Monday, March 13, 2017

RenHar. 13 Maret 2017. MEMAAFKAN cara baru dalam mengenang menjadi sebuah harapan bagi masa depan kita.

MEMAAFKAN
  tidak menghapus masa lalu yang pahit.

Sebuah kenangan yang dipulihkan,
  bukan sebuah kenangan yang dihapus.

Dengan memaafkan
  apa yang tidak dapat dilupakan,
    kita menciptakan cara baru dalam mengenang.

Kita mengubah kenangan masa lalu
  menjadi sebuah harapan bagi masa depan kita.

*Lewis B. Smedes*


#


"MENGAKUI DOSA KITA"

Bacaan Liturgi 13 Maret 2017
Senin Pekan Prapaskah II.

 Bacaan Pertama Dan 9:4b-10;

Mazmur 79:8.9.11.13 ;

Bacaan Injil Luk 6:36-38

Daniel berkata: "Pada Tuhan ada belas kasih dan pengampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia".

Dewasa ini kesadaran akan kesalahan dan dosa semakin terkikis. 

Dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, kesadaran akan penyimpangan dan pelanggaran hukum semakin menipis. 


Lebih memprihatinkan lagi, orang tidak hanya tidak menyadari  bahwa dirinya telah melanggar hukum, tetapi malah berusaha menyangkal dan ingkar. 

Bahkan ada orang yang nekat bersumpah lantang bahwa ia tidak melakukan pelanggaran pada hal jelas-jelas melakukan dan akhirnya terbukti dalam pengadilan. 


Dalam Gereja, kesadaran akan dosa juga semakin surut. Ada umat yang bertahun-tahun tidak mengaku dosa dan merasa hepi saja. 

Sakramen tobat tidak begitu diminati.


Sabda Tuhan hari ini menuturkan pengalaman orang beriman sejati. 


Daniel, mewakili bangsa Israel, mengakui dosanya dihadapan Allah:

"Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan memberontak, kami telah
Menyimpang dari perintah dan peraturanMu....


Saat ini, kita sedang meniti Masa Prapaskah, masa untuk memupuk semangat tobat, masa untuk memurnikan hati. 


Belajar dari Daniel, marilah kita mawas diri secara jujur. 


Kalau memang kita berbuat dosa dan salah, atau telah berlaku fasik san memberontak, menyimpang dari perintah dan peraturan Tuhan..., marilah kita mengakui dosa kita dihadapan Allah, dan dengan penuh harapan memohon pengampunanNya sebab pada Tuhan ada pengampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia.

Tuhan,

Berilah aku hati yang tulus dan jujur untuk menyadari dosa-dosaku, dan berilah aku juga keberanian untuk mengakui dihadapanMu dan mengharap pengampunanMu.

Amin.
Met Hari Senin.

#

SabdaNya 

Senin 13 - 03  - 17

Dan 9: 4-10           

Luk 6 : 36-38

Shalom,
Didalam Injil Matius dicatat kata2 Kristus agar kita selalu berusaha menjadi sempurna didalam mengasihi, seperti kasih Bapa kepada kita yg sempurna.


Dalam versi Lukas, dicatat ajakan Kristus agar kita mau bermurah hati  sama seperti Bapa bermurah hati kepada kita.


Sebagai citra Allah, mengasihi dan bermurah hati kepada sesama adalah hal yg mutlak kita lakukan, supaya dunia mengenal Allah yg kita sembah.

Apakah kita dapat selalu merasakan kemurahan hati Allah didalam hidup kita? 


Kadang kita harus berhadapan dg kesulitan atau bahkan kekerasan hidup karena sikap orang2 disekitar yg tidak adil, jauh dari ramah, egoist bahkan arogan.


Dalam situasi dan kondisi yg keras seperti ini tidak mudah merasakan kemurahan hati Allah, sehingga kitapun tidak tertarik untuk bermurah hati terhadap sesama.

Daniel hidup pada saat orang2 Yahudi dibuang ke Babel dimana hidup mereka  sangat tertekan sebagai budak bangsa asing. 


