Kalender Liturgi 23 Mar 2026
Senin Prapaskah V
PF S. Turibius dari Mongrovejo, Uskup
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: T.Dan 13:1-9.15-17.19-30.33-62
Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
Bait Pengantar Injil: Yoh 33:11
Bacaan Injil: Yoh 8:1-11
*Bagi saya, fitnah itu kejam bisa membunuh orang tanpa senjata tajam karena fitnah dapat membunuh jiwa/ masa depan. Fitnah/ tuduhan/ pernyataan palsu bisa merusak reputasi/ merugikan/ merusak masa depan seseorang. Fitnah bisa berupa kata-kata/ tulisan/ tindakan yang membuat orang lain memiliki opini buruk tentang seseorang yang benar.
supaya aku dapat mandi."
Segera setelah dayang-dayang itu keluar,
bangunlah kedua orang tua-tua yang bersembunyi sambil mengintip Susana (setiap hari mereka mengintip maka timbullah dalam hati kedua orang tua-tua itu
nafsu berahi kepada Susana), lalu bergegas-gegas menuju Susana.
Berkatalah mereka,
"Pintu-pintu taman sudah tertutup
dan tidak ada seorangpun melihat kita.
Kami sangat cinta berahi kepadamu.
Tidurlah bersama-sama dengan kami.
Kalau engkau tidak mau, pasti kami akan naik saksi terhadapmu,
bahwa seorang pemuda kedapatan padamu,
dan bahwa oleh karena itulah
maka dayang-dayang itu kausuruh pergi."
Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya,
"Apakah maksudnya kata-katamu itu?"
Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka.
Katanya, "Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel?
Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel
tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?
Kembalilah ke tempat pengadilan,
sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu
terhadap perempuan ini!"
Maka bergegaslah rakyat kembali ke tempat pengadilan.
Orang tua-tua itu berkata kepada Daniel,
"Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami,
sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu
martabat orang tua-tua."
Lalu Daniel berkata kepada orang yang ada di situ,
"Pisahkanlah kedua orang tua-tua tadi jauh-jauh,
maka mereka akan diperiksa."
Setelah mereka dipisahkan satu sama lain,
Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya,
"... jikalau engkau sungguh-sungguh melihat dia,
katakanlah: Di bawah pohon apakah
telah kaulihat mereka bercampur?"
Sahut orang tua-tua itu, "Di bawah pohon mesui!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri!
Sebab malaikat Allah telah menerima firman dari Allah
untuk membelah engkau!"
Setelah orang itu disuruh pergi,
Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya.
Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu,
"... kecantikan telah menyesatkan engkau
dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu.
Oleh karena itu katakanlah kepadaku:
Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?"
Sahut orang tua-tua itu,
"Di bawah pohon berangan!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri.
Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu
dengan pedang terhunus untuk membahan engkau,
supaya engkau binasa!"
Maka berserulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring memuji Allah yang menyelamatkan yang berharap kepada-Nya.
Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu,
sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri yang memberikan kesaksian palsu.
Lalu mereka diperlakukan sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh.
Demikian pada hari itu diselamatkan darah Susana yang tak bersalah.
*Zinah, perbuatan tidak senonoh/ hubungan seksual di luar pernikahan. Dari dulu dianggap berdosa besar namun banyak orang pernah/ berulang melakukannya dan biasanya perempuan yang dianggap berdosa/ patut dihukum berat/ dilempari batu dalam hukum Taurat yang diajarkan Musa.
*Injil Suci Yohanes menceritakan kisah menarik dimulai dengan Yesus yang mengajar rakyat di Bait Allah, lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, lalu berkata kepada Yesus,
Saat mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,
Ia pun bangkit berdiri lalu berkata,
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,
hendaklah ia yang pertama melemparkan batu
kepada perempuan itu."
Lalu Yesus membungkuk pula dan menulis di tanah. (Perkataan Yesus, 'out of the box'/ melepaskan-Nya dari buah simakalama itu).
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu,
pergilah mereka seorang demi seorang,
mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu,
yang tetap di tempatnya.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya,
"Hai perempuan, di manakah mereka?
Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya, "Tidak ada, Tuhan."
Lalu kata Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
*Kemurahan-Mu mengiringiku seumur hidupku.
Aku diam di dalam rumah-Mu selalu.
Amin.
