Monday, February 25, 2013

REN" Senin, 25 Februari 2013. Mengakui Kesalahan Merasa Bebas. Aku Pas-pasan.

RENUNGAN PAGI
Senin, 25 Febuari 2013

Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa
(Lukas 15:18b-19)

Film "Flight" mengisahkan Denzel Washington yang berperan sebagai pilot, kecanduan alkohol dan berujung pada kecelakaan pesawat yang dikemudikannya

Dengan kelihaian pengacaranya dia sebenarnya bisa lolos dari jerat hukum, namun dia memilih untuk mengakui kesalahan dan akhirnya dipenjara, satu hal yang dia katakan adalah:
dia tidak mau berbohong lagi, dia mengakui kesalahannya dan dia merasa bebas walaupun dipenjara

Mengaku salah bukanlah hal yang mudah, bisa amat menyakitkan, seringkali perlu pergumulan

Semakin tinggi status kita, semakin sulit

Menyadari kesalahan adalah satu hal, tetapi mengakuinya adalah soal lain


Pengakuan itu menuntut kerendahan hati sekaligus keberanian yang luar biasa

Selain itu ada konsekuensi yang seringkali kita harus alami ketika kita berani mengakui kesalahan, Denzel Washington dalam film itu, dipenjara, karena mengakui kesalahannya, padahal kalau dia tidak mengakuinya, dia bisa bebas dari tuntutan, ini yang dia tidak mau, "bebas tetapi terkurung"

Demikian juga bila kita tidak mau mengakui kesalahan atau dosa kita, maka dosa itu akan terus membelit hidup kita, dosa itu akan terus mengejar dan menghantui kita, kita dibuat tidak sejahtera, sampai kita bisa melepaskannya yaitu dengan mengakuinya

Alkitab berkata:
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan"

Alkitab mencatat tokoh tokoh besar yang berani mengakui kesalahan atau dosanya

Daud pada waktu ditegur oleh nabi Natan berkata,
"aku sudah berdosa kepada Tuhan"

Petrus pernah mengatakan;
"Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa"

Memang manusia tidak luput dari kesalahan, tetapi kita perlu menyadarinya dan mengakuinya

Tuhan Yesus memberkati
______________

Bacaan dari kitab Daniel.
= Dan 9:4b-10 =

[Maka aku (Daniel) memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian:]
"Ah Tuhan,
Allah yang maha besar dan dahsyat,
yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!
Kami telah berbuat dosa dan salah,
kami telah berlaku fasik dan telah memberontak,
kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu
dan
kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.

Ya Tuhan,
Engkaulah yang benar,
tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini,
kami orang-orang Yehuda,
penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel,
mereka yang dekat dan mereka yang jauh,
di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.

Ya TUHAN,
kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu,
sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.

Pada Tuhan,
Allah kami,
ada kesayangan dan keampunan,
walaupun kami telah memberontak terhadap Dia,
dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami,
yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya...
_______________

Inilah Injil Yesus Kristus menurut St. Lukas.
= Luk 6:36-38 =

[Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata:]

"... Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

"Janganlah kamu menghakimi,
maka kamupun tidak akan dihakimi.
Dan janganlah kamu menghukum,
maka kamupun tidak akan dihukum;
ampunilah
dan kamu akan diampuni.
Berilah
dan kamu akan diberi:
suatu takaran yang baik, yang dipadatkan,
yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu.
Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
________________

Aku ditakdirkan sebagai perempuan pas-pasan.
Wajah pas-pasan,
keuangan pas-pasan,
otak pas-pasan.
Semuanya.

Keadaan inilah yang membuatku memulai kebohongan.

Aku tak ingat persis apa bohong pertamaku.
Yang jelas aku selalu berkoar pada teman-teman SD ku kalau aku lebih dari mereka.
Aku bisa saja diberi uang jajan puluhan ribu setiap harinya, tetapi ibuku takut aku dirampok.
Konyol memang.
Padahal aku tak diberi uang jajan, karena ibu ingin aku disiplin mengatur keuangan.

Saat aku menduduki kelas lanjutan.
Kebohonganku sampai menjadi-jadi.
Apalagi saat melihat teman-temanku sudah mulai berpacaran.
Aku sampai bela-belain menulis sebuah surat yang hurufnya acak-acakan, lalu aku taruh di kolong mejaku.
Esok harinya aku pura-pura memeriksa, lalu memberitahukan teman sebangkuku, kalau ada pria yang diam-diam menjadi pemujaku.
Luar biasa memang kepura-puraanku.
Akulah aktris papan atas yang mampu mengelabui semua orang.
Hingga sekolah lanjutan pertama, belum ada satupun yang mencapku pendusta.
Aku mahir menyembunyikan bau busuknya.