Tetapi Daniel dapat melihat dg jernih bahwa penderitaan dan kehinaan itu bukan karena Allah yg ingkar janji atau lalai dalam melindungi umatNya, tetapi justru karena mereka tidak mau mendengar dan taat kepada Allah.


Dia merasa malu dg dosa2 yg telah dilakukan bangsanya, tetapi Daniel tetap punya pengharapan dan berdoa memohon belas kasih dan pengampunan Allah.

Dalam situasi yg sulit, sering kali kita menggerutu dan menyalahkan Allah, serta menyesali orang2 disekitar kita.

Semakin kita menggerutu, beban akan terasa semakin berat menekan.


Kita perlu belajar dari Daniel yg dg rendah hati dan jujur memeriksa tingkah laku dirinya dan bangsanya sendiri, sehingga sadar bahwa sumber bencana adalah dosa2 yg begitu sering kita lalukan.


Ketika kita mengakui kesalahan dan memohon ampun, Allah dg kemurahan hatiNya pasti akan turun tangan untuk memberi kita kekuatan menanggung akibat dosa dan mengingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan lagi.

Kemurahan hati Allah senantiasa berlimpah dan jauh diatas asas keadilan. Kita perlu selalu menyadari hal ini sehingga memberikan dorongan kuat kepada kita untuk bersyukur kepadaNya dan mewujudkannya dg bermurah hati kepada sesama, khususnya kepada yg sedang berbeban dan yg melakukan kesalahan kepada kita.


 Dijauhkanlah sikap cepat menghakimi, karena mungkin kesalahan utama justru bersumber dari diri kita sendiri.


Mari kita ingat apa yg dikatakan Kristus, ukuran yg kita pakai untuk mengukur (untuk bersikap terhadap sesama) akan diukurkan Allah kepada kita.


Gbu all n hv a blessed Monday.

#

Monday, 13th MARCH
Anniversary of Pope Francis' Election

Luke 6:36-38

Be merciful, even as your Father is merciful. 


"Judge not, and you will not be judged; 

  condemn not, and you will not be condemned; 

  forgive, and you will be forgiven;

  give, and it will be given to you; 

  good measure, pressed down, shaken together, running over, will be put into your lap. 


For the measure you give will be the measure you get back."

Have you heard the story of the teacher in the college for 'Older Students'? 


The man loved asking questions about the things he had explained before in order to keep his students attentive in his lessons.


 'Let's see, you...the fellow in the corner,' the teacher said. 'When was Rome destroyed by fire?' 


'To be honest...' the unfortunate 'student' replied, taken by surprise, 'I...don't remember.'


 'Very well, then,' the teacher insisted, 'do you remember when Vesuvius wiped Pompeii off the map?' 


The man, visibly embarrassed, answered, 'No idea, really.'


 'This is quite disappointing,' the annoyed teacher complained, 'What about the destruction of Jerusalem?'


 'My mind is a blank right now,' the poor man said.


 'May I know' the teacher asked in anger, 'why did you come to my class?' 


The man produced a bulb from his pocket and replied shyly, 'To change this bulb...I'm the caretaker.'

"Judge not, and you will not be judged", since we never know everything about others, we are not in situation to judge anyone. 


You know the saying, 'Before you judge a man, walk a mile in his shoes.' 


The truth is that walking a mile in someone else's shoes can give you an idea of what they feel. 

But still, after a mile, you don't know anyone well enough to judge them. 

You should walk more than a mile, in his shoes, through the paths he walks, in the same weather, same time, same company, to step on the same footprints; still that wouldn't be enough, you should walk, not just in his shoes, but in his feet. 

Of course, that is impossible. 


That is why to judge anyone is always utterly inaccurate except if you are him or if you are God. 


God has given us conscience to judge ourselves. No one can know better than myself when I haven't been generous with God (except God).

Mary,

  my Mother,

  if you teach me to love everyone,

   I will always understand and help them to be holy,

     instead of wasting time and humility trying to judge them.


#

No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.