Sunday, July 17, 2016

RenHar. Minggu, 17 Juli 2016. MENDENGAR SABDA TUHAN DAN MELAYANI TUHAN.

*⭕Mutiara Iman*


MENDENGAR SABDA TUHAN DAN MELAYANI.

Minggu, 17 Juli 2016.

_"Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya"_
(Luk 10:42)

Lectio
Kej 18:1-10a; Mzm 15:2-3ab, 3cd-4ab, 5; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42

Lenny adalah seorang pewarta dan juga seorang direktur di salah satu perusahaan. Suatu saat seorang wanita muda menghampirinya dan berkata:"Ibu Lenny, bagaimana caranya saya bisa seperti ibu?" Jawab Lenny:"Jangan seperti saya, tetapi seperti Yesus. Dengarlah apa yang disabdakan-Nya". Tiga bulan kemudian, setelah mengikuti suatu retreat, Lenny bertemu dengan ibu muda itu dan berkata:"Bu Lenny, terima kasih atas sarannya. Setelah membaca Sabda Tuhan setiap hari, sekarang saya menjadi anggota koor. Saya senang sekali mendaraskan mazmur, sampai bisa berlinang air mata". Dengan terharu Lenny memandang ke atas dan berkata:"Syukur kepada Allah".

Yesus berkata kepada Marta:"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu yang perlu: Maria tah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.

Mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukan-Nya adalah pelayanan sejati sebagai murid Tuhan.

Oratio
Ya Tuhan, Sabda-Mu adalah jalan dan kehidupan. Amin

Missio
_Marilah kita melakukan karya kerahiman dengan mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melakukannya._

*Have a Blessed Sunday.*



*


MINGGU BIASA XVI

BACAAN INJIL

Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata:

 "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." 


Tetapi Tuhan menjawabnya: 

"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." 

(Luk 10:38-42)

AJARAN GEREJA: MAGISTERIUM

"Holy Mass is the highest form of prayer and worship."
-CCC-

Perintah  Yesus  untuk  mengulangi  perbuatan  dan  perkataan-Nya,  "sampai  Ia  datang  kembali"  (1  Kor  11:26)  menghendaki  tidak  hanya mengenangkan  Yesus  dan  apa  yang  telah  Ia  lakukan.  Perintah  itu  bertujuan  agar  para  Rasul  dan  para  penggantinya  merayakan  secara  liturgis kenangan  akan  Kristus,  hidup-Nya,  kematian-Nya,  kebangkitan-Nya,  dan  akan  pembelaan-Nya  bagi  kita  di  depan  Bapa.
-Katekismus Gereja Katolik 1341-

Gereja  tetap  setia  kepada  perintah  Tuhan  sejak  awal.  Tentang  Gereja  di  Yerusalem  diberitakan: 

"Mereka  bertekun  dalam  pengajaran  Rasul-rasul  dan  dalam  persekutuan.  Dan  mereka  selalu  berkumpul  untuk  memecahkan  roti  dan  berdoa...  Dengan bertekun  dan  dengan  sehati  mereka  berkumpul  tiap-tiap  hari  dalam  Bait  Allah.  Mereka  memecahkan  roti  di  rumah  masing-masing  secara  bergilir  dan makan  bersama-sama  dengan  gembira  dan  dengan  tulus  hati"  (Kis  2:42.46).
-Katekismus Gereja Katolik 1342-

Warga  Kristen  biasanya  berkumpul  "pada  hari  pertama  dalam  minggu",  artinya  pada  hari  Minggu,  hari  kebangkitan  Yesus,  "untuk memecahkan  roti"  (Kis  20:7).

  Sampai  sekarang  perayaan  Ekaristi  dilanjutkan  dengan  cara  yang  sama,  sehingga  dewasa  ini  ia  ditemukan  di  mana mana  di  dalam  Gereja  dengan  kerangka  dasar  yang  sama.  Ia  tetap  merupakan  inti  kehidupan  Gereja.
-Katekismus Gereja Katolik 1344-

Perayaan  Ekaristi  berlangsung  sesuai  dengan  kerangka  dasar  yang  sepanjang  sejarah  tetap  sama  hingga  sekarang.  Ia  terbentuk  dari  dua  bagian besar,  yang  pada  hakikatnya  merupakan  satu  kesatuan: Perkumpulan  ibadat  Sabda  dengan  bacaan-bacaan,  homili,  dan  doa  umat; Upacara  Ekaristi  dengan  persembahan  roti  dan  anggur,  yang  konsekrasinya  terjadi  dalam  ucapan  terima  kasih  (ekaristi),  dan  komuni. 


