Tuesday, February 3, 2026

2601037. *Meninggalkan Harvard Untuk Papa.*




*Kisah seorang putri yang meninggalkan beasiswa Harvard untuk merawat ayahnya yang stroke di kampung—mengajarkan bahwa "Mari ikutlah Aku" kadang berarti meninggalkan "jala emas" dan membawa terang ke dalam kegelapan keluarga yang hancur.*

*Maria (25 tahun)* baru diterima beasiswa S2 full di Harvard University—impian semua orang. Total nilai 2 miliar rupiah. Keluarganya di Flores bangga luar biasa.

Tapi sebulan sebelum berangkat, *Papanya (52 tahun)* stroke berat. Lumpuh total. Mamanya meninggal 5 tahun lalu, jadi tidak ada yang urus Papa.

Kakaknya *Andreas (28 tahun)* sudah berkeluarga dan kerja di Jakarta. "Maria, aku tidak bisa pulang. Aku harus kerja. Kamu kan belum nikah, kamu yang urus Papa."

"Tapi Kak, aku ada beasiswa Harvard! Ini kesempatan sekali seumur hidup !" protes Maria.

"Maria, Papa lebih penting dari Harvard !. Kamu egois !" bentak Andreas.

Maria bingung. 
Ia berdoa berhari-hari. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan ?"

Dalam doa, ia teringat Injil Matius: Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang menebarkan jala. "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Mereka segera meninggalkan jala mereka.

"Harvard adalah 'jala emas'ku," bisik Maria. "Tapi Tuhan memanggil aku pulang untuk Papa."

Maria mengumumkan keputusannya: ia tolak beasiswa Harvard dan pulang kampung urus Papa.

Keluarga besar marah. "Maria gila !. Membuang 2 miliar dan Harvard untuk urus orang tua yang sudah tua !. Egois !".

Teman-temannya shock. "Maria, kamu bisa sewa caregiver (pengasuh)! Jangan buang masa depanmu!"

Tapi Maria tenang. "Yesus berkata 'Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.' Aku harus bertobat dari egoisku—mengejar karir dan melupakan Papa."

Ia pulang kampung. 2 tahun merawat Papa—memandikan, menyuapi, mengajak bicara meski Papa tidak bisa jawab.

Tapi sesuatu ajaib terjadi. Kampung yang dulu gelap—banyak anak putus sekolah, pemuda mabuk—mulai berubah karena Maria.

Setiap sore, setelah urus Papa, Maria mengajar anak-anak kampung gratis. Ia ajari mereka bahasa Inggris, matematika, bahkan coding. 50 anak yang dulu putus asa kini punya harapan.

Maria juga mulai program kesehatan gratis—cek tekanan darah, gula darah, edukasi stroke untuk orang tua. Ratusan keluarga terbantu.

Yang paling mengharukan: Papa Maria—yang lumpuh—mulai tersenyum melihat putrinya melayani. Dan perlahan, Papa pulih. Setahun kemudian, Papa bisa bicara lagi. 18 bulan kemudian, Papa bisa jalan dengan walker.

"Maria," bisik Papa dengan air mata, "Maafkan Papa. Kamu korbankan Harvard untuk Papa."

Maria memeluk Papanya. "Papa, aku tidak korbankan apa-apa. Aku dapat yang lebih berharga: Papa pulih, dan kampung kita jadi terang."

2 tahun kemudian, program Maria jadi perhatian nasional. Kementerian Pendidikan datang, lalu UNESCO, lalu bahkan... Harvard.

Profesor dari Harvard datang ke kampung Maria. "Maria, kami dengar apa yang kamu lakukan. Kami tawarkan kamu beasiswa lagi—tapi kali ini untuk program Ph.D. Community Development. Kamu bisa research (meneliti) di kampungmu sendiri."

Maria tersenyum. "Terima kasih, Professor. Tapi saya harus tanya Papa dan komunitas saya dulu."

Papa, yang sudah bisa jalan, berkata dengan bangga, "Maria, pergilah. Kamu sudah bawa terang ke kampung ini. Sekarang bawa terang ke dunia."

Komunitas kampung membuat surat dukungan: "Maria mengajarkan kami: meninggalkan 'jala emas' untuk mengikut panggilan bukan pengorbanan, tapi penemuan harta yang lebih berharga."

Andreas, kakaknya yang dulu marah, datang dengan menangis. "Maria, maafkan aku. Aku yang egois. Kamu meninggalkan Harvard dan membawa terang bagi Papa dan kampung kita. Kamu mengajarkan aku arti 'ikutlah Aku'—bukan mengejar karir, tapi mengikut panggilan."

Maria akhirnya ke Harvard untuk Ph.D.—tapi dengan Papa yang pulih, kampung yang berubah, dan hati yang penuh syukur.

