*⭕Mutiara Iman*
MENDENGAR SABDA TUHAN DAN MELAYANI.
Minggu, 17 Juli 2016.
_"Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya"_
(Luk 10:42)
Lectio
Kej 18:1-10a; Mzm 15:2-3ab, 3cd-4ab, 5; Kol 1:24-28; Luk 10:38-42
Lenny adalah seorang pewarta dan juga seorang direktur di salah satu perusahaan. Suatu saat seorang wanita muda menghampirinya dan berkata:"Ibu Lenny, bagaimana caranya saya bisa seperti ibu?" Jawab Lenny:"Jangan seperti saya, tetapi seperti Yesus. Dengarlah apa yang disabdakan-Nya". Tiga bulan kemudian, setelah mengikuti suatu retreat, Lenny bertemu dengan ibu muda itu dan berkata:"Bu Lenny, terima kasih atas sarannya. Setelah membaca Sabda Tuhan setiap hari, sekarang saya menjadi anggota koor. Saya senang sekali mendaraskan mazmur, sampai bisa berlinang air mata". Dengan terharu Lenny memandang ke atas dan berkata:"Syukur kepada Allah".
Yesus berkata kepada Marta:"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu yang perlu: Maria tah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.
Mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukan-Nya adalah pelayanan sejati sebagai murid Tuhan.
Oratio
Ya Tuhan, Sabda-Mu adalah jalan dan kehidupan. Amin
Missio
_Marilah kita melakukan karya kerahiman dengan mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melakukannya._
*Have a Blessed Sunday.*
*
MINGGU BIASA XVI
BACAAN INJIL
Ketika Yesus dan murid-muridNya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata:
"Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku."
Tetapi Tuhan menjawabnya:
"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
(Luk 10:38-42)
AJARAN GEREJA: MAGISTERIUM
"Holy Mass is the highest form of prayer and worship."
-CCC-
Perintah Yesus untuk mengulangi perbuatan dan perkataan-Nya, "sampai Ia datang kembali" (1 Kor 11:26) menghendaki tidak hanya mengenangkan Yesus dan apa yang telah Ia lakukan. Perintah itu bertujuan agar para Rasul dan para penggantinya merayakan secara liturgis kenangan akan Kristus, hidup-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan akan pembelaan-Nya bagi kita di depan Bapa.
-Katekismus Gereja Katolik 1341-
Gereja tetap setia kepada perintah Tuhan sejak awal. Tentang Gereja di Yerusalem diberitakan:
"Mereka bertekun dalam pengajaran Rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa... Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kis 2:42.46).
-Katekismus Gereja Katolik 1342-
Warga Kristen biasanya berkumpul "pada hari pertama dalam minggu", artinya pada hari Minggu, hari kebangkitan Yesus, "untuk memecahkan roti" (Kis 20:7).
Sampai sekarang perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan cara yang sama, sehingga dewasa ini ia ditemukan di mana mana di dalam Gereja dengan kerangka dasar yang sama. Ia tetap merupakan inti kehidupan Gereja.
-Katekismus Gereja Katolik 1344-
Perayaan Ekaristi berlangsung sesuai dengan kerangka dasar yang sepanjang sejarah tetap sama hingga sekarang. Ia terbentuk dari dua bagian besar, yang pada hakikatnya merupakan satu kesatuan: Perkumpulan ibadat Sabda dengan bacaan-bacaan, homili, dan doa umat; Upacara Ekaristi dengan persembahan roti dan anggur, yang konsekrasinya terjadi dalam ucapan terima kasih (ekaristi), dan komuni.
Ibadat Sabda dan upacara Ekaristi merupakan "satu tindakan ibadat" (SC 56). Meja, yang disiapkan untuk kita dalam Ekaristi adalah sekaligus meja Sabda Allah dan meja tubuh Kristus Bdk. DV 21..
-Katekismus Gereja Katolik 1346-
TRADISI SUCI
"Pada hari yang dinamakan hari matahari, semua orang yang tinggal di kota-kota atau daerah sekitarnya berkumpul di satu tempat yang sama. Tulisan-tulisan para Rasul dan kitab-kitab para nabi dibacakan, sejauh waktu memungkinkannya. Setelah pembaca berhenti, pemimpin memberi satu wejangan, di mana ia menasihati dan, mendorong, supaya mengikuti ajaran dan contoh yang baik ini.
Sesudah itu kami semua berdiri bersama-sama dan melambungkan doa ke surga * untuk kami sendiri... dan untuk semua orang lain di seluruh dunia, supaya kami menjadi layak juga dalam pekerjaan kami sebagai... manusia yang baik dan supaya menjadi layak sebagat pengamat perintah-perintah, supaya dengan demikian mendapat keselamatan abadi. Sesudah kami menyelesaikan doa-doa, kami saling memberi salam dengan ciuman. Lalu kepada pemimpin saudara-saudara, dibawakan roti dan satu cawan dengan campuran air dan anggur. Ia mengambilnya, melambungkan pujian dan syukur kepada Bapa semesta alam atas nama Putera dan Roh Kudus dan menyampaikan ucapan terima kasih [Yn. "eukharistia"] karena kami dianggap layak menerima anugerah-anugerah ini dari-Nya. Sesudah doa dan ucapan terima kasih itu selesai, seluruh umat yang hadir lalu mengatakan: Amin.
