy terancam jk tdk segera di operasi?" Labrak si ayah.

Dokter itu tersenyum, "Maaf, sy sedang tdk di RS tadi, tp sy secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS."

Kemudian ia menuju ruang operasi,setelah beberapa jam ia keluar dg senyuman di wajahnya. " keadaan anak anda kini stabil." Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tsb berkata "Suster akan membantu anda jk ada yg ingin anda tanyakan." Dokter tsb berlalu.

"Knp dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!" Sang ayah berkata pd suster.

Sunday, July 11, 2010

11.Jul.2010: Kasih dalam Perbuatan



Pada abad ke XV di Italia, ada seorang pemuda, putera pedagang yang kaya raya dan mempunyai hati yang penuh kasih kepada orang-orang yang menderita termasuk mereka yang berpenyakit kusta.

Pada suatu ketika, sang pemuda sedang berjalan-jalan dengan naik kudanya yang gagah dean berpakaian mewah. Saat itu dia melihat beberapa pengemis kusta di tepi kota, dia mengulurkan tangannya dan memberikan uang yang cukup banyak kepada mereka. Para pengemis kusta itu melihat sejenak ke pemuda itu, mengambilnya dengan takut-takut, lalu mengucapkan terima kasih sebelum mereka berlalu.

Ketika sang pemuda itu pulang, dia memikirkan kenapa para pengemis itu takut kepadanya? Beberapa hal kemungkinan masuk dalam pemikirannya, diantaranya mungkin karena perbedaan sosial yang sangat berbeda. Dia seorang yang kaya raya dengan para pengemis yang miskin, hina dan berpenyakitan.

Beberapa hari kemudian, sang pemuda kembali bertemu dengan para pengemis kusta itu di tepi kota. Sang pemuda lalu menhampiri mereka, turun dari kudanya, membuka jubahnya yang mahal, dan mengenakannya pada salah satu dari para pengemis itu dan menaikkan pengemis itu ke atas kudanya. Kemudian ia minta pakaian kumal dari salah satu pengemis itu dan mengenakannya. Semua itu dilakukan sang pemuda tanpa banyak bicara.

Melihat kejadian itu, para pengemis terkejut namun senang karena mereka sekarang tahu bahwa sang pemuda ini benar-benar mengasihi mereka, bukan hanya sekedar memberi derma atau dalam ucapan, tetapi kasih dalam perbuatan. Sang pemuda itu bernama Fransisikus Asisi.




Mother Teresa dari Kalkuta, India:

Penilaian terhadap diri manusia.

Pada akhirnya dalam hidup ini kita tidak dinilai dari
berapa banyak gelar yang kita terima,
berapa banyak uang yang kita miliki,
berapa banyak hal besar yang telah kita lakukan.

Kita dinilai dari kepedulian kita
untuk membantu mereka yang
lapar, telanjang dan tersisihkan.