MINGGU, 22 NOVEMBER 2015
Dan 7:13-14 |
Mzm 93:1-2.5 |
Why 1:5-8 |
Yoh 18:33b-37
Seperti yang kaukatakan, Aku adalah raja.
Disalin dari buku Berjalan Bersama SANG SABDA, Refleksi Harian Kitab Suci 2015 -Provinsi SVD Jawa
Menutup tahun liturgi, kita bersukacita pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Kita langsung dihantar ke ingatan akan kekuasaan Kristus atas dunia, manusia dan seluruh semesta raya. Ia mengadili yang baik dan yang jahat, menentukan siapa yang boleh dan siapa yang tak boleh masuk ke dalam Kerajaan Kekal (Mat 25:31-33).
Gambaran itu dramatis dan menggentarkan, namun hakekat sebagai raja pada diri Yesus Kristus justru terletak pada "kemuliaan" salib yang membuahkan keselamatan bangsa manusia.
Di depan pengadilan Pilatus, Yesus menegaskan diriNya adalah raja yang memang diutus ke dunia untuk tujuan tersebut (Yoh 18:37).
Hakekat ini mengingatkan kita akan ucapan Yesus dalam dialog dengan Nikodemus. "Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal", kata Yesus (Yoh 3:14-15).
Inilah sesungguhnya dimensi utama dari hakekat Yesus sebagai raja. Kemuliaan itu menjadi sumber harapan bagi umat yang tenggelam dalam kuasa dosa.
Kristus adalah raja. Namun Ia telah memberi kesaksian, "KerajaanKu bukan dari dunia ini. Jika kerajaanKu dari dunia ini, pastilah hamba-hambaKu sudah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi KerajaanKu bukan dari sini" (Yoh 18:36).
Kerajaan itu menyerap ke dalam sanubari manusia dan dengan diam-diam bertumbuh dalam aneka bentuk, seperti yang dijabarkan Kristus dalam aneka perumpamaan yang membawa pencerahan.
Kerajaan Allah itu laksana benih yang bertumbuh, atau ragi yang melebur dalam adonan, harta terpendam atau mutiara berharga, dan sebagainya. Lemah tampilannya, namun kekal kuasanya, bahkan berkuasa atas raja-raja di bumi.
Sejarah kemudian membuktikan, Kristus menaklukan suku demi suku, kerajaan demi kerajaan, budaya demi budaya, bahasa demi bahasa, bukan dengan kekerasan senjata tetapi dengan kekuatan cinta.
Sang Raja yang kita hormati memanggil kita. Kita pun perlu menjadi prajurit penegak panji keselamatan, bukan dengan senjata yang bisa menumpahkan darah, tetapi dengan cinta yang memberi hidup. Tuhan sendiri sudah menumpahkan darah demi keselamatan kita, kewajiban kita menyelamatkan umat manusia dari kelobaan kegelapan yang haus darah. Jayalah Kristus, jayalah Rajaku, jayalah imanku. (ap)
***
..."Jangan Menunggu":...
Janganlah menunggu hari istimewa...baru memakai barang yg bagus.
Kepcala Rumah Sakit LinBingWen meninggal dunia karena infeksi pada usia 61tahun. Kematiannya yg tiba2 mengagetkan rekan2 medis, dia boleh dibilang masih cukup muda.
Kehidupan sungguh amat rentan, hidup mati adalah kehendak yg di atas tidak bisa dicegah, bahkan SteveJob (Apple) menghadapi sakit dan mati juga tidak berdaya.
Bbrp tahun yg lalu, seorang istri teman baru saja meninggal. Dia bilang: "Ketika aku sdg beres2 barang2 istriku, kutemukan sebuah scharf sutera, yg kami beli di sebuah toko mewah di NewYork dalam suatu tour kami."
Itu adalah sebuah scarf yg cantik, anggun dan bermerk. Bahkan harganya msh tertera di sana, istrinya terlalu sayang utk memakainya, dia selalu menunggu suatu hari yg istimewa utk memakainya."
Sampai di sini, dia diam, dan sebentar melanjutkan: "Sudahlah. Jangan menunggu hari yg istimewa, baru memakai barangmu yg bagus. Setiap hari dalam kehidupanmu adalah istimewa"
Kini, setiap teringat akan kata2 itu, aku akan meletakkan tugas2ku, cari bacaan ringan atau memutar musik2 indah, berbaring santai di sofa, menikmati waktu yg benar2 milikku.
Aku akan menikmati air sungai yg tampak dari jendela rumahku, tanpa peduli adanya debu di kaca jendela, aku akan mengajak orang2 di rumah makan di luar.
Kehidupan seharusnya adalah perjalanan pengalaman2 yg mesti disayang/dinikmati, dan bukannya hari2 yg pahit/susah hanya utk mempertahankan hari2 yg telah lewat.
Aku pernah berbagi perbincangan ini dgn seorang wanita. Dan ketika bertemu lagi dgn dia, dia bilang bahwa skrg dia sdh tdk spt dulu lagi, menyimpan gelas2 keramiknya di dalam lemari anggurnya.
Dulu dia mengira akan menggunakannya pada hari yg istimewa, akhirnya dia menyadari hari itu tidak pernah datang.
"Kelak/nanti", "Suatu saat nanti" sdh tidak ada lagi di kamusnya. Kalau ada hal yg menggembirakan, kalau ada hal yg memuaskan, dia akan berusaha mengalaminya sekarang dan mendengarkannya segera.
Kita sering ingin berkumpul dgn teman2, tapi selalu berdalih "cari kesempatan". Kita sering ingin memeluk anak2 yg mulai besar, tapi selalu menunggu kesempatan yg tepat.
Kita mungkin ingin menulis sesuatu buat belahan jiwa, betapa kita menyayanginya, betapa kita mengaguminya, tetapi selalu bilang dgn diri sendiri tidak buru2.
Sebenarnya setiap pagi kita membuka mata, ini adalah hari yg istimewa. Setiap hari, setiap menit adalah sangat berharga.
1. Janganlah selalu bekerja dalam kondisi tertekan, akan merusak/melelahkan diri !
2. Jangan lupa bahwa tubuh kita adalah segalanya, bila tidak sehat, tidak akan bisa menikmati semua kenikmatan dan keindahan kehidupan ini.
3. Jangan berpikir bahwa yg bisa menolong hidupmu adalah dokter, sebetulnya adalah dirimu sendiri, menjaga kesehatan adalah lebih penting daripada menyelamatkan nyawa.
4. Jangan berpikir bahwa setiap pemberian selalu harus ada imbalannya; sebenarnya hanya karena tidak mengharapkan imbalan, maka akan beroleh imbalan yg baik.
5. Jangan meremehkan orang2 yg berjodoh denganmu, karena ketika masa2 itu lewat, barulah menyadari betapa kesempatan itu sulit sekali dijumpai.
Bekerjalah dengan wajar dan alamiah ! Pelan2 menikmati perjalanan kehidupan, nikmati setiap hari dari kehidupan ini dgn gembira !
Setelah melihat tulisan pendek ini, berbagikan buat keluarga dan teman2
Mungkin bisa mengubah banyak orang 😇
***

No comments:
Post a Comment
Do U have another idea ?
LET'S SHARE 2 US.