Setelah pemimpin menyelesaikan ucapan terima kasih dan seluruh umat menerimanya dengan suara bulat, para diaken, sebagaimana mereka disebut oleh kami, membagi-bagikan kepada setiap orang yang hadir, roti yang telah diberkati dengan penuh syukur [di-ekaristi-kan] dan anggur yang telah dicampur dengan air untuk dinikmati dan membawakannya juga untuk mereka yang tidak hadir." (apol. 1,65; teks sebelum tanda * dari 1,67)
-Santo Yustinus Martir, tahun 155-
REFLEKSI TEOLOGIS
MISA SEBAGAI BUKTI: TENTANG EKARISTI DAN API YANG MENGUDUSKAN KURBAN
"Misa Kudus sarat dengan Kitab Suci, Kitab Suci sarat dengan Misa Kudus."
Bagi orang Katolik, Misa merupakan pusat kehidupan. Misa adalah "pemecahan roti" yang ditemukan di sepanjang Kisah Para Rasul dan dikenali sebagai tanda pembeda yang jelas kehidupan Kristiani jemaat Gereja perdana (Kis 2:42).
Misa adalah "kurban sajian yang tahir" yang dinubuatkan oleh nabi Maleakhi (Mal 1:11).
Misa Kudus adalah pemenuhan dari perintah Tuhan Yesus yang dinyatakan Yesus sendiri dalam Perjamuan Malam Terakhir (Luk 22:19).
Maka umat Katolik sering tercengang ketika ada pihak yang menyatakan bahwa Misa itu "penemuan abad ke empat" (seperti yang kubaca dalam sebuah traktat) atau Misa Kudus "tidak Alkitabiah". Tuduhan ini sungguh-sungguh absurd sehingga orang Katolik yang tidak siap menjawab tidak mengerti dari mana akan memberikan penjelasannya.
Ada banyak cara untuk memberikan jawaban-jawaban terhadap tuduhan tersebut, namun hampir semuanya dapat digolongkan kedua kelompok prinsip yang yang mudah sekali kita ingat :
1. Misa Kudus sarat dengan Kitab Suci.
2. Kitab Suci sarat dengan Misa Kudus.
KITAB SUCI DALAM MISA KUDUS
Mudah sekali untuk memahami mengapa umat Katolik menanggapi dengan perasaan tidak percaya diri ketika ada pihak yang menyatakan bahwa Misa Kudus itu tidak Alkitabiah. Pengalaman umat Katolik dalam Misa Kudus justru sungguh-sungguh berlawanan dengan tuduhan itu.
Realitas Misa Kudus lain sekali dengan apa yang dituduhkan itu.
Di dalam setiap Misa Kudus ada tiga bacaan Kitab Suci dalam perikop penuh, yang dipilih dari Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Gereja Katolik menyusun bacaan-bacaan khusus untuk setiap hari dalam suatu siklus tiga tahunan (tahun liturgi A, B, dan C). Dalam siklus tersebut, seorang Katolik yang menghadiri Misa Kudus setiap hari akan mendengarkan sebagian besar isi dari sebagian besar kitab-kitab dalam Alkitab. Orang Katolik yang menghadiri Misa Kudus pada hari Minggu dan hari hari raya (Natal, kenaikan Tuhan Yesus dan sebagainya) akan mendengarkan kutipan kutipan utama dari Kitab Suci yang berulang kali diwartakan.
Bacaan-bacaan pertama Misa pada umumnya diambil baik dari Perjanjian Lama maupun salah satu Kitab Perjanjian Baru di luar Injil, yaitu dari Kisah Para Rasul, Surat-surat, atau Kitab Wahyu. Sesudah bacaan pertama itu, jemaat membacakan atau melagukan salah satu Mazmur. Kemudian imam atau diakon membaca suatu perikop Injil. Pada hari raya tertentu, misalnya Minggu palma atau Malam Paskah, jemaat mendengarkan bacaan-bacaan yang lebih panjang dari biasanya, dari lebih banyak Kitab dari Kitab Suci.
Dan masih ada banyak lagi bagian dari Kitab Suci yang terkandung di dalam setiap Misa Kudus. Banyak doa-doa standard diambil dari halaman halaman Kitab Suci, misalnya :
Salam Pembukaan (Mat 28:19)
Salam apostolik (2Kor 13:14)
Amin (1Taw 16:36b)
Tuhan sertamu (Luk 1:28; 2Tes 3:16; Rut 2:4)
Tuhan, kasihilah kami (Mat 17:15; 20:31; Mzm 123:3
Kemuliaan kepada Bapa (Luk 2:14 dan ditambah dari Kitab Wahyu)
Alleluia (Wahyu 19:1-6; Tob 13:18)
Arahkanlah hati kepada... (Rat 3:41)
Kudus, kudus, kuduslah..(Why 4:8; Yes 6:3; Mrk 11:9-10 ; Mzm 118:26)
Doa Ekaristi (1Kor 11:23-26 ; Mat 26:26-28 ; Mrk 14:22-24 ; Luk 22:17-20)
Amin (meriah) (Wahyu 5:14)
Bapa Kami (Mat 6:9-13)
Damai sertamu (Yoh 14:27; 20:19)
Anak Domba Allah (Yoh 1:29; Why 5:6; dll)
Inilah Anak Domba Allah (Why 19:9)
Tuhan, saya tidak pantas... (Mat 8:8)
Pergilah dalam damai (Luk 7:50, 2Taw 25:3)
Syukur kepada Allah (2Kor 9:15).