Senin Prapaskah V
PF S. Turibius dari Mongrovejo, Uskup
Warna Liturgi: Ungu
Bacaan I: T.Dan 13:1-9.15-17.19-30.33-62
Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
Bait Pengantar Injil: Yoh 33:11
Bacaan Injil: Yoh 8:1-11
*Bagi saya, fitnah itu kejam bisa membunuh orang tanpa senjata tajam karena fitnah dapat membunuh jiwa/ masa depan. Fitnah/ tuduhan/ pernyataan palsu bisa merusak reputasi/ merugikan/ merusak masa depan seseorang. Fitnah bisa berupa kata-kata/ tulisan/ tindakan yang membuat orang lain memiliki opini buruk tentang seseorang yang benar.
*Kisah menarik dalam kitab tambahan Daniel adalah kisah Susana, isteri Yoyakim yang amat sangat cantik dan takwa pada Allah, karena orang tuanya (Hilkia) mendidik Susana dengan benar menurut Taurat Musa. Yoyakim itu amat kaya dan paling terhormat di antara sekalian orang,
maka orang-orang Yahudi biasa berkumpul di rumahnya hingga tengah hari.
Yoyakim memiliki sebuah taman berdekatan dengan rumahnya, dimana Susana yang amat sangat cantik sering berjalan-jalan dan mandi di taman suaminya itu.
Pada suatu siang hari saat cuaca panas, Susana disertai dua orang dayang masuk dan berjalan-jalan di situ, Kata Susana kepada dayang-dayangnya,
"Ambilkanlah aku minyak dan urap, dan tutuplah pintu taman,supaya aku dapat mandi."
Segera setelah dayang-dayang itu keluar,
bangunlah kedua orang tua-tua yang bersembunyi sambil mengintip Susana (setiap hari mereka mengintip maka timbullah dalam hati kedua orang tua-tua itu
nafsu berahi kepada Susana), lalu bergegas-gegas menuju Susana.
Berkatalah mereka,
"Pintu-pintu taman sudah tertutup
dan tidak ada seorangpun melihat kita.
Kami sangat cinta berahi kepadamu.
Tidurlah bersama-sama dengan kami.
Kalau engkau tidak mau, pasti kami akan naik saksi terhadapmu,
bahwa seorang pemuda kedapatan padamu,
dan bahwa oleh karena itulah
maka dayang-dayang itu kausuruh pergi."
Berdesahlah Susana, lalu berkata,
"Aku terdesak sekeliling.
Sebab jika hal itu kulakukan, niscaya kematian menanti aku.
Jika tidak kulakukan, maka aku tidak lolos dari tangan kamu. (Buah simakalama)
Namun
lebih baik aku jatuh ke tanganmu dengan tidak berbuat demikian
daripada berbuat dosa di hadapan Tuhan."
Lalu Susana berteriak-teriak dengan suara nyaring.
Tetapi kedua orang tua-tua itu berteriak-teriak pula
melawan Susana, dan lari membuka pintu taman.
"Aku terdesak sekeliling.
Sebab jika hal itu kulakukan, niscaya kematian menanti aku.
Jika tidak kulakukan, maka aku tidak lolos dari tangan kamu. (Buah simakalama)
Namun
lebih baik aku jatuh ke tanganmu dengan tidak berbuat demikian
daripada berbuat dosa di hadapan Tuhan."
Lalu Susana berteriak-teriak dengan suara nyaring.
Tetapi kedua orang tua-tua itu berteriak-teriak pula
melawan Susana, dan lari membuka pintu taman.
Teriakan di taman itu didengar orang-orang
yang ada di dalam rumah,
bergegas-gegaslah mereka
untuk melihat apa yang terjadi dengan Susana.
Setelah kedua orang tua-tua itu memberikan keterangan,
maka amat malulah para pelayan,
sebab belum pernah hal semacam itu dikatakan tentang Susana.
Keesokan harinya,
ketika rakyat berkumpul lagi di rumah Yoyakim, suami Susana,
datang pulalah kedua orang tua-tua itu
penuh angan-angan fasik untuk membunuh Susana.
Di depan rakyat mereka berkata,
"Suruhlah ambil Susana, anak Hilkia, isteri Yoyakim!"
Maka diambillah Susana.
Ia datang disertai orang tuanya, anak-anak dan kaum kerabatnya.
Sanak saudara dan semua yang melihat Susana, menangis.
Sementara kedua orang tua-tua itu berdiri di tengah rakyat
dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Susana,
Susana menengadah ke Surga sambil menangis,
sebab hatinya tetap percaya pada Tuhan.
Maka kata kedua orang tua-tua itu,
"Sedang kami berdua berjalan-jalan di taman,
masuklah Susana bersama dua dayang-dayang.
Lalu pintu taman itu ditutup,
dan disuruhnya dayang-dayang itu pergi.
Lalu datanglah seorang pemuda yang bersembunyi di situ
dan ia berbaring bersama Susana.
Ketika kami, yang ada di sudut taman,
melihat kefasikan itu,
berlari-larilah kami kepada mereka.