Ibadat  Sabda  dan  upacara  Ekaristi  merupakan  "satu  tindakan  ibadat"  (SC  56).  Meja,  yang  disiapkan  untuk  kita  dalam  Ekaristi  adalah  sekaligus  meja Sabda  Allah  dan  meja  tubuh  Kristus  Bdk.  DV  21..
-Katekismus Gereja Katolik 1346-

TRADISI SUCI

"Pada  hari  yang  dinamakan  hari  matahari,  semua  orang  yang  tinggal  di  kota-kota  atau  daerah  sekitarnya  berkumpul  di  satu  tempat  yang  sama. Tulisan-tulisan  para  Rasul  dan  kitab-kitab  para nabi dibacakan,  sejauh  waktu  memungkinkannya. Setelah  pembaca  berhenti,  pemimpin  memberi  satu  wejangan,  di  mana  ia  menasihati  dan,  mendorong,  supaya  mengikuti  ajaran  dan  contoh  yang  baik ini.
Sesudah  itu  kami  semua  berdiri  bersama-sama  dan  melambungkan  doa  ke  surga  *  untuk  kami  sendiri...  dan  untuk  semua  orang  lain  di  seluruh  dunia, supaya  kami  menjadi  layak  juga  dalam  pekerjaan  kami  sebagai...  manusia  yang  baik  dan  supaya  menjadi  layak  sebagat  pengamat  perintah-perintah, supaya  dengan  demikian  mendapat  keselamatan  abadi. Sesudah  kami  menyelesaikan  doa-doa,  kami  saling  memberi  salam  dengan  ciuman. Lalu  kepada  pemimpin  saudara-saudara,  dibawakan  roti  dan  satu  cawan  dengan  campuran  air  dan  anggur. Ia  mengambilnya,  melambungkan  pujian  dan  syukur  kepada  Bapa  semesta  alam  atas  nama  Putera  dan  Roh  Kudus  dan  menyampaikan  ucapan  terima kasih  [Yn.  "eukharistia"]  karena  kami  dianggap  layak  menerima  anugerah-anugerah  ini  dari-Nya. Sesudah  doa  dan  ucapan  terima  kasih  itu  selesai,  seluruh  umat  yang  hadir  lalu  mengatakan:  Amin.


 Setelah  pemimpin  menyelesaikan  ucapan  terima  kasih  dan  seluruh  umat  menerimanya  dengan  suara  bulat,  para  diaken,  sebagaimana  mereka  disebut oleh  kami,  membagi-bagikan  kepada  setiap  orang  yang  hadir,  roti  yang  telah  diberkati  dengan  penuh  syukur  [di-ekaristi-kan]  dan  anggur  yang  telah dicampur  dengan  air  untuk  dinikmati  dan  membawakannya  juga  untuk  mereka  yang  tidak  hadir." (apol.  1,65;  teks  sebelum  tanda  *  dari  1,67)
-Santo Yustinus Martir, tahun 155-

REFLEKSI TEOLOGIS

MISA SEBAGAI BUKTI: TENTANG EKARISTI DAN API YANG MENGUDUSKAN KURBAN

"Misa Kudus sarat dengan Kitab Suci,  Kitab Suci sarat dengan Misa Kudus."

Bagi orang Katolik,  Misa merupakan pusat kehidupan. Misa adalah "pemecahan roti" yang ditemukan di sepanjang Kisah Para Rasul dan dikenali sebagai tanda pembeda yang jelas kehidupan Kristiani jemaat Gereja perdana (Kis 2:42).

 Misa adalah "kurban sajian yang tahir" yang dinubuatkan oleh nabi Maleakhi (Mal 1:11). 

Misa Kudus adalah pemenuhan dari perintah Tuhan Yesus yang dinyatakan Yesus sendiri dalam Perjamuan Malam Terakhir (Luk 22:19).