"Injil Matius mencatat: Yesus berkeliling mengajar, memberitakan Injil, menyembuhkan. Aku belajar: ikut Dia bukan duduk di kelas teologi, tapi turun ke kegelapan—keluarga yang hancur, kampung yang putus asa—dan bawa terang," kata Maria dalam wisudanya di Harvard 4 tahun kemudian.

Dan semua belajar: "Mari ikutlah Aku" kadang berarti meninggalkan "jala emas"—tapi yang kita dapat jauh lebih berharga: terang bagi yang dalam kegelapan.


Seperti nubuat Yesaya "Bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" (Yesaya 9:1).
   Maria membawa terang bagi kampung yang kegelapan.

Monday, February 2, 2026

2602026. Yesus adalah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa dan menjadi kemuliaan.

Kalender Liturgi 02 Feb 2026
Senin Pekan Biasa IV

Warna Liturgi: Putih
Bacaan I: Mal 3:1-4
Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7.8.9.10
Bacaan II: Ibr 2:14-18
Bait Pengantar Injil: Luk 2:32
Bacaan Injil: Luk 2:22-40



*2602026. Yesus adalah terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa dan menjadi kemuliaan.

*Pengumuman gereja sudah dimulai untuk mengumpulkan daun" palma kering tahun" lalu. Berarti beberapa hari lagi akan masuk Prapaskah yang diawali dengan pertobatan dilambangkan dengan abu di dahi. Saatnya saya merefleksi diri dan menyadari kesalahan untuk berusaha lebih baik. 

Saya merasakan tanda/ Nubuat Maleakhi, mengenai firman Tuhan semesta alam,
"Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku,
supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! ...
Siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri?

Sebab Ia laksana api tukang pemurni logam...
Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan perak;
dan Ia mentahirkan ...
menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak,
supaya mereka menjadi orang-orang
yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan...
 persembahan ... menyenangkan hati Tuhan...

Semoga hati & tubuh saya disucikan di tahun 2026 ini dengan mengikuti teladan Santo Fransiskus Asisi yang melepaskan diri dari kehendak bebas dan mengikuti rencana-Nya.


*Saya merasakan rasa syukur setelah membaca Surat (Paulus/ Barnabas/ Lukas/ Apolos?) kepada Orang Ibrani, bahwa Orang-orang (saya) yang dipercayakan Allah kepada Yesus
adalah anak-anak dari darah dan daging.
Maka Yesus menjadi sama dengan mereka (saya)
dan mendapat bagian dalam keadaan mereka,
supaya oleh kematian-Nya
Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut;
dan supaya ...
Ia membebaskan mereka (saya) yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan
oleh karena takutnya kepada maut.

... dalam segala hal
Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya,
supaya Ia menjadi Imam Agung yang menaruh belas kasihan,
yang setia kepada Allah
untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.
Karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan,
maka Ia dapat menolong mereka (saya) yang dicobai.


*Bagi saya, suatu hal yang menarik dari Injil Lukas hari ini, kisah saat Yesus dikuduskan bagi Allah adalah hadirnya dan ucapan dari dua (2) orang benar dan saleh hidupnya, yang hidupnya dibimbing oleh Roh Kudus sehingga bisa bertemu dengan bayi Yesus, Maria dan Yosef.

Simeon, seorang yang benar dan saleh hidupnya dan Roh Kudus ada di atasnya,
dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus,
bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias,
yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Atas dorongan Roh Kudus,
Simeon menyambut Anak itu
dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya,
"Sekarang Tuhan,
biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera,
sesuai dengan firman-Mu,
sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,
yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,
yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain
dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

   Lalu Simeon memberkati Yusuf dan Maria,
dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu,
"Sesungguhnya Anak ini ditentukan
untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel
dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan
- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -,
supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


Hana, seorang nabi perempuan juga disitu,
anak Fanuel dari suku Asyer, seorang janda berumur delapan puluh empat tahun yang tidak pernah meninggalkan Bait Allah, siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Pada saat Anak Yesus dipersembahkan di Bait Allah
Hana pun datang ke Bait Allah dan bersyukur kepada Allah
serta berbicara tentang Anak Yesus kepada semua orang
yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Bagi saya, kisah ini adalah salah satu bukti iman bahwa bagi orang beriman, tidak ada yang kebetulan, semuanya ada dalam rencana-Nya yang sangat baik dan tepat waktu.



*Kuangkatlah kepalaku melihat Raja.
Raja Kemuliaan yang jaya.

Tuhan Yesus yang perkasa.

Namun berkenan menjadi manusia.

Tuhan Yesus Engkaulah andalanku.
Kepada-Mu aku percayakan hidupku.
Hidupku bukan lagi kehendakku.
Karena Tuhan Yesus di dalamku.

Amin.

#


2602021. Sejenak Bijak. Janganlah menangis dan berdukacita. 

 Lakukanlah keadilan kepada semua.
  Janganlah memeras tetapi berikanlah haknya.
  Janganlah menindas yatim dan janda.
 Janganlah menumpahkan darah mereka.