Walaupun kami melihat mereka tidur bersama-sama di sana,
namun kami tidak dapat menangkap pemuda itu
karena ia lebih kuat dari kami.
Ia membuka pintu lalu melarikan diri.
Tetapi Susana kami pegang,
dan kami menanyakan siapa pemuda itu.
Ia tidak mau memberitahu kami.
Inilah kesaksian kami."
Himpunan rakyat percaya akan kesaksian mereka,
karena mereka adalah orang tua-tua dan hakim.
Atas dasar kesaksian itu,
dijatuhkannya hukuman mati kepada Susana.
Maka berserulah Susana dengan suara nyaring,
"Allah yang kekal, yang mengetahui apa yang tersembunyi,
dan mengenal sesuatu sebelum terjadi,
Engkau pun tahu
bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku.
Sungguh, aku mati,
meskipun aku tidak melakukan sesuatu pun
dari yang mereka dustakan tentang aku."
Maka Tuhan mendengarkan suaranya.
Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya,
Allah membangkitkan roh suci Daniel.
Daniel berseru dengan suara nyaring,
"Aku tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!"
yang ada di dalam rumah,
bergegas-gegaslah mereka
untuk melihat apa yang terjadi dengan Susana.
Setelah kedua orang tua-tua itu memberikan keterangan,
maka amat malulah para pelayan,
sebab belum pernah hal semacam itu dikatakan tentang Susana.
Keesokan harinya,
ketika rakyat berkumpul lagi di rumah Yoyakim, suami Susana,
datang pulalah kedua orang tua-tua itu
penuh angan-angan fasik untuk membunuh Susana.
Di depan rakyat mereka berkata,
"Suruhlah ambil Susana, anak Hilkia, isteri Yoyakim!"
Maka diambillah Susana.
Ia datang disertai orang tuanya, anak-anak dan kaum kerabatnya.
Sanak saudara dan semua yang melihat Susana, menangis.
Sementara kedua orang tua-tua itu berdiri di tengah rakyat
dan meletakkan tangan mereka di atas kepala Susana,
Susana menengadah ke Surga sambil menangis,
sebab hatinya tetap percaya pada Tuhan.
Maka kata kedua orang tua-tua itu,
"Sedang kami berdua berjalan-jalan di taman,
masuklah Susana bersama dua dayang-dayang.
Lalu pintu taman itu ditutup,
dan disuruhnya dayang-dayang itu pergi.
Lalu datanglah seorang pemuda yang bersembunyi di situ
dan ia berbaring bersama Susana.
Ketika kami, yang ada di sudut taman,
melihat kefasikan itu,
berlari-larilah kami kepada mereka.
Walaupun kami melihat mereka tidur bersama-sama di sana,
namun kami tidak dapat menangkap pemuda itu
karena ia lebih kuat dari kami.
Ia membuka pintu lalu melarikan diri.
Tetapi Susana kami pegang,
dan kami menanyakan siapa pemuda itu.
Ia tidak mau memberitahu kami.
Inilah kesaksian kami."
Himpunan rakyat percaya akan kesaksian mereka,
karena mereka adalah orang tua-tua dan hakim.
Atas dasar kesaksian itu,
dijatuhkannya hukuman mati kepada Susana.
Maka berserulah Susana dengan suara nyaring,
"Allah yang kekal, yang mengetahui apa yang tersembunyi,
dan mengenal sesuatu sebelum terjadi,
Engkau pun tahu
bahwa mereka itu memberikan kesaksian palsu terhadap aku.
Sungguh, aku mati,
meskipun aku tidak melakukan sesuatu pun
dari yang mereka dustakan tentang aku."
Maka Tuhan mendengarkan suaranya.
Ketika Susana dibawa keluar untuk dihabisi nyawanya,
Allah membangkitkan roh suci Daniel.
Daniel berseru dengan suara nyaring,
"Aku tidak bersalah terhadap darah perempuan itu!"
Maka segenap rakyat berpaling kepada Daniel, katanya,
"Apakah maksudnya kata-katamu itu?"
Daniel pun lalu berdiri di tengah-tengah mereka.
Katanya, "Demikian bodohkah kamu, hai orang Israel?
Adakah kamu menghukum seorang puteri Israel
tanpa pemeriksaan dan tanpa bukti?
Kembalilah ke tempat pengadilan,
sebab kedua orang itu memberikan kesaksian palsu
terhadap perempuan ini!"
Maka bergegaslah rakyat kembali ke tempat pengadilan.
Orang tua-tua itu berkata kepada Daniel,
"Kemarilah, duduklah di tengah-tengah kami dan beritahulah kami,
sebab Allah telah menganugerahkan kepadamu
martabat orang tua-tua."