Hingga aku duduk di sekolah lanjutan tingkat atas.
Aku mulai mengenal brand-brand mahal.
Ingin rasanya mempunyai barang-barang yang mahal, handphone dan membawa mobil kesekolah, minimal diantar motor oleh teman lelaki.
Tidak. Aku harus puas naik angkot dan ngiler saat teman-temanku semuanya memiliki telepon genggam.

Tak kurang akal, aku membawa handphone ayahku saat beliau hendak mandi pagi.
Karena aku pergi lebih dulu ke sekolah, aksiku berjalan mulus.
Setibanya disekolah, aku mengeluarkan handphone ayah yang lumayan model terkini.
Teman-temanku pun berebutan ingin melihatnya.
Aku jadi bangga.
Seketika mulai sifat bohongku,
"Aku juga punya beberapa mobil di rumah. Tapi aku takut menyetir, aku sering berebut supir sama ayah," tuturku senang sembari melihat ekspresi kagum teman-temanku.
Saat itu juga teman-teman ingin bermain ke rumahku.
Aku langsung pucat pasi. Wah, nanti bakal ketahuan bohongku.
Aku berkilah bahwa kedua orangtuaku sedang keluar negeri, jadi aku dititipkan ke rumah saudaraku.
Selamat, akhirnya mereka mengurungkan niat. Lega, pikirku.

Ternyata tak selamanya wajah pas-pasanku tidak menarik.
Buktinya, ada seorang kakak kelas bernama Andri, menyatakan rasa sukanya kepadaku.
Aku pun tertarik padanya.
Beberapa hari kemudian, kami jadian.
Beberapa minggu jalan sama Andri, aku belum berani membawanya kerumah.
Bukannya apa-apa, Andri terlanjur mendengar bahwa aku anak orang kaya raya.
Duh, ingin rasanya berterus terang padanya bahwa aku hanyalah perempuan biasa.
Seketika aku berpikir, kenapa tidak?
Dia kan kekasihku.
Harusnya dia menerimaku apa adanya.
Aku segera mencarinya.
Oh, itu dia disana, sedang bersama teman-temannya.

Namun aku seperti disambar petir takkala salah satu karibnya berkata,
"Oh, ini cewek lu.
Asal lu tau, Ndri.
Cewek lu tuh tukang tipu.
Sok sok anak orang kaya.
Beli bedak aja dia gak mampu.
Sok gak mau jajan di kantin karena gak higienis, itu karena dia gak dikasih jajan sama ortunya.
Dia tuh miskin.
Sekolah disini juga udah untung.
Gue tahu dia, ndri.
Dia tuh tetangganya sepupu gue.
Sepupu gue yang cerita.
Cewek kayak gini aja lu bela-belain.
Kebangetan!"

Akhirnya semua kebohonganku terbongkar.
Andri hanya menatapku dengan pandangan kosong.
Sejenak bulir-bulir air mataku berjatuhan.
Tiba-tiba Andri berteriak,
"Apa yang kamu tangiskan?!
Telah menyesal berbohong padaku atau karena kebohonganmu terbongkar?!"

Aku tak sanggup berkata lagi. Aku hanya berlari sekuat-kuatnya.
Aku ingin pulang ke rumah dan tak ingin balik ke sekolah ini lagi.
Karena esok pasti sudah tersebar siapa diriku sebenarnya.
Tetapi kedua orangtuaku memaksa aku sekolah.
Mau tak mau aku menceritakan apa yang terjadi, mereka hanya mengelus dada.
Mereka hanya berkata bahwa aku harus menghadapi setiap kesalahanku, jangan lari menjadi pengecut.
Ibu dan ayahku benar.
Aku harus menghadapinya.

Aku melangkah ke sekolah dengan sedikit lemas.
Benar saja, baru masuk pintu gerbang, aku sudah disindir oleh Margaretha, salah satu anak terkaya di sekolahan.
"Aduh, susah ya mau jadi orang kaya aja kudu bohong. Amit-amit, deh,"
Menyakitkan memang, tapi aku harus menelannya.
Aku tak peduli.
Aku ingin segera lulus dari sekolah ini.
Bertemu dengan orang-orang baru dan memulai semuanya dari awal yang jauh dari kebohongan.

Akhirnya aku mampu lulus dengan baik dan diterima di salah satu kampus terbaik di negeri ini.
Aku bangga sekali.
Meski aku anak dari orang sederhana, namun bisa menembus UMPTN dan menjadi mahasiswa di kampus terbaik yang diidam-idamkan setiap orang.
Sejenak aku berpikir, aku tak perlu berbohong untuk menjadi superior.
Aku bisa menjadi outstanding dengan caraku sendiri.
Dan aku bahagia kini.
Tanpa kebohongan lagi.
[Vivi Tan / Jakarta]
________________


God Bless All of You.

















































No comments:

Post a Comment

Do U have another idea ?


LET'S SHARE 2 US.