Maka umat Katolik sering tercengang ketika ada pihak yang menyatakan bahwa Misa itu "penemuan abad ke empat" (seperti yang kubaca dalam sebuah traktat) atau Misa Kudus "tidak Alkitabiah". Tuduhan ini sungguh-sungguh absurd sehingga orang Katolik yang tidak siap menjawab tidak mengerti dari mana akan memberikan penjelasannya.

Ada banyak cara untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap tuduhan tersebut,  namun hampir semuanya dapat digolongkan kedua kelompok prinsip yang yang mudah sekali kita ingat :
1. Misa Kudus sarat dengan Kitab Suci.
2. Kitab Suci sarat dengan Misa Kudus.

KITAB SUCI DALAM MISA KUDUS

Mudah sekali untuk memahami mengapa umat Katolik menanggapi dengan perasaan tidak percaya diri ketika ada pihak yang menyatakan bahwa Misa Kudus itu tidak Alkitabiah. Pengalaman umat Katolik dalam Misa Kudus justru sungguh-sungguh berlawanan dengan tuduhan itu. 

Realitas Misa Kudus lain sekali dengan apa yang dituduhkan itu. 


Di dalam setiap Misa Kudus ada tiga bacaan Kitab Suci dalam perikop penuh,  yang dipilih dari Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gereja Katolik menyusun bacaan-bacaan khusus untuk setiap hari dalam suatu siklus tiga tahunan (tahun liturgi A, B, dan C). Dalam siklus tersebut,  seorang Katolik yang menghadiri Misa Kudus setiap hari akan mendengarkan sebagian besar isi dari sebagian besar kitab-kitab dalam Alkitab. Orang Katolik yang menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu dan hari hari raya (Natal,  kenaikan Tuhan Yesus dan sebagainya)  akan mendengarkan kutipan kutipan utama dari Kitab Suci yang berulang kali diwartakan.

Bacaan-bacaan pertama Misa pada umumnya diambil baik dari Perjanjian Lama maupun salah satu Kitab Perjanjian Baru di luar Injil,  yaitu dari Kisah Para Rasul,  Surat-surat,  atau Kitab Wahyu. Sesudah bacaan pertama itu, jemaat membacakan atau melagukan salah satu Mazmur. Kemudian imam atau diakon membaca suatu perikop Injil. Pada hari raya tertentu,  misalnya Minggu palma atau Malam Paskah, jemaat mendengarkan bacaan-bacaan yang lebih panjang dari biasanya,  dari lebih banyak Kitab dari Kitab Suci.

Dan masih ada banyak lagi bagian dari Kitab Suci yang terkandung di dalam setiap Misa Kudus. Banyak doa-doa standard diambil dari halaman halaman Kitab Suci, misalnya :

Salam Pembukaan (Mat 28:19)
Salam apostolik (2Kor 13:14)
Amin (1Taw 16:36b)
Tuhan sertamu (Luk 1:28; 2Tes 3:16; Rut 2:4)
Tuhan,  kasihilah kami (Mat 17:15; 20:31; Mzm 123:3
Kemuliaan kepada Bapa (Luk 2:14 dan ditambah dari Kitab Wahyu)
Alleluia (Wahyu 19:1-6; Tob 13:18)
Arahkanlah hati kepada... (Rat 3:41)
Kudus, kudus,  kuduslah..(Why 4:8; Yes 6:3; Mrk 11:9-10 ; Mzm 118:26)
Doa Ekaristi (1Kor 11:23-26 ; Mat 26:26-28 ; Mrk 14:22-24 ; Luk 22:17-20)
Amin (meriah)  (Wahyu 5:14)
Bapa Kami (Mat 6:9-13)
Damai sertamu (Yoh 14:27; 20:19)
Anak Domba Allah (Yoh 1:29; Why 5:6; dll)
Inilah Anak Domba Allah (Why 19:9)
Tuhan, saya tidak pantas... (Mat 8:8)
Pergilah dalam damai (Luk 7:50, 2Taw 25:3)
Syukur kepada Allah (2Kor 9:15).