Lalu Daniel berkata kepada orang yang ada di situ,
"Pisahkanlah kedua orang tua-tua tadi jauh-jauh,
maka mereka akan diperiksa."
Setelah mereka dipisahkan satu sama lain,
Daniel memanggil seorang di antara mereka dan berkata kepadanya,
"... jikalau engkau sungguh-sungguh melihat dia,
katakanlah: Di bawah pohon apakah
telah kaulihat mereka bercampur?"
Sahut orang tua-tua itu, "Di bawah pohon mesui!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri!
Sebab malaikat Allah telah menerima firman dari Allah
untuk membelah engkau!"
Setelah orang itu disuruh pergi,
Danielpun lalu menyuruh bawa yang lain kepadanya.
Kemudian berkatalah Daniel kepada orang itu,
"... kecantikan telah menyesatkan engkau
dan nafsu berahi telah membengkokkan hatimu.
Oleh karena itu katakanlah kepadaku:
Di bawah pohon apakah telah kaudapati mereka bercampur?"
Sahut orang tua-tua itu,
"Di bawah pohon berangan!"
Kembali Daniel berkata,
"Baguslah engkau mendustai kepalamu sendiri.
Sebab malaikat Allah sudah menunggu-nunggu
dengan pedang terhunus untuk membahan engkau,
supaya engkau binasa!"
Maka berserulah seluruh himpunan itu dengan suara nyaring memuji Allah yang menyelamatkan yang berharap kepada-Nya.
Serentak mereka bangkit melawan kedua orang tua-tua itu,
sebab Daniel telah membuktikan dengan mulut mereka sendiri yang memberikan kesaksian palsu.
Lalu mereka diperlakukan sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh.
Demikian pada hari itu diselamatkan darah Susana yang tak bersalah.
*Zinah, perbuatan tidak senonoh/ hubungan seksual di luar pernikahan. Dari dulu dianggap berdosa besar namun banyak orang pernah/ berulang melakukannya dan biasanya perempuan yang dianggap berdosa/ patut dihukum berat/ dilempari batu dalam hukum Taurat yang diajarkan Musa.
*Injil Suci Yohanes menceritakan kisah menarik dimulai dengan Yesus yang mengajar rakyat di Bait Allah, lalu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, lalu berkata kepada Yesus,
"Rabi, perempuan ini tertangkap basah
ketika ia sedang berbuat zinah.
Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita
untuk melempari dengan batu
perempuan-perempuan yang demikian.
Apakah pendapatmu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus,
supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. (Mereka pikir itu buah simakalama/ serba salah. Menghukumnya akan tidak sesuai dengan ajaran Kasih dan Pengampunan).
ketika ia sedang berbuat zinah.
Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita
untuk melempari dengan batu
perempuan-perempuan yang demikian.
Apakah pendapatmu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Yesus,
supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. (Mereka pikir itu buah simakalama/ serba salah. Menghukumnya akan tidak sesuai dengan ajaran Kasih dan Pengampunan).
Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis di tanah dengan jari-Nya.
Saat mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya,
Ia pun bangkit berdiri lalu berkata,
"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa,
hendaklah ia yang pertama melemparkan batu
kepada perempuan itu."
Lalu Yesus membungkuk pula dan menulis di tanah. (Perkataan Yesus, 'out of the box'/ melepaskan-Nya dari buah simakalama itu).
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu,
pergilah mereka seorang demi seorang,
mulai dari yang tertua.
Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu,
yang tetap di tempatnya.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya,
"Hai perempuan, di manakah mereka?
Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya, "Tidak ada, Tuhan."
Lalu kata Yesus, "Aku pun tidak menghukum engkau.
Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
*Ya Tuhan dan Allahku...
Engkaulah gembalaku.
Takkan kekurangan aku
Kaubaringkan aku di padang rumput hijau.
Ke air yang tenang Kaubimbing aku.
*Di jalan lurus Kautuntun aku.
Demi kekudusan nama-Mu.
Demi kekudusan nama-Mu.
Aku tidak takut bahaya disitu. Sebab Engkau besertaku.
Tongkat gembalaan-Mu yang menghiburku.
*Engkau menyediakan hidangan bagiku.
Di hadapan segala lawanku.
Tongkat gembalaan-Mu yang menghiburku.
*Engkau menyediakan hidangan bagiku.
Di hadapan segala lawanku.
Dengan minyak Kauurapi kepalaku.
Penuh berlimpah pialaku.
*Kemurahan-Mu mengiringiku seumur hidupku.
Aku diam di dalam rumah-Mu selalu.
Amin.
#