Kamis Pekan Biasa XIX, 13 Agt 2026
PF S. Hippolitus, Imam dan Martir
PF S. Pontianus, Paus
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Yeh 12:1-12
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59.61-62
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135
Bacaan Injil: Mat 18:21-19:1
Suatu pemikiran positip menyatakan bahwa *Mengampuni* bisa berarti *melepaskan rasa sakit & marah ke orang yang menyakiti, tanpa menunggu dia minta maaf dulu*
Siapkanlah barang-barang seperti seorang buangan.
Jika kaum pemberontak itu bertanya kepadamu.
Beginilah sabda Tuhan Allah-Mu.
Aku menjadi lambang bagimu.
*Saya membayangkan diri menjadi Petrus yang bertanya kepada Yesus,
"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kalikah?"
Yesus menjawab,
"Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan,
dihadapkanlah kepadanya
seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya,
raja lalu memerintahkan,
supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual
untuk membayar utangnya.
Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya,
"Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi."
Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.
Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berutang seratus dinar kepadanya.
Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya,
"Bayarlah hutangmu!"
Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya,
"Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi."
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara
sampai semua utangnya ia lunasi.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih,
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu
dan berkata kepadanya,
"Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau?"
Maka marahlah tuannya
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunasi seluruh utangnya.
"Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu,
jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Pikiran saya, mengampuni adalah suatu hal yang sulit-sulit mudah. Kalau dia menyesal dan meminta maaf, mungkin akan mudah mengampuni. Yang sulit adalah masing-masing merasa benar sehingga sulit mengampuni. Ternyata bagi saya, mengampuni itu tidak mudah (tapi bukan tidak bisa, mungkin hanya perlu waktu).
:-)
PF S. Hippolitus, Imam dan Martir
PF S. Pontianus, Paus
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: Yeh 12:1-12
Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59.61-62
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:135
Bacaan Injil: Mat 18:21-19:1
Suatu pemikiran positip menyatakan bahwa *Mengampuni* bisa berarti *melepaskan rasa sakit & marah ke orang yang menyakiti, tanpa menunggu dia minta maaf dulu*
*Tiga hal penting tentang mengampuni:*
*1. Mengampuni bukan berarti "melupakan"*
Tetap ingat kejadiannya, tapi lukanya sudah tidak diungkit-ungkit tiap hari.
*2. Mengampuni bukan berarti "benar"*
Mengampuni ≠ "yang dilakukan benar" tetapi berarti "menolak diracunin sama kebencian terus"
*3. Mengampuni bukan berarti "balikan"*
Mengampuni dia tapi tetap menjaga jarak apalagi dia tidak berubah.
Ampuni = urusan hati. Hubungan = urusan pilihan.
*Kenapa susah mengampuni?*
Karena pikiran pendek merasa: "Kalau aku maafin, berarti dia yang menang"
Padahal yang sebenarnya terjadi: *Kalau tidak maafin, kita yang kalah* karena kita terus membawa beban, susah tidur, kepikiran terus bisa menjadi penyakit.
Dibohongin temen → Marah 1 minggu, wajar.
Marah 1 tahun → Yang rugi diri sendiri.
Mengampuni = "Oke, aku sakit, tapi aku lepasin biar aku bisa jalan lagi"
*Di agama*
Islam: _"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?"_ Q.S An-Nur:22
Kristen: _"Ampunilah kami seperti kami mengampuni"_
Buddha: Kebencian nggak akan selesai dengan kebencian.
*Mengampuni = Hadiah yang dikasih ke diri sendiri* Buat ketenangan sendiri.
Kepadaku Yehezkiel Tuhan bersabda.
Engkau tinggal di tengah-tengah pemberontak disana.
Engkau tinggal di tengah-tengah pemberontak disana.
Tidak melihat walau mempunyai mata.
Tidak mendengar walau mempunyai telinga.
Siapkanlah barang-barang seperti seorang buangan.
Siang hari berjalanlah seperti seorang buangan.
Berangkatlah dari tempatmu sekarang ke tempat lain.
Di depan mata berjalanlah seperti seorang buangan.
Pada malam hari engkau sendiri harus keluar.
Seperti seorang pergi ke pembuangan luar.
Buatlah lubang untuk engkau keluar.
Taruhlah barangmu di bahumu dan bawa ke luar.
Engkau harus menutupi mukamu.
Sehingga tanah tidak dilihatmu.
Sehingga tanah tidak dilihatmu.
Sebagai lambang Kubuat dirimu.
Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku.
Jika kaum pemberontak itu bertanya kepadamu.
Beginilah sabda Tuhan Allah-Mu.
Aku menjadi lambang bagimu.
Yang kulakukan akan berlaku bagimu.
*Saya membayangkan diri menjadi Petrus yang bertanya kepada Yesus,
"Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku
jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kalikah?"
Yesus menjawab,
"Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."
Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja
yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
Setelah ia mulai mengadakan perhitungan,
dihadapkanlah kepadanya
seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya,
raja lalu memerintahkan,
supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual
untuk membayar utangnya.
Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya,
"Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi."
Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.
Tetapi ketika hamba itu keluar,
ia bertemu dengan seorang hamba lain
yang berutang seratus dinar kepadanya.
Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya,
"Bayarlah hutangmu!"
Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya,
"Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi."
Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara
sampai semua utangnya ia lunasi.
Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih,
lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu
dan berkata kepadanya,
"Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan
karena engkau memohonnya.
Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu
seperti aku telah mengasihani engkau?"
Maka marahlah tuannya
dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo,
sampai ia melunasi seluruh utangnya.
"Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu,
jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."
Pikiran saya, mengampuni adalah suatu hal yang sulit-sulit mudah. Kalau dia menyesal dan meminta maaf, mungkin akan mudah mengampuni. Yang sulit adalah masing-masing merasa benar sehingga sulit mengampuni. Ternyata bagi saya, mengampuni itu tidak mudah (tapi bukan tidak bisa, mungkin hanya perlu waktu).
:-)
*Ya Tuhan Allahku...
Mereka mencobai dan memberontak terhadap-Mu.
Mereka tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Mu.
Mereka murtad dan berkhianat kepada-Mu.
Mereka tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Mu.
Mereka murtad dan berkhianat kepada-Mu.
*Mereka menyakiti hati-Mu.
Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan itu.
Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan itu.
Patung-patung membuat Engkau cemburu.
Maka Engkau menolak mereka itu.
*Engkau membiarkan mereka tertawan.
Engkau membiarkan mereka jatuh ke tangan lawan.
Engkau membiarkan mereka dimangsa pedang lawan.
Engkau murka sehingga memberikan peringatan.
Maka Engkau menolak mereka itu.
*Engkau membiarkan mereka tertawan.
Engkau membiarkan mereka jatuh ke tangan lawan.
Engkau membiarkan mereka dimangsa pedang lawan.
Engkau murka sehingga memberikan peringatan.
*Ya Tuhan Allahku...
Takkan kulupakan karya-karya-Mu.
Engkau mengajarkan pengampunan kepadaku.
Ampunilah maka aku pun diampuni-Mu.
Amin.
#