 Janganlah menangisi karena kematiannya.
  Janganlah berdukacita karena dia.
  Tangisilah yang merantau bekerja.
  Mungkin takkan kembali ke kotanya. 


#2602021. Sejenak Bijak. Janganlah menangis dan berdukacita. 



Saturday, January 31, 2026

2601311. Sejenak Bijak. Berkuasa melakukan pembalasan.


  Apabila Engkau menyertai aku.
  Seperti pahlawan yang gagah aku.
  Tersandung jatuh para pengejarku.
  Mereka akan menjadi malu.


  Mereka tidak dapat berbuat apa-apa.
   Sebab mereka gagal disana.
   Suatu noda yang selama-lamanya.
  Noda tidak terlupakan oleh mereka.


  Engkau yang menguji kebenaranku.
  Engkau melihat hati dan batinku.
  Engkau berkuasa melakukan pembalasan-Mu.
  Maka kuserahkan perkaraku kepada-Mu.



#2601311. Sejenak Bijak. Berkuasa melakukan pembalasan.





Friday, January 30, 2026

2601301. Kuasa mendatangkan bencana.

  Dia berkuasa mendatangkan bencana.
  Seluruh malapetaka dapat menimpa.
  Bilamana tetap berkeras kepala.      Tidak mendengarkan atau mengabaikan perkataan-Nya.


#2601301. Kuasa mendatangkan bencana.





Thursday, January 29, 2026

2601296. Sabda-Mu itu pelita bagi langkahku dan cahaya bagi jalanku.

Kalender Liturgi 29 Jan 2026
Kamis Pekan Biasa III

Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I: 2Sam 7:18-19.24-29
Mazmur Tanggapan: Mzm 132:1-2.3-5.11.12.13-14
Bait Pengantar Injil: Mzm 119:105
Bacaan Injil: Mrk 4:21-25



*2601296Sabda-Mu itu pelita bagi langkahku dan cahaya bagi jalanku.


*Ada orang yang bersyukur.
Setiap hari mereka bersyukur.
Mendapat berkat maka bersyukur.
Mengalami bencana masih bersyukur.


*Raja Daud bersyukur ketika mendengar sabda Allah yang disampaikan melalui perkataan nabi Natan mengenai keturunannya yang akan tetap dikenang. 
Sesudah mendengar seluruh sabda itu,
masuklah Raja Daud ke dalam,
kemudian duduk di hadapan Tuhan sambil berkata,
"Siapakah aku ini, ya Tuhan Allah, dan siapakah keluargaku,...?
Engkau telah bersabda juga
tentang keluarga hamba-Mu ini dalam masa yang masih jauh
dan telah memperlihatkan kepadaku
serentetan manusia yang akan datang!

Ya Tuhan Allah,
tetaplah untuk selama-lamanya janji yang Kauucapkan
mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluargaku,
dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu
...

Ya Tuhan Allah,
Engkaulah Allah dan segala firman-Mu adalah kebenaran;
Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu.
Kiranya Engkau sekarang
berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini,
supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya.

Ya Tuhan Allah, Engkau sendirilah yang bersabda,
dan oleh karena berkat-Mu
keluarga hamba diberkati untuk selama-lamanya."



*Banyak orang berpikir akan abadi.
Hidupnya harta kekuasaannya akan abadi.
Mereka lupa tiada yang abadi.
Di dunia tidak ada yang abadi.

*Tidak ada sesuatu yang tersembunyi
yang tidak akan dinyatakan.

Tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan dikatakan.

Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar,
hendaklah ia mendengar.

Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur
akan dikenakan pula padamu.

Siapa yang mempunyai,
 akan diberi lagi,
Siapa yang tidak mempunyai,
 apa pun yang ada akan diambil lagi.





*Ya Tuhan Allahku...
Seperti Engkau ingat Daud hamba-Mu.
Kiranya Engkau ingat akan umat-Mu.
Yang mengharapkan Kasih setia-Mu.

*Seperti Daud setia kepada-Mu.
Berbuat seperti yang diperintahkan-Mu.
Semoga umat-Mu mengingat firman-Mu.
Selalu setia menjalankan kehendak-Mu.

Amin. 

2601291. Bagaikan bejana tanah liat di tangannya.


 Bagaikan bejana tanah liat di tangannya.
  Apabila bejana itu rusak buatannya.
  Tukang periuk kembali mengerjakannya.
  Menjadi bejana lain yang baik menurutnya.


  Imam tidak akan kehabisan pengajarannya.
  Orang bijaksana tidak akan kehabisan nasihatnya.
  Nabi tidak akan kehabisan firmannya. 
  Pengkotbah tidak akan kehabisan perkataannya.


  Dia memperhatikan dan mendengarkanku.
  Dia mengetahui segala rancanganku.
  Dia mengampuni dan menghapuskan dosaku.
  Saat kutersandung Dia menolongku.
  


#2601291. Bagaikan bejana tanah liat di tangannya.