Tambahan juga pada semua ini lagu-lagu nyanyian jemaat yang liriknya biasanya Alkitabiah, dan anda akan mendapatkan: pembacaan Kitab Suci selama satu jam. Misa Kudus sungguh-sungguh Alkitabiah.
Ya sungguh! Bahkan gerakan-gerakan dalam Misa pun Alkitabiah juga, demikian pula peralatan Misa dan pakaian Misa. Ibadat Katolik mengikuti dengan sangat ketat ibadat surgawi yang digambarkan dalam Kitab Wahyu. Ketika imam membuat tanda salib, imam sedang membuat meterai yang dilukiskan dalam Kitab Wahyu 7:3 dan Wahyu 14:1 dan dinubuatkan dalam Yeh 9:4. Ketika imam merentangkan tangannya, ia mengingatkan kita kepada Kisah Musa selama pertempuran Amalek (Kel 17:12), dan mengingatkan kita kepada tangan Yesus yang terentang di kayu salib. Pada akhir Misa Kudus, ketika imam merentangkan dan mengangkat kedua tangannya, ia melakukan apa yang dilakukan oleh imam-imam sejak bangsa Israel mengembara di padang gurun: "Harun mengangkat kedua tangannya atas bangsa itu, lalu memberkati mereka, kemudian turunlah ia, setelah mempersembahkan korban penghapus dosa, korban bakaran dan korban keselamatan." (Im 9:22)
Jemaat Kristiani perdana, misalnya Ignatius dari Antiokhia dan Tertullianus mengakui bahwa Gereja mendirikan altar-altarnya di dunia menyerupai altar di surga (Why 8:3). Busana imam menyerupai busana para pelayan ibadat di surga (Why 4:4). Dan bahkan di jaman lampu listrik ini, Gereja Katolik terus menggunakan lilin untuk melukiskan kaki dian yang diungkapkan dalam visi penglihatan surgawi yang paling hidup dari Kitab Suci (Why 1:12). Begitupula penggunaan dupa dalam ibadat (Why 5:8) dan piala (Why 16) serta bejana-bejana yang digunakan.
Jemaat berlutut, seperti yang dipraktikkan dalam Gereja Katolik Roma, merupakan praktik yang sangat alkitabiah. Dalam Perjanjian Baru, berlutut merupakan sikap tata gerak tubuh ibu-ibu, para penguasa, penderita kusta dan Yesus sendiri (Mat 8:2; 9:18; 15:25; Luk 22:41). Dengan asal usul seperti ini, sulit sekali untuk membantah bahwa tata gerak tubuh dalam Misa Kudus sungguh-sungguh Alkitabiah.
Sekalipun begitu, tetap saja ada yang nekat menentang tata gerak tubuh dalam Misa Kudus. Katanya praktik semacam itu hanya mengikuti Perjanjian Baru secara harfiah, bukan semangatnya, dan itu menjadi bukti ritualisme dan seremonialisme, bukan agama. Namun tuduhan seperti itu juga tidak benar. Ibadat Kristiani memang meliputi tata upacara ritual dan seremonial perayaan, namun Injil tidak melarang ritual dan perayaan seremonial. Dalam kenyataannya Perjanjian Baru melukiskan beberapa upacara ritual yang penting dan MEMERINTAHKAN umat Kristiani untuk melaksanakannya: baptis (Mat 28:19); Ekaristi (Luk 22:19), pengurapan orang sakit (Yak 5:14), pengakuan dosa (Yak 5:16) dan penahbisan imam (1Tim 4:14). Setia kepada Sabda Tuhan, Gereja Katolik terus melakukan semua ritual itu.
Namun praktik ini sama sekali bukan ritualisme dan seremonialisme. Suatu praktik menjadi -isme hanya jika orang melaksanakan sebagai suatu tujuan. Tetapi semua ritual tersebut bukanlah tujuan. Tuhan sendiri yang memerintahkan dan menyelenggarakan itu bagi kebaikan kita, dan ditata dalam perintah dan aturan untuk ibadat bagi Nya.
-Scott Hahn, Reasons to Believe :How to Understand, Explain and Defend the Catholic Faith-
Selamat Hari Minggu Biasa XVI, Hari Tuhan dan Selamat Merayakan Sakramen Ekaristi Maha Kudus saudara-saudaraku. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
*
RenHar. Minggu, 17 Juli 2016.
MENDENGAR SABDA TUHAN DAN MELAYANI TUHAN.

No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.