Minggu Pekan Biasa XXVII, 04 Okt 2026. (Hijau)Bacaan I: Yes 5:1-7
Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9.12.13-14.15-16.19-20
Bacaan II: Flp 4:6-9
Bait Pengantar Injil: Yoh 15:16
Bacaan Injil: Mat 21:33-43
Menarik perumpamaan Yesus
kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi,
"
Seorang tuan tanah membuka kebun anggur, kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap, karena harus berangkat ke negeri lain.
Ketika hampir tiba musim petik,
ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu
untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
Tetapi para penggarap menangkap hamba-hambanya itu:
ada yang dipukuli,
ada yang dibunuh,
ada yang dilempari batu.
Kejadian berulang kembali bila tuan itu menyuruh hamba-hamba yang lain, dengan lebih banyak daripada yang pertama.
Akhirnya tuan itu menyuruh anaknya kepada mereka,
pikirnya, 'Anakku pasti mereka segani.'Tetapi ketika para penggarap melihat anak itu,
mereka saling berkata,
'Ia adalah ahli waris!
Mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.'
Maka mereka menangkap dia,
lalu membunuhnya.
Akhirnya terpaksa tuan kebun anggur itu datang, membinasakan orang-orang jahat itu,
dan kebun anggur itu ia sewakan
kepada penggarap-penggarap lain,
yang akan menyerahkan hasil kepadanya pada waktunya."
*Ada kisah nyata dengan pola yang hampir sama dengan Injil Minggu ini. Pola *"Tuan baik - Penggarap lupa diri - Ingin memiliki - Bunuh ahli waris"* itu terjadi. Kisah Nyata di Sumatera - PTPN IV vs Penggarap
Tahun 1997, sekelompok penggarap mengklaim lahan 105 hektar milik PTPN IV di Sumatera, karena mereka sudah menggarap, membangun rumah, menanam disana.
PTPN menggugat dan menang di semua tingkat: PN tahun 1998, Pengadilan Tinggi, bahkan Kasasi di MA tahun 2000 dan PK tahun 2009. Secara hukum sah itu kebun PTPN.
Tapi penggarap tetap menolak keluar, karena merasa "kami yang sudah menghidupkan kebun ini, jadi ini milik kami." Butuh eksekusi bertahun-tahun baru kebun bisa kembali ke PTPN IV.
Miripkah dengan penggarap dalam Injil yang terkena penyakit "lupa diri" (dari penyewa jadi pemilik) ?
* Atau mungkin mirip kisah Anda di Kantor/ di Keluarga ?
- Teman / Saudara yang dipercaya pegang toko / usaha, lama-lama bawa pelanggan sendiri, buka toko saingan di sebelahnya dan mematikan toko utamanya ?
- Teman / Saudara yang dititipi tanah / rumah karena harus merantau, tapi beberapa tahun kemudian mengklaim "ini sudah jadi hak saya karena saya yang merawat".
Polanya sama: *Kebun dipercayakan, tapi penggarap ingin jadi pewaris dengan cara membunuh.*
*Tiba-tiba saya berpikir, Tuhan tidak kekurangan penggarap. Jadi jika saya tidak mau berbuah, maka Tuhan akan kasih kepercayaan itu kepada orang lain yang mau berbuah.
Mungkin jika saya tidak mau bekerja, maka Tuhan akan kasih kepercayaan itu kepada orang lain yang mau bekerja di ladang-Nya.
#
*Temanku mempunyai kebun anggur.
Kebun di lereng bukit yang subur.
Ditanaminya dengan pilihan pokok anggur.
Menggali lubang tempat memeras anggur.
*Dinantinya kebun menghasilkan buah anggur.
Namun Asam hasil buah anggur.
Apa yang harus diperbuatnya untuk kebun anggur.
Apa harus ditebangnya semua pokok anggur.
*Ya Tuhan Allahku...
Tengoklah pohon di kebun anggur-Mu.
Lindungilah batang yang ditanam oleh tangan-Mu.
Aku tidak akan menyimpang dari-Mu.
Aku hidup menyerukan nama-Mu.
*Ya Tuhan Allahku...
Pulihkanlah aku dari sakitku.
Buatlah bersinar wajah-Mu. Dan selamatlah daku.
Amin.
#