Tambahan juga pada semua ini lagu-lagu nyanyian jemaat yang liriknya biasanya Alkitabiah,  dan anda akan mendapatkan: pembacaan Kitab Suci selama satu jam. Misa Kudus sungguh-sungguh Alkitabiah.

Ya sungguh! Bahkan gerakan-gerakan dalam Misa pun Alkitabiah juga, demikian pula peralatan Misa dan pakaian Misa. Ibadat Katolik mengikuti dengan sangat ketat ibadat surgawi yang digambarkan dalam Kitab Wahyu. Ketika imam membuat tanda salib,  imam sedang membuat meterai yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu 7:3 dan Wahyu 14:1 dan dinubuatkan dalam Yeh 9:4. Ketika imam merentangkan tangannya,  ia mengingatkan kita kepada Kisah Musa selama pertempuran Amalek (Kel 17:12), dan mengingatkan kita kepada tangan Yesus yang terentang di kayu salib. Pada akhir Misa Kudus,  ketika imam merentangkan dan mengangkat kedua tangannya,  ia melakukan apa yang dilakukan oleh imam-imam sejak bangsa Israel mengembara di padang gurun: "Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan."  (Im 9:22)

Jemaat Kristiani perdana,  misalnya Ignatius dari Antiokhia dan Tertullianus mengakui bahwa Gereja mendirikan altar-altarnya di dunia menyerupai altar di surga (Why 8:3). Busana imam menyerupai busana para pelayan ibadat di surga (Why 4:4). Dan bahkan di jaman lampu listrik ini,  Gereja Katolik terus menggunakan lilin untuk melukiskan kaki dian yang diungkapkan dalam visi penglihatan surgawi yang paling hidup dari Kitab Suci (Why 1:12). Begitupula penggunaan dupa dalam ibadat (Why 5:8) dan piala (Why 16) serta bejana-bejana yang digunakan.

Jemaat berlutut,  seperti yang dipraktikkan dalam Gereja Katolik Roma,  merupakan praktik yang sangat alkitabiah. Dalam Perjanjian Baru,  berlutut merupakan sikap tata gerak tubuh ibu-ibu,  para penguasa,  penderita kusta dan Yesus sendiri (Mat 8:2; 9:18; 15:25; Luk 22:41). Dengan asal usul seperti ini,  sulit sekali untuk membantah bahwa tata gerak tubuh dalam Misa Kudus sungguh-sungguh Alkitabiah.

Sekalipun begitu,  tetap saja ada yang nekat menentang tata gerak tubuh dalam Misa Kudus. Katanya praktik semacam itu hanya mengikuti Perjanjian Baru secara harfiah,  bukan semangatnya,  dan itu menjadi bukti ritualisme dan seremonialisme,  bukan agama.  Namun tuduhan seperti itu juga tidak benar. Ibadat Kristiani memang meliputi tata upacara ritual dan seremonial perayaan,  namun Injil tidak melarang ritual dan perayaan seremonial.  Dalam kenyataannya Perjanjian Baru melukiskan beberapa upacara ritual yang penting dan MEMERINTAHKAN umat Kristiani untuk melaksanakannya: baptis (Mat 28:19); Ekaristi (Luk 22:19), pengurapan orang sakit (Yak 5:14), pengakuan dosa (Yak 5:16) dan penahbisan imam (1Tim 4:14). Setia kepada Sabda Tuhan,  Gereja Katolik terus melakukan semua ritual itu.

Namun praktik ini sama sekali bukan ritualisme dan seremonialisme.  Suatu praktik menjadi -isme hanya jika orang melaksanakan sebagai suatu tujuan. Tetapi semua ritual tersebut bukanlah tujuan. Tuhan sendiri yang memerintahkan dan menyelenggarakan itu bagi kebaikan kita,  dan ditata dalam perintah dan aturan untuk ibadat bagi Nya.

-Scott Hahn,  Reasons to Believe :How to Understand, Explain and Defend the Catholic Faith-

Selamat Hari Minggu Biasa XVI,  Hari Tuhan dan Selamat Merayakan Sakramen Ekaristi Maha Kudus saudara-saudaraku.  Tuhan Yesus memberkati kita semua.


*


RenHar. Minggu, 17 Juli 2016.

MENDENGAR SABDA TUHAN DAN MELAYANI TUHAN.

No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.